FPR Sulsel Kawal Hingga Tuntas Persidangan Pendemo UU Omnibus Law di Pengadilan Negeri Makassar

13 February 2021 01:41
FPR Sulsel Kawal Hingga Tuntas Persidangan Pendemo UU Omnibus Law di Pengadilan Negeri Makassar
Ratusan massa Front Perjuangan Rakyat Sulsel unjuk rasa di Pengadilan Negeri Makassar Jalan RA Kartini, Kota Makassar. (Andri S/Trans89.com)
.

MAKASSAR, TRANS89.COM – Ratusan massa Front Perjuangan Rakyat (FPR) Sulawesi Selatan (Sulsel) dipimpin Iqbal unjuk rasa di Pengadilan Negeri (PN) Makassar Jalan RA Kartini, Kota Makassar.

Aksi FPR Sulsel menuntut agar dibebaskannya Suprianto alias Ijul karena diduga korban salah tangkap besberta lainnya saat demonstrasi Undang-Undang (UU) Omnibus Law tentang Cipat Tenagakerja beberapa waktu lalu, Kamis (11/2/2021).

Massa aksi membawa spanduk bertuliskan, bebaskan Ijul cabut UU nomor 11 tahun 2020, tentang cipta kerja. Rakyat sengsara rakyat menggila. Pengadilan harus netral. Cabut Omnibuslaw UU Cipta Kerja, bebaskan Ijul dan korban salah tangkap lainnya.

Tuntutan massa aksi, Iqbal meminta bebaskan Ijul yang sampai saat ini ditahan dengan tuduhan melakukan pengerusakan dan pembakaran mobil ambulance depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) pada 22 Oktober 2020.

“Kami meminta nertralitas dan transparansi Pengadilan Negeri Kota Makassar dalam menyelesaikan kasus Ijul dan korban salah tangkap lainnya,” pinta Iqbal.

Menurut dia, saksi-saksi yang dihadirkan atau diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) berubah-berubah dan tidak konsisten.

“Ijul tidak terlibat dalam aksi baik secara individual maupun organisasi pada 22 Oktober 2020 di depan kampus UNM,” tutur Iqbal.

Ia menyatakan, Hakim yang memimpin jalannya Persidangan harus berani dalam memutuskan bahwa Ijul dan korban salah tangkap lainnya tidak bersalah.

“Kami menuntuk Hakim harus objektif atas fakta persidangan, dimana para saksi yang dihadirkan tidak bersesuaian satu sama lainnya,” ujar Iqbal.

Iqbal mengungkapkan, pada proses persidangan saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU, seolah-olah Ijul bersalah.

“Akan tetapi kesaksian yang dihadirkan JPU itu tidak mampu menunjukan kalau Ijul bersalan, namun pada faktanya malah terbalik,” ungkapnya.

Sekitar 20 orang perwakilan FPR mengikuti agenda sidang putusan sidang Ijul bersama 9 orang rekan lainnya.

Dalam persidangan, Hakim memutuskan Ijul dan 9 terdakwa lainnya dengan hukuman 3 bulan 21 hari.

Kuasa hukum Ijul, Ansar mengatakan berdasarkan putusan itu, berarti Ijul sudah bisa bebas karena telah terakumulasi dengan masa tahanan yang dijalani.

“Proses persidangan hari ini sudah divonis selesai. Kalau dihitung dari masa penahanannya, ia sudah bisa keluar karena Majelis Hakim mengatakan apapun masa divonisnya dikurangi saat masa penahanan,” kata Ansar.

Untuk proses penjemputan tahanan, Ansar akan berpikir terlebih dahulu dan berkonsultasi kepada teman-teman terdakwa selama seminggu untuk langkah selanjutnya.

“Sebelum penjemputan, kami akan pikir-pikir dulu dan berkonsultansi kepada mereka terkhusus Ijul langkah apa selanjutnya, apakah harus lanjutkan perjuangan banding atau bagaimana,” terangya.

Setelah dinyatakan bebas dari masa tahanan, Ijul merasa senang dan ucapan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang sudah memperjuangkan kebebasannya.

“Saya merasa senang walaupun sedikit kecewa, tapi saya sangat berterima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman, karena masih berjuang sehingga saya tetap bersemangat didalam dan tidak drop karena perjuangan teman-teman selama ini,” imbuhnya. (Andri/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya