Pengungsi Dampak Gempa di Mamuju Berangsur Berkurang

19 February 2021 03:58
Pengungsi Dampak Gempa di Mamuju Berangsur Berkurang
Nampak pengungsi yang bertahan tinggal di tenda-tenda terutama warga yang kehilangan tempat tinggal seperti di Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju. (IST)
.

MAMUJU, TRANS90.COM – Jelang dua pekan penanganan dampak gempa magnitudo 6,2 Sulawesi Barat (Sulbar) di masa transisi tanggap darurat, jumlah pengungsi di Kabupaten Mamuju menunjukkan pengurangan yang cukup signifikan.

Sejumlah warga yang berada di titik-titik pengungsian berangsur-angsur mulai memilih untuk kembali ke rumahnya yang masih layak untuk ditempati.

Dibanding dengan pada hari pertama masa transisi darurat, 5 Februari 2021, berjumlah 40.974 orang pengungsi.

Selasa, 16 Februari 2021, jumlah pengungsi di Kabupaten Mamuju berkurang dari 4.027 menjadi 36.947 orang yang berada di 194 titik pengungsian.

Pengungsi di Kabupaten mamuju tersebar di Kecamatan Tappalang, Tappalang Barat, Simboro, Mamuju, Kalukku, dan Kecamatan Papalang. Khusus Kecamatan Bala Balakang, per tanggal 9 sudah tidak terdapat titik pengungsian.

Koordinator Bidang Mitigas Gempa Bumi dan Tsunami Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono menanggapi mulai berkurangnya pengungsi di titik pengungsian, mengatakan berdasarkan analisa dengan sejumlah indikator, kondisi Sulbar memang sudah relatif aman.

Meski demikian ketika diminta menyarankan agar pengungsi kembali ke rumah, Daryono enggan berkomentar lebih jauh.

“Kami sudah mengatakan, berdasarkan analisa sudah relative aman. Tetapi karena kami tak punya rakyat, kami tak berhak untuk menyarankan atau merekomendasikan agar pengungsi kembali ke rumah. Soal itu tentu diserahkan kepada pemda masing masing,” kata Daryono.

Kepala Bidang (Kabid) Data Informasi dan Humas Pos Komando Transisi Darurat Sulbar, Safaruddin menyatakan, terkait pengungsi, beberapa waktu lalu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyatakan persoalan pengungsi gempa Sulbar ditarget berakhir di pertengahan tahun.

“Diharapkan bisa lebih cepat, tetapi tidak menutup kemungkinan lebih lama,” ujar Safarudin dalam keterangan tertulisnya di Mamuju, Kamis (18/2/2021).

Menurut dia, beresiko untuk menginstruksikan pengungsi pulang kerumah, selain masih banyak warga yang rumahnya rusak berat, dan tidak sedikit pula warga yang mengalami trauma dan mengkuatirkan keselamatan anak-anaknya jika mereka kembali ke rumah.

“Tetapi bagi yang rumahnya masih layak atau tidak rusak, selalu akan kami himbau untuk kembali. Dan kalau pun masih kuatir, bisa dengan bertenda di depan atau sekitar rumah,” tutur Safaruddin.

Terkait, gempa susulan yang dikuatirkan banyak pihak, Safaruddin mengharapkan masyarakat Sulbar agar lebih meningkatkan pengetahuan atau wawasan tentang kebencanaan.

“Bagaimanapun juga, Sulbar sudah ditakdirkan berada di daerah rawan gempa, sehingga kita semua selalu dalam kondisi siap siaga terhadap bencana untuk meminimalisir resiko yang bisa timbul adalah jawaban dari kondisi ini,” uari Safarudin.

Lanjut Safarudin, bahkan BMKG atau ahli sekalipun tak ada yang bisa memprediksi kapan waktunya gempa itu terjadi.

“Jadi, yang kita bisa lakukan adalah senantiasa siap siaga. Dan yang paling penting, tidak lupa mengencangkan doa dan ibadah, semoga daerah kita terhindar dari dampak bencana,” imbuhnya. (Adhy/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya