Aksi Protes Komunitas Sopir Pengangkut Material Proyek Talud Jalan Mamasa-Toraja, Ini Masalahnya

15 March 2021 17:47
Aksi Protes Komunitas Sopir Pengangkut Material Proyek Talud Jalan Mamasa-Toraja, Ini Masalahnya
Komunitas sopir lakukan aksi protes terhadap Penanggungjawab Padat Karya PPK Wilayah II Sulawesi Barat di Mes Padat Karya PPK Wilayah II Sulbar Lita' Sakka Jalan Poros Mamasa-Toraja, Desa Lambanan, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa. (Wahyu/Trans89.com)
.

MAMASA, TRANS89.COM – Sejumlah massa dari komunitas sopir lakukan aksi protes terhadap Penanggungjawab Padat Karya Pembuat Komitmen (PPK) Wilayah II Sulawesi Barat (Sulbar).

Aksi dipimpin Yustus berlangsung di Mes Padat Karya PPK Wilayah II Sulbar Lita’ Sakka Jalan Poros Mamasa-Toraja, Desa Lambanan, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Senin (15/3/2021).

Yustus meminta kejelasan pembayaran kepada pihak perusahaan terkait angkutan material untuk pekerjaan talud di sepanjang Jalan Poros Mamasa-Toraja, dan meminta agar tarif angkatan material di naikkan.

“Akan tetapi pihak perusahaan tidak mengakomodir permintaan tersebut sebesar Rp150.000/mobil dengan jarak yang jauh dari lokasi kegiatan, sementara yang dekat sebesar Rp100.000 permobilnya,” terang Yustus.

Menurut dia, kami para sopir meminta kepada perusahaan agar menaikkan biaya angkutan material dari Rp50.000 permobil menjadi Rp200.000 permobil yang jarak terjauhnya, sedangkan Rp150.000 permobil untuk jarak yang terdekat. Tetapi hal tersebut mengapa tidak diakomodir oleh pihak padat karya.

“Kami para sopir tetap ingin bekerja dengan upah standar yang telah ditetapkan oleh pihak Balai. Dalam pengangkutan material, kami para sopir tiba di lokasi untuk bekerja, ternyata di sana tidak diberikan nomor antrian oleh mandor di lokasi pekerjaan,” tutur Yustus.

Tanggapan Penanggungjawab Padat Karya PPK Wilayah II Sulawesi Barat, Tajuddin menyampaikan, terkait tuntutan para rekan sopir Mamasa, itu hanya terjadi miskomunikasi antara sopir dengan mandor.

“Pihak Balai intinya telah memberikan nomor antrian, namun mungkin mandor yang kurang jeli dan tidak memberikan ruang bekerja kepada sopir yang lain, dan nanti dari pihak PPK,” papar Tajuddin.

Ia menyatakan, untuk tarif material perkubik untuk mobil, telah dikuasakan kepada salah satu anggota dari pihak padat karya yang menangani di lokasi pekerjaan.

“Setelah para sopir meminta agar tarifnya dinaikkan, pihak Balai nanti akan melakukan rembuk, tetapi semua kebijaksanaan tersebut nantinya berdasarkan petunjuk dari pimpinan PPK,” ujar Tajuddin.

Lanjut Tajuddin, harga yang telah ditentukan tersebut telah kami koordinasikan sebelumnya kepada para sopir dan diterima.

“Untuk sementara para sopir diharapkan tetap melanjutkan pekerjaan pengangkatan material. Masalah antrian nantinya akan kita arahkan kembali, agar disamakan masalah trayek pengangkutan,” imbuhnya. (Wahyu/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya