PWNU Jateng Diskusi Bahas Vaksin Corona Jenis Astrazenica

18 March 2021 02:58
PWNU Jateng Diskusi Bahas Vaksin Corona Jenis Astrazenica
PWNU Provinsi Jateng gelar diskusi dan bahtsul mas’il terbatas membahas tentang vaksin corona jenis Astrazenica, berlangsung di kantor PWNU Jalan Dr Cipto, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Muhammad Husni Thamrin/Trans89.com)
.

SEMARANG, TRANS89.COM – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) gelar diskusi dan bahtsul mas’il terbatas membahas tentang vaksin corona jenis Astrazenica yang telah dibeli negara dengan triliunan rupiah, dimana vaksin Astrazenica sudah tiba di Indonensia.

Diskusi dan bahtsul mas’il terbatas dipimpin Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shadaqah berlangsung di kantor PWNU Jalan Dr Cipto, Kota Semarang, Jateng, Senin 1 Sya’ban 1442 Hijriyah atau 15 Maret 2021.

Hadir digiat tersebut, KH Halwani Nawawi, KH Dian Nafi, KH Mashum Abi Darda, KH Muhlis Hudaf, KH Hadlor Ihsan, KH Sholahudin Masruri, KH Abdur Rosyid, KH Hilmi Wafa Mahsuni, KH Nasrullah Affandi, KH Ahmad Imam Syaroni, KH Munif Abdul Muhid, KH Mohammad Muzamil, KH Hudalloh Ridwa, KH Kholison Syafii, Kiyai Zainal Amin.

Dalam diskusi dan bahtsul masil terbatas membahas vaksin jenis Astrazenica yang telah dibeli oleh negara dengan harga triliunan rupiah menggunakan anggaran negara, dan vaksin tersebut sudah berada di negara kita tetapi pendistribusiannya tersendat dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

“Penggunaannya masih menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena MUI adalah suatu organisasi yang sudah diakui oleh pemerintah serta dipercaya untuk dapat menyimpulkan serta memutuskan fatwa halal atau tidaknya namun sampai sekarang belum juga di terbitkan fatwa tersebut,” kata KH Ubaidullah.

Menurut dia, padahal seperti diketahui, bahwa vaksin Astrazenica dengan faidah mengatasi dan mencegah Covid-19, dan tidak ada bedanya dengan vaksin miningitis yang di suntikan pada calon jemaah haji (CJH) bahkan disinyalir lebih safety (aman) kandungannya.

“Jika dilihat secara medis, vaksin Astrazenica tentunya ada masa inkubasi atau kadaluarsanya,” tutur KH Ubaidullah.

Ia menyebutkan, jika tidak cepat diambil keputusan atau tidak cepat dipergunakan ditakutkan akan terjadi kadaluarsa yang akan membuat vaksin tersebut tentunya tidak akan ada manfaatnya atau mubazir.

“Saat ini, vaksin sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka mengantisipasi penularan wabah Covid 19, agar masyarakat terhindar dari Covid-19,” sebut KH Ubaidullah.

Dirinya menyatakan, PWNU Jateng memandang perlu melakukan pembahasan secara obyektif, independen, dan atas dasar tanggungjawab sosial keagamaan.

“Maka perlu memberikan kajian-kajian yang pada intinya memberikan dukungan terhadap pemerintah, namun dalam pelaksanaannya tetap mempedomani beberapa kriteria,” ujar KH Ubaidullah.

KH Ubaidullah mengungkapkan, vaksin yang boleh digunakan adalah yang memenuhi kriteria, yakni suci, terbukti aman, dan terbukti bermanfaat, dengan status atau kedudukan vaksinasi bagian dari ikhtiar lahir dalam mencegah dan menanggulangi Covid-19 sebagaimana bentuk-bentuk ikhtiar lainnya, serta memahami tanggungjawab pemerintah dalam melakukan program vaksinasi.

“Tata kelola vaksinasi harus menerapkan prinsi-prinsip profesionalisme, transparansi, amanah, menjamin kesehatan masyarakat, dan mengutamakan kemaslahatan bangsa Indonesia,” ungkapnya. (Husni/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya