Pasca Bencana Gempa Sulawesi Barat, 60 Titik Longsor Tertangani

27 February 2021 15:44
Pasca Bencana Gempa Sulawesi Barat, 60 Titik Longsor Tertangani
Salah satu titik longsor pasca bencana gempa bumi Sulawesi Barat Jalan Trans Sulawesi antara Kabupaten Majene-Mamuju sudah bisa dilalui para pengendara. (Humas Posko Transisi Darurat)
.

MAMUJU, TRANS89.COM – Pasca bencana gempa bumi Sulawesi Barat (Sulbar), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat (Sulbar) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus berupaya bekerja keras untuk menangani titik longsor.

Dari kerja keras tersebut, Dinas PUPR Sulbar perlihatkan hasil, dimana sebanyak 60 titik longsor di Kabupaten Mamuju dan Majene kini kasesnya telah terbuka kembali untuk dilalui.

“Pasca bencana gemp, terdapat 60 lebih titik longsor yang telah dibuka di Kabupaten Mamuju dan Majene,” kata Kepala Dinas (Kadis) PUPR Sulbar, Muh Akhsan dalam keterangan tertulisnya di Posko Transisi Darurat Pemprov Sulbar di Mamuju, Kamis (25/2/2021).

Titik longsor yang kini sudah tertangani itu di Salutambung dan Urekan Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene sebanyak 46 titik. Ddan di Labuan Rano, Tappalang Barat satu titik, di Dusun Lombe Taukong Pangalo hingga Perumahan Transmigrasi Tama Jannah lima titik.

“Sebelumnya, sudah ada lima titik longsor di jalan poros Kabupaten Majene-Mamuju. Seperti yang kita lihat sekarang, jalan itu sekarang sudah bisa digunakan masyarakat,” ujar Akhsan.

Bukan hanya dari Pemprov, kata Akhsan, TNI bersama relawan juga tengah berupaya membuka keterisolasian di Desa Rante Doda, Kecamatan Tappalang.

“Hingga saat ini, TNI dan relawan telah menyelesaikan empat titik longsor di desa tersebut,” katanya.

Menurut dia, khusus di Bela Kopeang, karena medan jalan yang ekstrem, volume pekerjaan besar, pengerjaan jalan di wilayah ini tidak dapat dilakukan secara darurat, tidak bisa diselesaikan dalam satu atau dua bulan.

“Kalau Bela Kopeang lebih parah, masih panjang, masih ada 20 kiloan yang belum rampung,” tutur Akhsan.

Ia menjelaskan, dibutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun untuk penanganan di Bela Kopeang, karena dikerjakan secara reguler dan multi years, dari mulai penyusunan perencanaan hingga pelaksanaannya.

“Butuh perencanaan matang, karena perencanaan saja, bisa mencapai 8 bulan baru dinilai matang dan siap,” jelas Akhsan.

Dirinya menyatakan, pada masa tanggap darurat bencana, pihaknya baru dapat menyelesaikan pembukaan badan jalan sampai di Desa Ulu Taan sepanjang 6,4 kilometer (km).

Sambung Akhan berharap, akan dapat lebih terbangun koordinasi dan kerja sama pemprov dengan pemerintah kabupaten (pemkab) dalam hal bagaimana dapat bersama-sama membuka jalan yang terdampak longsor.

“Apalagi yang lebih mengenal medan itu pihak kabupaten. karena jalannya berstatus jalan kabupaten,” imbuhnya. (Adhy/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya