Front Mahasiswa Papua Se-Jawa Tengah Langgar Prokes Saat Aksi di Semarang Dibubarkan Aparat

06 March 2021 02:26
Front Mahasiswa Papua Se-Jawa Tengah Langgar Prokes Saat Aksi di Semarang Dibubarkan Aparat
Front Mahasiswa Papua se-Jawa Tengah gelar aksi tanpa mematuhi prokes Covid-19 sehingga dibubarkan pihak aparat kepolisian Polrestabes Semarang depan Bank BI Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Arif Faisal/Trans89.com)
.

SEMARANG, TRANS89.COM – Puluhan massa dari Front Mahasiswa Papua se-Jawa Tengah dipimpin Mhey Tebai dihadiri Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Kota Semarang Felix Magai, AMP Pusat Jakarta Naisoboliem dan Stefanus Tyai gelar aksi tanpa mematuhi protokol kesehatan (prokes) Covid-19, sehingga dibubarkan aparat kepolisian.

Front Mahasiswa Papua se-Jateng dipimpin Mhey Tebai berkumpul di Patung Kuda Universitas Diponengoro (Undip) Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Sementara pembubaran aksi tersebut dipimpin Kabag Ops Polrestabes Semarang, AKBP Ricky beserta personilnya depan Bank BI Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jateng, Jumat (5/3/2021).

Aksi Front Mahasiswa Papua se-Jawa Tengah itu untuk menyuarakan kalau mereka menolak otonomi khusus (otsus) jilid II Papua, sehingga dibubarkan oleh aparat karena melanggar Peraturan Walikota (Perwali) Semarang terkait penanganan Covid-19.

Pantaun dilapangan, pendemo tak patuhi prokes, hal itu terlihat sebagian tidak memakai masker dan menjaga jarak.

Dalam aksinya, Front Mahasiswa Papua se-Jateng membawa spanduk bertuliskan, menolak otsus jilid II, pamflet bertuliskan referendum yes, free West Papua, hak menentukan nasib sendiri, Papua live matter, dan Papua bukan Merah Putih.

Kabag Ops Polrestabes Semarang, AKBP Ricky mengimbau agar peserta aksi mematuhi peraturan Covid-19, dan kegiatan ini tidak ada ijin, sehingga diarahkan untuk membubarkan diri dan pulang ketempat masing-masing.

Namun reaksi peserta aksi membalasnya dengan teriakan Papua bukan NKRI, polisi pembunuh.

Selajutnya Kaabag Ops lakukan imbauan ketiga kalinya, dan tetap tak digubris para peserta aksi, sehingga polisi membubarkan paksa dengan mengamankan Felix Magai dan Mhey Tebai menuju Polrestabes Semarang.

Sementara Wakapolrestabes Semarang, AKBP IGA Perbawa Nugraha menyatakan, penyampaian pendapat di muka umum pada dasarnya sangat dilindungi oleh negara.

“Namun, berdasarkan kesepakatan aturan Satgas Corona Kota Semarang, selama pandemi demo tak diperbolehkan,” ujar Perbawa.

Menurut dia, penyampaian aspirasi sangat dilindungi, apalagi di Kota Semarang, tak ada penyampaian aspirasi yang kita larang.

“Mau setiap hari menyampaikan aspirasi pun boleh. Selagi itu memenuhi mekanisme yang ditetapkan negara,” tutur Perbawa.

Sementara terkait demonstran yang diamankan, dia menegaskan mereka akan dimintai keterangan terkait aksi.

“Mereka yang diamankan hanay dimintai keterangan dan selanjutnya akan dilepas kembali,” imbuhnya. (Arif/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya