Kapolri Cabut Telegram Larangan Media Siarkan Arogansi Oknum Polisi

07 April 2021 03:48
Kapolri Cabut Telegram Larangan Media Siarkan Arogansi Oknum Polisi
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. (Dok. Divisi Humas Polri)
.

JAKARTA, TRANS89.COM – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo langsung bergerak cepat mencabut telegram nomor ST/750/IV/HUM.3.4.5./2021, tanggal 5 April 2021, terkait larangan menyiarkan tindakan arogansi aparat kepolisian. Langkah itu dilakukan setelah mendengar dan menyerap aspirasi dari kelompok masyarakat.

Kapolri Sigit menjelaskan niat dan semangat awal dari dibikinnya surat telegram tersebut.

“Saya meminta agar jajaran kepolisian tidak bertindak arogan atau menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku,” kata Sigit dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Oleh sebab itu, ia menginstruksikan agar seluruh personel kepolisian tetap bertindak tegas tapi juga mengedepankan sisi humanis dalam menegakan hukum di masyarakat.

“Arahan saya ingin Polri bisa tampil tegas namun humanis, dimana kami lihat ditayangan media masih banyak terlihat tampilan anggota yang arogan. Oleh karenanya, tolong anggota untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dilapangan,” kata Sigit.

Sigit menekankan gerak-gerik perilaku anggota kepolisian selalu disorot oleh masyarakat. Sebab itu, ia mengingatkan satu perbuatan arogan oknum polisi dapat merusak citra Polri yang saat ini sedang berusaha menuju untuk lebih baik dan profesional.

“Karena semua perilaku anggota pasti akan disorot, karena sampai ada beberapa perbuatan oknum yang arogan, merusak satu institusi,” tegas Sigit.

Karena itu, dirinya meminta agar membuat arahan, agar anggota lebih hati-hati saat tampil dilapangan, jangan suka pamer tindakan yang kebablasan dan malah jadi terlihat arogan.

“Masih sering terlihat anggota tampil arogan dalamm siaran liputan di media, hal-hal seperti itu agar diperbaiki, sehingga tampilan anggota semakin terlihat baik, tegas namun humanis,” pinta Sigit.

Sigit menyatakan, dalam telegram yang sempat muncul tadi ternyata menimbulkan perbedaan penafsiran dengan awak media atau insan pers.

“Kesalahan persepsi dalam hal ini bukanlah media melarang meliput arogansi polisi dilapangan,” ujarnya.

Namun, kata Sigit, semangat sebenarnya dari telegram itu adalah pribadi dari personel kepolisian itu sendiri yang tidak boleh bertindak arogan.

“Jadi dalam kesempatan ini saya luruskan, anggotanya yang saya minta untuk memperbaiki diri untuk tidak tampil arogan, namun memperbaiki diri sehingga tampil tegas, namun tetap terlihat humanis,” katanya.

Sigit mengungkapkan, kami bukan melarang media untuk tidak boleh merekam atau mengambil gambar anggota yang arogan atau melakukan pelanggaran.

“Sampai dengan saat ini, internal Korps Bhayangkara masih memerlukan kritik dan saran dari seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Masih kata Sigit, sehingga peran media sebagai salah satu pilar demokrasi akan tetap di hormati oleh Polri.

“Dengan kerendahan hati, saya menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat karena lahirnya perbedaan persepsi terkait dengan telegram tersebut,” katanya.

Sigit menyampaikan, karena kami Polri juga butuh masukan dan koreksi dari ekternal untuk bisa memperbaiki kekurangan kami.

“Oleh karena itu, saya sudah perintahkan Kadiv Humas untuk mencabut STR tersebut,” paparnya.

Lanjut Kapolri, dan sekali lagi mohon maaf atas terjadinya salah penafsiran yang membuat ketidaknyamanan teman-teman media.

“Sekali lagi, kami selalu butuh koreksi dari teman-teman media dan eksternal untuk perbaikan insititusi Polri, agar bisa jadi lebih baik,” imbuhnya. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya