Dialog Kebangsaan Merajut Keharmonisan Dengan Menepis Paham Radikalisme dan Terorisme di Pasangkayu

07 April 2021 04:19
Dialog Kebangsaan Merajut Keharmonisan Dengan Menepis Paham Radikalisme dan Terorisme di Pasangkayu
HIPERPPAS gelar dialog kebangsaan dengan tajuk, 'merajut keharmonisan dengan menepis paham radikalisme dan terorisme mulai sejak dini', berlangsung di Warkop Djapos Jalan Ir Soekarno Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. (Uchon/Trans89.com)
.

PASANGKAYU, TRANS89.COM – Himpunan Pergerakan Pemuda Pasangkayu (HIPERPPAS) gelar dialog kebangsaan dengan tajuk, ‘merajut keharmonisan dengan menepis paham radikalisme dan terorisme mulai sejak dini’, berlangsung di Warkop Djapos Jalan Ir Soekarno Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (6/4/2021) malam.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pasangkayu Maslim Halimin, Kasat Binmas Polres Pasangkayu AKP Sukaryono, Batih Staf Intel Kodim 1427 Pasangkayu Serma I Ketut Juli Darmawan, Ketua KNPI Pasangkayu Arpandi Yaumil Ambo Djiwa, Akademisi Fathu Khairuddin, Ketua Hiperppas Ahmad Ramadhan.

AKP Sukaryono mengatakan, di Kabupaten Pasangkayu berpotensi masuk paham radikal karena di apit oleh dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Tengah (Sulsel).

“Tidak menutup kemungkinan singgah (paham radikal) di daerah Kabupaten Pasangkayu ini, maka dari itu kita mulai dari sekarang untuk cegah dini dan deteksi dini secara bersama-sama,” kata Sukaryono.

Menurut dia, radikalisme itu adalah paham yang ingin merubah idiologi Pancasila dan ingin mendirikan negara Islam.

“Ini sangat bertentangan dengan negara Indonesia yang beridiologikan Pancasila,” tutur Sukaryono.

Serma I Ketut Juli Darmawan mengajak mari kita manfaatkan momen dialog kebangsaan ini, dan sebagai generasi muda harus bisa mengetahui bahaya paham terorisme supaya tidak terpapar dengan paham radikalisme.

“Hal itu agar tidak gampang terpengaruh dengan bujukan atau paham yang dibungkus agama yang akhirnya akan menyesatkan dan merugikan diri kita sendiri,” urai Juli.

Ia berharap, kami dari pihak keamanan mengajak seluruh lapisan masyarakat terutama kepada organisasi-organisasi kepemudaan mari kita bersama-sama menjaga daerah kita.

“Hal itu tak lain supaya damai dan bisa hidup secara berdampingan serta jauh dari paham-paham yang bertentangan dengan idiologi Pancasila,” terang Juli.

Maslim Halimin menyatakan, selaku Ketua MUI bersyukur ada kegiatan seperti ini, karena masalah terorisme sangat serius yang harus sama-sama kita pecahkan disini, agar paham-paham seperti ini tidak tumbuh berkembang di wilayah Kabupaten Pasangkayu.

“MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa terorisme itu perbuatan yang di larang oleh agama. Mari kita menjaga kerukunan antar umat beragama, supaya kita bisa hidup berdampingan dengan sesama manusia,” ujar Maslim yang juga Ketua STAIN DDI Pasangkayu itu.

Dirinya menjelaskan, Islam datang sebagai agama yang Rahmatan Lilalamin, tidak dibenarkan oleh agama bahwa terorisme itu benar.

“Hal itu jelas dirumuskan dalam rumusan kenegaraan bagaimana agama itu sendiri, dan Islam mengajarkan bahwa seluruh persoalan duniawi adalah urusan manusia bukan urusan agama, tetapi agama cuman mengatur tata cara hidup yang baik dan benar menurut agama,” jelas Maslim.

Kat Maslim, negara adalah urusan yang bersifat duniawi, Tuhan lebih tahu dunia, maka sistem ketatanegaraan, sistem kebangsaan itu menjadi tanggung jawab masing-masing negara untuk menentukan menggunakan sistem apa di dalam negara.

“Maka tidak ada istilah demokrasi itu salah dan mengatakan bahwa daulah Islamiyah itu yang paling benar atau khilafah yang paling benar,” katanya.

Ia mengungkapkan, kalau kita bicara kebangsaan dan kenegaraan, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila sebagai sebuah negara demokrasi, Indonesia bukan negara Islam.

“Di Indonesia undang-undangnya menjamin keselamatan bagi setiap warga negaranya dalam menjalankan hak dan kewajiban agamanya tanpa diberikan tekanan atau intimidasi oleh negara,” ungkap Maslim.

Masih Maslim, kita ini bukan negara agama, membunuh orang maupun bunuh diri itu tidak benar.

“Terkecuali bagi orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat dan dalam agama itu disebut sebagai sebuah dosa besar,” terangnya.

Arpandi Yaumil Ambo Djiwa menyampaikan, organisasi-organisasi keagamaan ada banyak di daerah kita ini, tapi pemuda yang menjadi tiang utama dan sangat penting ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat dalam mencegah paham-paham radikalisme dan terorisme.

“Mari (pemuda) memperbanyak kegiatan yang positif di bidangnya masing-masing, Insya Allah itu akan menangkal paham radikalisme dan terorisme yang kemudian mencuci pemikiran-pemikiran dari paham-paham yang tidak benar,” papar Arpandi yang juga Wakil Ketua DPRD Pasangkayu ini.

Dirinya menyatakan, selama ini kegiatan kepemudaan sangat positif, jelas bagaimana mereka memikirkan kemajuan daerahnya, bagaimana kemudian mereka dengan teriakan bahwa pemerintah harus seperti ini, artinya mereka jauh dari paham-paham yang tidak jelas.

“Saya selaku Ketua KNPI sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini, supaya kita bisa menangkal paham-paham radikal dan terorisme seperti ini,” ujar Arpani.

Fathu Khairuddin mengatakan, ketika kita mengetahui batasan kita, pasti kita tidak akan masuk didalam sesuatu hal yang kita tidak ketahui, dan inilah orang-orang yang ber paham radikal.

“Saya tekankan disini, bahwa tidak pernah agama Islam membenarkan kegiatan terorisme dan radikalisme, karena membunuh itu dosa besar. Di Indonesia ini pemahaman radikal itu adalah orang yang tidak mengakui Pancasila, orang yang tidak mengakui NKRI dan tidak menerima perbedaan,” pungkasnya. (Uchon/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya