Forum Komunikasi Masyarakat Wasuponda di Luwu Timur Unjuk Rasa, Ini Tuntutannya

09 April 2021 01:15
Forum Komunikasi Masyarakat Wasuponda di Luwu Timur Unjuk Rasa, Ini Tuntutannya
Massa tergabung dalam FKWM unjuk rasa menolak perlakuan sistem penerimaan tenaga kerja yang tidak transparan oleh PT Wika, berlangsung di pertigaan Tugu Nanas Desa Ledu-ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. (Rangga Sela/Trans89.com)
.

LUWU TIMUR, TRANS89.COM – Sejumlah massa tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Wasuponda (FKWM) unjuk rasa menolak perlakuan sistem penerimaan tenaga kerja yang tidak transparan oleh PT Wijaya Karya (Wika).

Aksi dipimpin Amrul dan Rigel berlangsung di pertigaan Tugu Nanas Desa Ledu-ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (6/4/2021).

Massa aksi membawa spanduk bertuliskan, masyarakat butuh pemerintah yang adil dalam perekrutan tenaga kerja UU nomor 9 tahun 1998, tentang kemerdekaan penyampaian pendapat di muka umum. Kembalikan hak-hak masyarakat.

Orasi Amrul mengatakan, salah satu visi misi PT Vale dengan ppemberdayaan masyarakat lokal, namun banyak realita mengatakan banyak pekerja dari luar tambang sehingga masyarakat lokal tinggal menjadi penonton.

“Kami dari FKMW menjadi perwakilan masyarakat merasa tidak adanya keadilan yang di berikan oleh PT Wika dalam perekrutan tenaga kerja dan informasi yang akurat. Ada 4 wilayah lokal masyarakat, Wasuponda, Wawondulla, Soroako, Malili. Wasuponda yang tertinggal dan tersudutkan, derikan hak kami,” kata Amrul.

Menurut dia, masyarakat tidak bekerja, semua kehidupan akan membusuk, tetapi ketika bekerja tanpa jiwa maka kehidupan akan tercekik dan mati.

“Undang-Undang (UU) 1945, pasal 27 ayat 2 tentang hak asasi manusia (HAM), tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kehidupan,” tutur Amrul.

Ia menyatakan, disini banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya kejenjang yang lebih tinggi sehingga memperoleh kehidupan yang layak.

“Mungkin mereka mengatakan akan memberikan presentasi dari nama-nama pekerja yang di terima, namun hingga detik ini hal tersebut belum juga ada,” ujar Amrul.

Dirinya menolak penerimaan pekerja secara online, mulai dari prosedur sampai interview tidak jelas.

“Kami datang kesini untuk menuntuk keadilan, kami muak dengan tingkah laku para petinggi yang merusak moral, etika, dan bendera merah putih, bahkan telah menginjak injak harga diri kami,” tegas Amrul.

Amrul menjelaskan, kami datang bukan untuk membuat kekacauan, tetapi kami datang dalam aksi damai sebagai bentuk perlawanan ketidakadilan pemerintah di negara ini.

“Jangan kita gentar berdiri di barisan paling depan untuk melawan apapun bentuk penindasan di tempat kita ini, karena sudah terlalu lama ketidakadilan menimpa wilayah kita ini,” jelasnya.

Sekedar diketahui, penerimaan tenaga kerja tahap pertama PT Wika tenaga ahli yang memiliki skil sebanyak 31 orang. Rencananya, massa akan melanjutkan aksinya dalam jumlah yang lebih besar dan mengancam akan menahan mobil perusahaan PT Vale Indonesia.

Aksi tersebut akan terus di lakukan sampai tuntutan massa aksi di penuhi pihak PT Wika. Dan menunggu keputusan dari pihak PT Wika untuk di laksanakannya pertemuan atau mediasi. (Rangga/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya