Wakil Gubernur Sulbar Pimpin Rapat Percepatan Penanganan Gempa Bumi

04 March 2021 01:31
Wakil Gubernur Sulbar Pimpin Rapat Percepatan Penanganan Gempa Bumi
Pemprov Sulbar gelar rapat monitoring dan evaluasi terpadu bersama Tim Satgas Transisi Darurat ke pemulihan pasca gempa berlangsung di aula Kodim Mamuju Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mamuju. (Dok, Dinas Kominfopers Sulbar)
.

MAMUJU, TRANS89.COM — Dalam rangka percepatan penanganan bencana gempa bumi di Kabupaten Majene dan Mamuju, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat (Sulbar) gelar rapat monitoring dan evaluasi terpadu bersama Tim Satuan Tugas (Satgas) Transisi Darurat ke pemulihan pasca gempa berlangsung di aula Kodim Mamuju Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mamuju, Selasa (2/3/2021).

Rapat dipimpin lansgung Wakil Gubernur (Wagub) Sulbar, Enny Anggraeni Anwar diadiri Asisten Deputi dan Manajemen Pasca Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Nelwan Harahap, Sekprov Sulbar Muh Idris, Dandim 14018 Mamuju Kolonel Inf Tri Aji Sartono.

Wagub Enny mengatakan, Sulbar mengalami berbagai macam permasalahan, Tim Satgas Transisi mencatat hingga saat ini masih tersisa kurang lebih ada 17 ribu pengungsi di Kabupaten Mamuju, sementara di Kabupaten Majene masih ada sekitar lima ribuan.

“Dengan demikian, masih tersisa sekitar 22 ribuan pengungsi. Selain Majene dan Mamuju yang terdampak gempa, ada juga beberapa desa yang terdampak di Kabupaten Mamasa, Polewali Mandar (Polman) dan Mamuju Tengah (Mateng),” kata Enny mantan anggota DPR RI ini dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, Sulbar saat ini juga masih menghadapi pandemi Covid-19, dimana pasca gempa bumi, kasus Covid-19 melonjak sampai 10O%.

“Sebelum gempa terjadi, kasus Covid-19 di Sulbar hanya sekitar 2 ribu, dan pasca gempa sudah hampir 5 ribu lebih,” tutur Enny yang juga Ketua PMI Sulbar itu.

Ia menyebutkan, kami agak kesulitan mendeteksi Covid-19 pada saat pasca gempa ini, karena ada beberapa permasalahan yang dihadapi.

“Saya lihat sendiri di masyarakat, di pasca gempa ini di tempat pengungsian kurangnya sosialisasi masalah Covid-19, dan kami ingin melakukan pengetesan rapid antigen dibeberapa pengungsian. Tetapi begitu mereka tau mau dirapid, mereka kosongkan semua tempat pengungsian, dan inilah yang terjadi,” sebut Enny Ketua FKPPI Sulbar ini.

Ditempat yang sama, Sekprov Sulbar Muhammad Idris menyatakan, hingga saat ini tercatat masih ada tujuh titik pengungsian yang dikelola secara langsung oleh Satgas.

“Jumlah pengungsi yang ada masih tergolong besar. Bukan hanya Mamuju dan Majene yang terdampak, tetapi juga di Mamasa, dan ada kurang lebih 594 rumah yang terdampak dengan berbagai spesifikasinya berat, sedang, maupun ringan,” ujar Idris.

Dirinya ucapkan terima kasih atas segala perhatian yang diberikan oleh pemerintah pusat terhadap Sulbar pada pasca gempa, karena tanpa bantuan dan perhatian dari pemerintah pusat, kami tidak mungkin sanggup menyelesaikan masalah yang dihadapi.

“Harapan saya, mari kita memikirkan apa-apa yang harus dilakukan unuk memulihkan Sulbar ini menjadi baik kembali dengan harapan Sulbar kembali Malaqbi,” kata Idris.

Sementara Asisten Deputi dan Manajemen Pasca Bencana Kemenko Bidang PMK, Nelwan Harahap menyampaikan dalam hal percepatan penanganan, ada dua hal yang penting yang harus dilakukan, yaitu perlu percepatan identifikasi, infrastruktur dan pemukiman yang rusak.

“Ini menjadi bagian penting untuk mendukung keberlangsungan hidup para penyintas selama dalam penaganan bencana,” papar Nelwan.

Kata Nelwan, kita juga butuh proses untuk membangun rumah hunian tetap (Huntap) mereka, namun tidak dengan pembangunan hunian sementara (Huntara), walaupun nanti gantinya diberikan dalam bentuk dana tunggal.

“Bisa jadi pilihannya nanti disewa bagi mereka yang tidak memiliki rumah, terutama yang rusak berat, karena yang rusak ringan bisa dipercepat proses perbaikannya,” katanya.

Nelwan menerangkan, melalui kerjasama sinergitas yang kuat, koordinasi yang kuat rekan-rekan prajurit TNI siap sedia jika diperlukan agar ada upaya percepatan dalam melakukan perbaikan rumah rusak ringan dan sedang.

“Penanggulangan darurat bencana ini adalah pekerjaan kemanusiaan, butuh kecepatan, dan dilaksanakan secara ekstra ordinary,” terang Nelwan.

Lanjut Nelwan berharap, memasuki bulan suci Ramadhan, bagi saudara-saudara kita yang akan menjalankan ibadah puasanya dapat terlayani dan bantuan terkait kebutuhan-kebutuhan dasar para peyintas yang terdampak gempa.

“Ini dapat mendapatkan bahan pangan dan sandang tapi juga tempat tinggal dapat terpenuhi secara layak dan bermartabat,” imbuhnya. (Adhy/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya