Pupuk Organik Dari Limbah Sawit

12 February 2021 22:35
Pupuk Organik Dari Limbah Sawit
Fermentasi solid menjadi pupuk organik di Desa Bulumario, Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar. (Sarwo Kartika Roni/Trans89.com)
.

PASANGKAYU, TRANS89.COM – Berbagai isu yang dilakukan NGO (Non-Governmental Organization) atau LSM di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) untuk mematikan pangsa pasar dari produk kelapa sawit khususnya penggunaan minyak nabati serta energi terbarukan.

Kita ketahui bersama, isu tersebut terkadang di mainkan para NGO dari Uni Eropa dan AS agar produksi pertanian mereka dapat menguasai pasar internasional seperti minyak nabati dari kedelai dan bunga matahari.

Para pengusaha di Uni Eropa dan AS merasa terancam dengan produk kelapa sawit, karena produk kelapa sawit dapat dikembangkan menjadi energi terbarukan dan ramah lingkungan serta kosnya yang rendah.

Seperti pengembangan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, turunan produk sawit yakni minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dapat dijadikan bahan bakar nabati terdiri dari biodiesel, bioetanol dan minyak nabati sudah dapat capai Biodiesel 30% (B30), sehingga diperkirakan kedepan mampu mengalahkan BBM solar dari fosil.

Produksi sawit seperti CPO dan kernel saat ini sudah tembus pasar dunia, sehingga mengkhawatirkan para pengusaha industri sektor pertanian serta minyak dan gas (migas) dari Uni Eropa dan AS.

Selain itu, beberapa limbah dari sawit juga telah di ekspor ke luar negeri, seperti baru-baru ini sebelum terjadi bencana gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar), gubernur Ali Baal Masdar melepas ekspor ke Negara Thailand ratusan ribu ton cangkang (tempurung) kelapa sawit merupakan energi terbarukan pengganti bahan bakar fosil batu bara.

Sebelumnya juga, Bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa juga melepas ekspor ke Negeri China produksi turunan sawit berupa palm kernel oil (PKO).

Untuk limbah sawit yang bernilai ekonomis yakni bungkil dan maggot merupakan bahan baku untuk pakan. Termasuk solid merupakan limbah cair yang dijadikan pupuk organik.

Bagi industri sawit di Sulbar yang memiliki lahan perkebunan seperti PT Pasangkayu, PT Mamuang, PT Letawa, PT Lestari Tani Teladan (LTT), PT Surya Raya Lestari (SRL) I dan II merupakan anak usaha Astra Agro Lestari (AAL) Tbk Grup, serta PT Unggul Widya Tekhnologi Lestari dan grupnya PT Unggul Widya Manakarra, limbah cair solid ini dijadikan pupuk organik dengan cara mengalirkannya melalui pipa ke kebun miliknya.

Sementara perusahaan industri pabrik kelapa sawit (PKS) yang tidak memiliki lahan perkebunan membuka ke mitraan dengan pengusaha lokal dalam pengembangan solid ini untuk dijadikan pupuk organik.

Di Sulbar sendiri terdapat beberapa PKS tapi tidak memiliki lahan perkebunan sawit seperti PT Trinity, PT Global, PT Awana Sawit Lestari dan PT Toscano.

Dari sekian PKS yang tidak memiliki lahan perkebunan di Sulbar, limbah solidnya hanya di manfaatkan oleh warga sekitar PKS.

Limbah solid dari sawit ini berbentuk cair, sehingga perusahaan yang memiliki perkebunan sawit langsung mengalirkannya ke kebun miliknya melalui instalasi pipa, sementara PKS yang tidak memiliki kebun hanya di tumpuk di area perusahaannya.

Walau limbah solid berbentuk cair, namun dalam 2×24 jam berubah menjadi benda padat apabila ditumpuk, layaknya bungkil sawit. Sehingga banyak warga sekitar area PKS menggunakannya sebagai pupuk ditanaman jangka pendek khusunya tanaman sayuran dan tanaman hias yang tumbuh subur.

Seperti PT Awana Sawit Lestari saat ini bekerjasama dengan pengusaha lokal mengembangkan pupuk organik dari limbah solid ini, dimana pengusaha lokal ini menggandeng dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Dalam pengembangan pupuk organik berbahan baku solid ini, dalam fermentasinya juga menggunakan maggot juga hasil dari sawit dengan mencampurkan bahan-bahan lainnya. Dan saat ini pupuk organik solid juga telah di uji laboratorium Untad.

Penggunaan Solid Oleh Warga Sebagai Pupuk Organik

Sementara Ketua Posyandu Dahlia Desa Sarudu, Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar, Sunirma telah merubah lahan sekitar posyandu yang tadinya kurang produktif menjadi kebun sayuran organik sambil menunjukkan hasil jerih payahnya bersama kader-kader posyandunya.

Ketua Posyandu Dahlia Desa Sarudu Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar, Sunirma saat bersihkan tanaman sayurannya yang menggunakan solid. (Sarwo Kartika Roni/Tranns89.com)

 

“Solid terbukti sangat bermanfaat untuk tanaman sayuran, kami bisa membantu ekonomi keluarga. Dengan pemberian solid, ternyata tanaman-tanaman sayur kami jadi subur,” kata Sunirma di Pasangkayu beberapa waktu lalu.

Menurut dia, awalnya kami tidak menyangka kalau solid ini ternyata dapat dijadikan pupuk organik untuk tanaman.

“Dengan pemanfaatan solid ini, kami tidak perlu lagi membeli pupuk untuk tanaman sayuran dan tanaman hias kami,” imbuhnya. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya