Generasi Muda Wonogiri Unjuk Rasa di Bundaran Patung Soekarno, Ini Tuntutannya

06 December 2020 02:37
Generasi Muda Wonogiri Unjuk Rasa di Bundaran Patung Soekarno, Ini Tuntutannya
Generasi Muda Wonogiri unjuk rasa di Bundaran Patung Soekarno Utara Alun-alun Giri Krida Bakti, Kabupaten Wonogiri, Jateng. (Joko Arief/Trans89.com)
.

WONOGIRI, TRANS89.COM – Massa dari Generasi Muda (Geram) Wonogiri dipimpin Nur Kholis unjuk rasa menolak kedatangan Habib Rizieq Shihab (HRS), berlangsung di Bundaran Patung Soekarno Utara Alun-alun Giri Krida Bakti, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (5/12/2020).

Massa aksi membawa spanduk bertuliskan, kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya yang kaya raya ini. Generasi Muda (Geram) Wonogiri tolak Rizieq Shihab pemecah persatuan. Generasi Muda Wonogiri menolak segala bentuk kegiatan Rizieq Shihab di Kabupaten Wonogiri.

Pamflet bertuliskan, tolak Rizieq Shihab, Indonesia bukan negara Islam tapi negara yang Islami, tetap Bhineka Tunggal Ika, Islam ajarkan santun dalam berdakwah, jaga persatuan jauhi kebencian, usir pemecah belah bangsa

Orasi Nur Kholis ucapkan mohon maaf terhadap warga Wonogiri pada pagi hari ini, kami hanya ingin menyampaikan aspirasi kami, dan kami hanya ingin menyuarakan jerit hati nurani kami.

“Kita semua ketahui bahwa selama ini kota Wonogiri sebagai kota yang aman dan damai tentram dan baik baik saja, maka dari itu kami atas nama Gerakan Muda yang cinta dengan kota kita ini menolak seluruh tindakan-tindakan yang bersifat radikalisme, menolak kekerasan dan kita siap mengawal TNI/Polri yang berada di garda terdepan untuk menindak tindakan yang bersifat radikalisme,” ucap Nur.

Ia menolak intoleransi, karena selama ini di kota Wonogiri sudah hidup berdampingan, baru saja kita kedatangan seorang tokoh, kita sebut saja Rizieq Shihab, seseorang yang dianggap tokoh oleh sebagian orang, namun tindakan dan ucapannya selama ini tidak pantas kita anggap tokoh.

“Kembalinya HRS ke Indonesia diwarnai kericuhan di Bandara Soekarno Hatta, karena ada ribuan massa yang ngotot untuk menjemput. Padahal sudah ada peringatan agar mereka mematuhi protokol kesehatan, tapi tetap saja dilanggar,” ujar Nur.

Menurut dia, ribuan orang menyambut kedatangan HRS saat ia datang ke Indonesia, tanggal 10 November lalu, mereka jelas melanggar physical distancing tapi tak mempedulikan protokol kesehatan.

“Walau sudah memakai masker, tapi tetap bahaya karena corona bisa menular lewat udara pengap, seperti keadaan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang dipadati oleh mereka,” tutur Nur.

Dirinya menyatakan, situasi ini makin runyam karena HRSmenolak untuk melakukan tes swab ulang dan karantina 14 hari, karena sudah melakukannya di Arab, padahal bisa saja ada penularan di dalam perjalanan, namun massa pendukung HRS juga tidak takut untuk mendekat, bahkan berbondong-bondong datang dari luar Jakarta demi bersalaman dengannya.

“Jangan malah sengaja melanggar protokol kesehatan karena punya alasan subjektif dalam membenci pemerintah, ingat bahwa jika 1 orang saja kena corona bisa menularkan ke ribuan orang lain. Bagaimana jika ada yang tertular virus Covid-19 lalu tidak terselamatkan nyawanya, apakah mau bertanggungjawab,” ujar Nur.

Lanjut Nur, di sisi lain, HRS dalam ceramahnya selalu bersifat menantang dan berisi penuh kebencian serta permusuhan.

“Jika dibiarkan, provokasinya bisa meluas dan melebar. Hentikan ceramah seperti ini, apalagi mengatasnamakan dakwah yang mesti dengan hikmah dan mau’idhoh hasanah (nasehat yang santun),” terang Nur.

Penyampaian Sikap Generasi Muda Wonogiri oleh Fahrizal Azam, menolak rencana safari dakwah dan kedatangan HRS ke wilayah Wonogiri khususnya dan seluruh Wilayah Indonesia pada umumnya.

“Kami meminta kepada Satgas Covid-19 Kabupaten Wonogiri untuk tidak memberikan izin keramaian bagi panitia kedatangan HRS,” tegas Fahrizal.

Ia menuntut aparat penegak hukum dan Tim Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk menindak tegas seluruh pihak yang menghambat proses 3T (testing, tracing dan treatment) tanpa pandang bulu, termasuk HRS dan kelompok FPI.

“Kami menolak narasi dakwah yang provokatif dan meresahkan masyarakat demi menjaga persatuan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menuntut TNI/Polri untuk menindak tegas oknum provokator pemecah umat dan bangsa,” ujar Fahrizal.

Penyampaian Kanit Laka Polres Wonogiri, Iptu Subroto ucapkan salam dan kami dari Polres Wonogiri untuk rekan-rekan semua telah menyampaikan aspirasi pada siang hari ini, mohon nantinya tetap menjaga jarak protokol kesehatan, jaga jarak,cuci tangan dan memakai masker

“Nanti untuk kembalinya tetap taati peraturan lalulintas dan kembali dengan tertib. Anda adalah warga Wonogiri yang baik, jadi sekali lagi anda selesai menyampaikan aspirasi silahkan membubarkan diri dengan tertib, jangan bergerombol dan tetap patuhi protokol kesehatan Covid-19,” ucapnya. (Joko/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya