Wakil Gubernur Sulbar Panen Raya Pilot Project Pemupukan Tepat Guna, Enny: Metode Ini Upaya Menekan Inflasi

17 March 2021 04:28
Wakil Gubernur Sulbar Panen Raya Pilot Project Pemupukan Tepat Guna, Enny: Metode Ini Upaya Menekan Inflasi
Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Enny Anggraeni Anwar bersama Kepala BI Perwakilan Sulbar, Budi Sudaryono panen raya pilot project pemupukan tepat guna padi milik Gapoktan Sipatuo Desa Indo Makkombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar. (Dok. Dinas Kominfopers Sulbar)
.

POLEWALI MANDAR, TRANS89.COM – Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Barat (Sulbar), Enny Anggraeni Anwar panen raya pilot project pemupukan tepat guna padi milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sipatuo Desa Indo Makkombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Selasa (16/3/2021).

“Metode pemupukan tepat guna yang telah dilakukan pada lahan pertanian (Gapoktan) Sipatuo ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja, melainkan akan terus berlangsung dan akan dilakukan replikasi di lahan pertanian lainnya,” kata Enny dalam keterangan tertulisnya.

Ia mengapresiasi terhadap kegiatan panen bersama dan pilot project pemupukan tepat guna padi Gapoktan Sipatuo yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Barat bekerja sama dengan PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim).

“Dengan adanya pemupukan yang tepat guna ini, maka hasil produktivitas padi yang dihasilkan akan semakin meningkat. Metode ini tentu dapat menjadi salah satu alternatif solusi sebagai upaya menekan inflasi dengan menjamin tersedianya pasokan beras,” ujar Enny mantan anggota DPR RI ini.

Menurut dia, salah satu komoditas pertanian yang terus mengalami peningkatan produksi adalah padi.

“Olehnya itu, dengan optimisme semakin berkembangnya perekonomian Sulawesi Barat ke depan, maka kebutuhan dan permintaan terhadap beras diproyeksikan akan turut meningkat,” tutur Enny yang juga Ketua PMI Sulbar.

Untuk itu, kata Enny, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, stakeholders terkait menjadi faktor penting.

“Namun demikian, hal ini juga membutuhkan penguatan dari sisi data neraca produksi dan konsumsi bahan pangan oleh OPD terkait sehingga seluruh upaya kita dapat berjalan dengan optimal,” kata Ketua FKPPI Sulbar itu.

Dirinya menyatakan, panen bersama tersebut merupakan wujud sinergi dan inovasi sebagai upaya menciptakan optimalisasi lahan pertanian, sehingga ke depan Sulawesi Barat mampu menjadi salah satu lumbung padi nasional yang dapat mendorong pemenuhan permintaan padi.

“Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, produksi padi setara beras pada tahun 2020 sebesar 319.166 ton, meningkat dibandingkan tahun 2019 yang menghasilkan sebesar 300.142 ton,” terang Enny.

Lanjut Wagub, hal ini menunjukan bahwa Sulawesi Barat memiliki potensi yang besar dalam komoditas beras, baik dari aspek konsumsi maupun aspek produksinya.

“Dari Desa Indo Makkombong ini, tentu kita jadikan contoh untuk selanjutnya dilakukan di desa-desa lain di semua kabupaten di Sulbar,” tegasnya.

Sementara Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulbar, Budi Sudaryono menyampaikan, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral memiliki tugas dan wewenang menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.

“Seperti yang telah kita ketahui bersama, beras sebagai bahan pangan utama di masyarakat memiliki pangsa yang besar terhadap pengeluaran di masyarakat. Akibatnya, apabila terjadi kenaikan harga beras sedikit saja di masyarakat, akan berdampak signifikan pada pencapaian inflasi di daerah,” papar Budi.

Mencermati kondisi tersebut, kata Budi, kami di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat turut berperan aktif dalam melakukan model pengembangan klaster padi.

“Gapoktan yang dibina oleh BI Sulbar sejak tahun 2016 ini, saat awal pembinaan, BI Sulbar fokus untuk meningkatkan produksi dan produktivitas klaster, antara lain melalui implementasi metode hazton,” katanya.

Ia menerangkan, metode hazton adalah metode tanam yang menggunakan bibit secara lebih banyak dan lebih tua yang membuat hasil tanam lebih tahan terhadap hama dan produktivitas yang lebih tinggi.

“Sebelumnya, produktivitas sebesar 4-5 ton/hektar (ha), namun setelah menerapkan metode hazton ini, produksi meningkat menjadi 9-10 ton/ha,” terang Budi.

Budi menyebutkan, melalui program dedikasi untuk negeri Bank Indonesia di tahun lalu, kami telah memberikan bantuan teknis berupa mesin rice transplanter hazton sebanyak 3 unit sebagai strategi intensifikasi pertanian metode tersebut.

“Pembinaan juga dilakukan dari sisi penguatan kelembagaan, antara lain melalui pelatihan manajemen keuangan, manajemen usaha dan pembentukan koperasi,” sebutnya.

Kata Budi, hal tersebut dilakukan agar produktivitas yang telah meningkat mampu berkontribusi secara positif dalam peningkatan kesejahteraan seluruh anggota petani di Gapoktan Sipatuo.

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Itu adalah ungkapan yang tepat untuk mewakili kita semua. Tahun 2019 lalu, Gapoktan Sipatuo berhasil mendapatkan penghargaan sebagai klaster terbaik pendukung ketahanan pangan dalam rangka pengendalian inflasi yang diberikan secara langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo,” katanya. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya