Pasca Gempa Sulawesi Barat, Puluhan Ribu Warga Mengungsi Khawatir Akan Tsunami, Listrik Padam dan Jaringan Telpon Tidak Stabil

16 January 2021 05:07
Pasca Gempa Sulawesi Barat, Puluhan Ribu Warga Mengungsi Khawatir Akan Tsunami, Listrik Padam dan Jaringan Telpon Tidak Stabil
Tim Basrnas saat lakukan evakuasi korban gempa magnitudo 6,2 sr di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (Ist)
.

MAMUJU, TRANS89.COM – Gempa kuat yang melanda Kabupaten Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat Jumat 15 Januari 2021 dini hari menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.

Sementara ribuan warga mengungsi setelah gempa dengan kekuatan magnitudo 6,2 skala richter (sr) mengguncang dengan puluhan kali gempa susulan yang dikhawatirkan dapat memicu terjadinya tsunami.

Gempa merusak gedung kantor gubernur Sulawesi Barat, fasilitas umum lainnya, rumah warga, hotel serta meratakan rumah sakit.

Aktivitas gempa juga menyebabkan tiga longsor, memadamkan listrik dan merusak jembatan dan gangguan jaringan telekomunikas, ditambah hujan deras juga memperparah keadaan, terutama mereka yang mencari tempat berlindung untuk mengungsi.

Warga Mamuju, Muhammad Ansari Iriyanto (31), mengatakan warga panik dan mengungsi ke bukit-bukit di seputar kota Kabupaten Mamuju.

“Mamuju sekarang sepi, dan semua orang mengungsi ke gunung. Banyak gedung hancur dan orang takut akan tsunami,” katanya, Jumat (15/1/2021).

Warga lain, Sukri Efendy (26) mengatakan, sekarang hujan dan kami perlu bantuan.

“Kami baru saja merasakan gempa susulan,” katanya dengan agak trauma akibat gempa.

Pantauan lapangan, hingga Jumat siang, jaringan listrik dilaporkan masih padam dan komunikasi selular tidak stabil di dua kabupaten tersebut.

Korban meninggal dikhawatirkan akan terus bertambah, karena beberapa laporan menyebutkan kemungkinan ada korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan gedung yang roboh.

Sementara tim SAR di Mamuju sedang berupaya menolong beberapa pasien dan staf rumah sakit yang terjebak di bawah reruntuhan rumah sakit yang roboh.

“Kami sekarang berusaha menjangkau mereka,” kata Arianto, salah-seorang regu penolong tanpa menyebutkan angka pasti orang-orang yang terjebak.

Di Mamuju, menurut BNPB, gempa ini menyebabkan kerusakan parah pada Hotel Maleo, kantor Gubernur Sulbar, serta RS Mamuju.

Sebuah bangunan mini market juga dilaporkan roboh. Jaringan listrik di wilayah itu juga dilaporkan mengalami pemadaman.

Selain itu, gempa juga menyebabkan longsor pada tiga titik di sepanjang jalan poros Majene-Mamuju yang menyebabkan akses jalan terputus.

Di wilayah itupula dilaporkan setidaknya 300 unit rumah rusak. Adapun jumlah warga yang mengungsi setidaknya mencapai 17.000 jiwa, yang tersebar di sejumlah titik.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di Mamuju dan sekitar wilayah Majene untuk mewaspadai gempa susulan sekaligus menjauhi area pantai.

“Gempa yang terjadi di sekitar wilayah Majene termasuk gempa dangkal dengan pusat kedalaman 10 kilometer dari permukaan. Sejak Kamis (14/01) hingga Jumat (15/01), BMKG sudah mencatat 28 kali gempa susulan,” kata Dwi.

Menurut dia, masih ada potensi gempa susulan berikutnya yang masih kuat. Bisa mencapai kekuatan seperti yang tadi terjadi (magnitudo) 6,2 atau sedikit lebih tinggi lagi.

“Itu karena kondisi batuan sudah digoncang dua kali (magnitude terkuat 5,9 dan 6,2), bahkan 28 kali, sudah rapuh,” tutur Dwi.

Ia menjelaskan, pusat gempa ada di pantai memungkinkan terjadinya longsor bawah laut, sehingga masih atau dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa masih di pantai atau di pinggir laut.

“Kami meminta warga untuk tak hanya menghindari gedung-gedung, tapi ia juga area pantai untuk segera menyingkir dari area itu jika merasa gempa,” jelas Dwi.

Dirinya menyatakan, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami, karena tsunaminya bisa sangat cepat.

“BMKG menganalisis gempa itu dikarenakan sesar naik Mamuju (Mamuju thrust) dan merupakan pengulangan dari dua gempa besar sebelumnya, yakni di tahun 1969 (magnitudo 6,9) dan 1984 (magnitudo 6,7),” ujar Dwi.

Sementara pihak BNPB menyebutkan sejumlah bangunan di Mamuju ambruk seperti gedung kantor Gubernur Sulawesi Barat, gedung Rumah Sakit Mitra Manakarra Mamuju juga roboh. Pasien yang selamat langsung dievakuasi ke lokasi yang dianggap aman.

Mal Mamuju dan bangunan pusat perbelanjaan lainnya juga terlihat rusak di sejumlah bagian, termasuk dua hotel juga rusak di Mamuju.

BPBD Majene menginformasikan longsor di tiga titik sepanjang jalan poros Majene-Mamuju sehingga menyebabkan akses jalan terputus.

Hingga berita ini diterbitkan, petugas masih menyisir lokasi terdampak gempa guna mengevakuasi korban.

Merespons kondisi ini, BPBD setempat melakukan penanganan darurat, seperti penanganan korban luka, evakuasi, pendataan dan pendirian pos pengungsian. Kebutuhan mendesak saat ini berupa sembako, selimut dan tikar, tenda keluarga, pelayanan medis dan terpal.

BPBD Kabupaten Majene menginformasikan warganya merasakan gempa kuat selama lima hingga tujuh detik. Gempa yang berpusat 6 km timur laut Majene, Sulawesi Barat membuat para warga panik. Kepanikan membuat mereka keluar rumah.

Hal serupa dirasakan warga Kabupaten Polewali Mandar. BPBD setempat menginformasikan gempa dirasakan warga cukup kuat sekitar 5 hingga 7 detik.

Berdasarkan analisis peta guncangan BMKG yang diukur dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity, gempa M6,2 ini memicu kekuatan guncangan IV – V MMI di Majene, III MMI di Palu, Sulawesi Tengah dan II MMI di Makasar, Sulawesi Selatan.

Skala Mercalli tersebut merupakan satuan untuk mengukur kekuatan gempa. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya