Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Malang Raya Aksi Damai, Ini Tuntutannya

17 April 2021 03:13
Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Malang Raya Aksi Damai, Ini Tuntutannya
Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Malang Raya gelar aksi solidaritas menolak Malang dijadikan sebagai tempat separatis, berlangsung di area Stadion Gajayana Malang Jalan Tangkuban Prahu Kota Malang, Jawa Timur. (Adhitya Wijaya/Trans89.com)
.

MALANG, TRANS89.COM – Sejumlah massa tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Malang Raya gelar aksi solidaritas masyarakat Malang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Aksi dipimpin Satria dan Imam dalam rangka menolak Malang dijadikan sebagai tempat separatis, berlangsung di area Stadion Gajayana Malang Jalan Tangkuban Prahu Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), Selasa (13/4/2021).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, #masyarakat Malang mendukung NKRI, #masyarakat Malang menolak wilayah Malang dijadikan tempat aksi separatis. #Mari kita sambut Bulan Suci Ramadhan dengan kedamaian. #Jangan ganggu Bulan Suci Ramadhan dengan gerakan separatis dan radikalisme. Menolak aksi separatis yang merusak persatuan NKRI dan NKRI harga mati Indonesia maju.

Orasi Satria mengatakan, di usia yang tak muda lagi terhitung dari tahun 1945 pasca kemerdekaan bangsa Indonesia dan usia Kota Malang yang sudah melewati usia 1 abad ini, bangsa sering kali di benturkan dengan perpecahan antar golongan maupun kelompok yang berada di Indonesia.

“Gerakan-gerakan separatis yang tidak sedikit memakan jumlah korban jiwa, sehingga sampai saat ini menyimpan luka dan trauma tersendiri bagi korban dan bangsa ini,” kata Satria.

Menurut dia, tragedi yang terjadi dari pecahnya konflik Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, Jawa Timur, dan gerakan PKO pada tanggal 30 September 1965 sampai pada gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), dapat kita saksikan secara bersama bahwa gerakan separatis yang diduga untuk menghancurkan keutuhan bangsa dan negara ini masih ada dan sangat kuat hingga sampai saat ini.

“Dari deretan peristiwa tragedi dari masa ke masa yang terjadi, maka kami Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Malang Raya dapat memastikan masih marak dan banyaknya gerakan pemecah belah NKRI,” tutur Satria.

Ia menyatakan, sudah saatnya semua elemen bersatu untuk melenyapkan segala bentuk tindakan separatis demi terwujudnya Indonesia berdaulat dan damai dalam kemakmuran.

“Peran pemuda dan masyarakat sebagai generasi penerus tongkat estafet perjuangan bangsa pada hal ini tidak tinggal diam dan saling bergandengan tangan membantu tugas pemerintah untuk menjaga keutuhan bangsa,” ujar Satria.

Dirinya menjelaskan, penanaman ideologi kebangsaan sangatlah penting yang harus dilakukan oleh semua pihak, karena berbicara terkait pengabdian dan upaya pencegahan terjadinya gerakan separatisme itu bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tugas kita bersama sebagai anak bangsa untuk menjaga keutuhannya.

“Indonesia pada umumnya dan Kota Malang pada khususnya harus menjadi patron perubahan dan penggerak kedamaian bangsa maupun dunia dengan langkah-langkah dan pendekatan di setiap aspek kehidupan bernegara,” jelas Satria.

Satria mengungkapkan, Indonesia memiliki Pancasila untuk meredam semua gerakan separatis yang terjadi tiada henti, revolusi paham dan mental harus segera dilakukan mengingat Indonesia sendiri terdiri dari banyaknya ras, suku, budaya dan agama.

“Kami masyarakat Malang mengajak kepada seluruh elemen warga Indonesia yang berada di bumi Arema hari ini untuk menjaga keamanan dan kenyamanan dari gerakan separatis yang sering terjad di Malang, hal ini dirasa penting untuk kemajuan dan kedamaian bangsa,” ungkapnya.

Kata Satria, dengan bahasa yang sangat sederhana melalui pembangunan internal dan pengakuan kedaulatan disetiap aspek wilayah. Dan sudah menjadi fakta bersama bahwa kekokohan suatu negara itu akan tercapai apabila memiliki ketahanan ekonomi yang kuat.

“Identitas nasional dalam konteks bangsa cenderung mengacu pada wilayah kebudayaan atau karakter ciri khas wilayah. Sedangkan identitas nasional dalam konteks negara tercermin dalam simbol kenegaraan,” katanya.

Ia menerangkan, kedua unsur identitas ini secara nyata terangkum dalam tubuh Pancasila, dengan demikian merupakan identitas nasional kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Permasalahan sekarang adalah terletak pada lemahnya komitmen nilai-nilai dasar yang berujung pada masalah bangsa. Demi menjaga kondusifitas Indonesia dan Kota Malang, kami Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Malang Raya menolak dengan adanya gerakan separatis yang sering terjadi pade hari ini di Indonesia dan Kota Malang pada khususnya,” terang Satria.

Oleh karenanya, kata Satria, sudah saatnya kita melakukan koreksi disegala aspek berkewarganegaraan, tidak dengan menghentikan proses reformasi dan revolusi yang sedang berjalan, akan tetapi dengan mencanangkan revolusi mental untuk menciptakan paradigma, budaya politik dan pendekatan nation building.

“Dalam pokok bahasan bela negara dan identitas nasional adalah melalui revolusi mental. Mengingat konsep Trisakti yang pernah diutarakan Bung Karno dalam pidatonya pada tahun 1963, Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi, dan Indonesia yang berkepribadian secara kebudayaan,” katanya.

Sambung Satria, revolusi mental Bung Karno dinarasikan merupakan satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.

“Dengan demikian semua unsur itu akan dapat terwujud apabila kita semua memiliki rasa kepedulian dan kepemilikan untuk sama-sama merawat dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia tercinta ini. Kami pemuda dan masyarakat Malang menegaskan menolak adanya gerakan separatis yang dilakukan di Kota Malang tercinta ini,” imbuhnya. (Adhitya/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya