Sarasehan Industri Jasa Keuangan Jateng dan Yogyakarta, Ganjar: Harga Gabah Turun dan Pemerintah Akan Impor Beras Itu Menyakitkan

09 March 2021 18:09
Sarasehan Industri Jasa Keuangan Jateng dan Yogyakarta, Ganjar: Harga Gabah Turun dan Pemerintah Akan Impor Beras Itu Menyakitkan
OJK Regional III Jateng dan DI Yogyakarat gelar sarasehan industri jasa keuangan untuk akselerasi pemulihan ekonomi, berlangsung di Ballroom 1-2 Hotel Po Jalan Pemuda, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Muhammad Husni Thamrin/Trans89.com)
.

SEMARANG, TRANS89.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional III Jawa Tegah (Jateng) dan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarat gelar sarasehan industri jasa keuangan untuk akselerasi pemulihan ekonomi, berlangsung di Ballroom 1-2 Hotel Po Jalan Pemuda, Kota Semarang, Jateng, Senin (8/3/2021).

Laporan Kepala OJK Regional III Jateng dan DI Yogyakarta, Aman Santosa mengatakan acara sarasehan industri jasa keuangan Jateng dan DI Yogyakarta dengan sinergi kali ini untuk akselerasi pemulihan ekonomi dampak dari pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan ekonomi besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Adapun kontraksi juga terjadi di Jateng dan DI Yogyakarta akibat pandemi ini dan pelambatan ekonomi memberikan beberapa impek antara lain kemiskinan, pengangguran dan lain sebagiannya,” kata Aman.

Menurut dia, patut kita syukuri indikator-indikator OJK masih bisa bekerja dengan konsisten, dimana industri kredit di Jateng masih mengalami pertumbuhan di tengah penurunan industri kredit skala nasional.

“Industri keuangan di Jateng dan DI Yogyakarta masih bisa bertahan di masa pandemi ini. Sepanjang tahun 2020, OJK sangat intens untuk berkomunikasi dengan penyelenggara keuangan, sehingga dapat mencari solusi keuangan dan membuka jasa pengaduan,” tutur Aman.

Ia menjelaskan, kami saat ini sedang berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Jamkrida dan Bank Jateng untuk memberikan subsidi bunga dalam rangka upaya pemulihan ekonomi di Jateng yang masih memiliki tekanan besar terutama di sektor industri dan jasa, dikarenakan negara tujuan ekspor belum pulih sepenuhnya dari pandemi Covid-19.

“Kasus Covid-19 yang belum menurun, sehingga teknologi belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, serta resiko perbankan yang masih tinggi, sehingga OJK mempunyai peran penting dalam pemulihan ekonomi yang signifikan di Jateng dan DI Yogyakarta,” jelas Aman.

Ketua Dewan Komisaris OJK, Wimboh Santoso melalui virtual (online) menyatakan, kita akan membahas bagaimana mengembalikan ekonomi kita, dan membahas sumber-sumber industri yang dapat menyerap tenaga kerja.

“Kita sudah dapat melakukan banyak hal di tahun 2020 dan ini ekstra ordinary (biasa). OJK juga memberikan relaksa di pasar modal,” ujar Wimboh.

Dirinya menyebutkan, di lembaga keuangan, dilakukan kebijakan restruktering dimana kebijakan tersebut untuk nasabah perbangkan dan lesing.

“Dampak dari ini, produk domestik bruto (PDB) kita turun, dan saat ini sudah ada perbaikan, serta berharap tahun 2021 ini akan ada perbaikan,” sebut Wimboh.

Kata Wimboh, khusus Jateng terkait dengan pertumbuhan kredit 2,01% itu sangat baik, dimana ruang pertumbuhan di daerah itu sangat baik dan akan lebih cepat recofery, karena di dukung oleh Bang Jateng.

“Kita telah survive di tahun 2020 dan tinggal bagaimana di tahun 2021 bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi, itu pekerjaan rumah kita bersama. Pemerintah akan tetap memberikan stimulus dengan memberikan subsidi dan tetap akan memberikan bantuan seperti di tahun 2020 dan itu tetap akan kita lanjutkan,” katanya.

Sementara Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta adanya pendampingan terhadap desa miskin, dimana antangan kita ke depan yaitu angka pembelian kita masih rendah.

“Saat ini harga gabah (padi) di daerah turun, dan pemerintah akan melakukan impor beras, itu sangat menyakitkan di level bawah,” terang Ganjar.

Gubernur juga meminta mempercepat vaksinasi terhadap masyarakat, dan waktu mencanangkan Jateng dirumah saja, ketika itu mendapat banyak tekanan.

“Kenapa saya melakukan itu, kita perlu satu komitmen dalam memerangi Covid-19. Sementara pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mikro. Dengan adanya PSBB mikro ini dapat kita lihat hasilnya sangat positif, angka Covid-19 menurun,” tutur Ganjar.

Ganjar mengungkapkan, perlunya adanya pendampingan terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), karena permasalahan pelaku UMKM tidak hanya permodalan, tetapi juga pembuatan packing dan jualan online, sehingga produk umkm bisa tumbuh dan bersaing.

“Pembangunan reindustrialisasi dengan cara meningkatkan padat karya, penguatan UMKM, realisasi investasi, diman kita telah melakukan kontak kembali kepada investor yang sempat ter delay karena pandemi Covid-19 untuk melakukan investasi di Jateng,” ungkapnya.

Pengamat Ekonomi Nsional, Chatib Basri menyampaikan, selama masa pandemi ini ekonomi kita turun drastis, dan itu juga menimpa negara-negara lainnya di dunia.

“Di tahun 2020, ekonomi kita dirasa sangat berat, banyak sektor ekonomi yang gulung tikar, dan itu berdampak dengan meningkatnya jumlah angka kemiskinan dan pengangguran,” paparnya.

Lanjut Chatib, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya berusaha membantu mengatasi permasalahan tersebut.

“Di tahun 2021, ini kita perlu tingkatkan perekonomian kita dengan meningkatkan daya beli kita, dan juga menumbuhkan sektor UMKM,” imbuhnya. (Husni/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya