Bencana Banjir Bandang di Nusa Tenggara Timur Menyebabkan Korban Jiwa dan Kerugian Materi

07 April 2021 04:26
Bencana Banjir Bandang di Nusa Tenggara Timur Menyebabkan Korban Jiwa dan Kerugian Materi
Kondisi warga pengungsi pasca banjir bandang yang terjadi menyebabkan kerugian materi dan korban jiwa di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Tmur. (A Wisesa/Trans89.com)
.

ALOR, TRANS89.COM – Banjir bandang yang terjadi menyebabkan kerugian materi dan korban jiwa di Kabupaten Alor dan Flores Timur, Sumba Timur dan Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 128 orang meninggal dunia akibat dampak bencana banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi pada Minggu (4/4/2021) dini hari. Sebanyak 8.424 orang dari 2.019 keluarga mengungsi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati mengatakan secara rinci jumlah meninggal dunia yakni Kabupaten Lembata 67 orang, Flores Timur 49, dan Alor 12.

Jumlah pengungsian terbesar berada di Kabupaten Sumba Timur yakni 7.212 jiwa (1.803 KK), Lembata 958 orang, Rote Ndao 672 jiwa (153 KK), Sumba Barat 284 (63 KK) dan Flores Timur 256.

Adapun orang hilang mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21.

“Pemerintah daerah terus memutakhirkan data dari kaji cepat di lapangan. Warga yang mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT,” kata Raditya, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/4/2021).

Menurut dia, bencana dipengaruhi cuaca buruk berupa siklon tropis. Kondisi tersebut berdampak di delapan wilayah administrasi kabupaten dan kota antara lain Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao dan Alor.

BNPB turut mencatat kerugian materil yang diakibatkan cuaca ekstrem di NTT ini antara lain 1.962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS) dan 34 unit rumah rusak ringan (RR), sedangkan fasilitas umum (fasum) 14 unit RB, 1 RR dan 84 unit lain terdampak.

“Kerusakan tersebut dengan rincian di Kota Kupang 10 unit rumah rusak sedang dan 657 unit rumah terdampak. Kemudian di Kabupaten Flores Timur 82 unit rumah rusak berat, 34 unit rumah rusak ringan, 97 unit rumah terdampak dan delapan unit fasum rusak berat. Sementara di Kabupaten Malaka, 1.154 unit rumah terdampak dan 65 fasum terdampak. Di Kabupaten Ngada 4 unit rumah rusak berat, dua unit rumah rusak sedang dan satu fasum terdampak.” tutur Raditya.

Ia menjelaskan, Kabupaten Sumba Barat sebanyak 54 unit rumah terdampak. Di Kabupaten Sumba Timur tujuh fasum terdampak, di Kabupaten Rote Ndao 12 unit rumah rusak berat. Kemudian di Kabupaten Alor, 21 unit rumah rusak berat, 106 unit rumah rusak sedang, enam fasum rusak berat, satu fasumrusak ringan, dan 11 fasum terdampak.

“Cuaca ekstrem akibat siklon tropis Seroja masih berpotensi terjadi di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa hari ke depan,” jelas Raditya

Sebelumnya, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Josef Nae Soi mengungkapkan data terakhir yakni 84 warga meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor akibat cuaca ekstrem sejak Minggu (4/4) dini hari yang melanda sejumlah daerah di NTT.

Josef Nae Soi membenarkan bahwa jumlah itu merupakan data teranyar hasil identifikasi terhadap jenazah korban yang ditemukan di lokasi kejadian.

“Korban jiwa total seluruhnya 84 orang dan dalam pencarian yang masih tertimbun 71 orang,” kata Josef dalam konferensi pers yang digelar virtual.

Bencana tersebut diklaim merupakan imbas dua bibit siklon tropis yang berada tepat di wilayah NTT. Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur adalah satu dari banyak tempat yang terkena bencana dengan kerusakan dan korban jiwa paling parah.

“Secara keseluruhan, ada lima kabupaten dan satu kota yang berada di NTT terkena imbas cuaca buruk,” ujar Josef.

Pertama, kata Josef, wilayah yang terkena dampak adalah sejumlah desa dan kecamatan yang berada di Kabupaten Flores Timur. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada delapan desa di empat kecamatan yang disapu banjir bandang.

“Kedelapan desa tersebut yaitu Desa Nelemadike dan Nelemawangi (Kecamatan Ile Boleng). Kemudian, Desa Waiburak dan Kelurahan Waiwerang (Kecamatan Adonara Timur), Desa Oyang Barang dan Pandai (Kecamatan Wotan Ulu Mado), dan Desa Duwanur, Waiwadan dan Daniboa (Kecamatan Adonara Barat),” katanya.

Kedua, sambung Josef, yakni ada di Kabupaten Sumba Timur. Banjir terjadi di empat kecamatan yang ada di kabupaten ini, yaitu Kecamatan Kambera, Pandawai, Karera dan Wulawujelu. Ketiga yaitu Kota Kupang, yang merupakan ibu kota NTT juga dirundung bencana. Angin kencang disertai longsor, banjir rob, hingga gelombang pasang terjadi di wilayah ini.

“Daerah selanjutnya atau keempat berada di Kabupaten Lembata. Beberapa lokasi terdampak yaitu Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur yang termasuk di dalamnya Desa Waowala, Tanjung Batu, Amakala, Jontona, Lamawolo dan Waimatan,” terangnya.

Dirinya menyatakan, wilayah terakhir yang mengalami bencana di NTT yakni berada di Kabupaten Malaka Tengah dan Ngada. Sejumlah akses di wilayah ini terputus dan terjadi pemadaman listrik hingga internet.

“Selain korban jiwa, kerusakan yang belum terdata juga menjadi salah satu imbas akibat banjir bandang ini. Disebutkan ratusan rumah tenggelam dan hanyut terbawa arus, beberapa jembatan juga terputus hingga tak bisa digunakan,” ujar Josef.

Hal ini jugalah yang menyebabkan akses ke lokasi bencana cukup sulit dijangkau. Meski begitu, saat ini Kepala BNPB, Doni Monardo dan sejumlah tim dari lintas kementerian telah mendatangi NTT untuk melihat dan melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak banjir bandang tersebut. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya