Program IGA Astra Agro, Ambe Hajja Bercerita Sawit Ubah Dusun Menjadi Kota

20 November 2020 02:38
Program IGA Astra Agro, Ambe Hajja Bercerita Sawit Ubah Dusun Menjadi Kota
Salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Ambe Hajja. (Sarwo Kartika Roni/Trans89.com)
.

PASANGKAYU, TRANS89.COM – Ambe Hajja di kenal masyarakat luas sebagai salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, yang merakyat dan peduli dengan perkembangan pembangunan di wilayah Kabupaten Pasangkayu.

Berawal di tahun 1980-an awal, Ambe Hajja yang memiliki nama asli Hamma P ini bersama keluarga bermigrasi dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), ke sebuah tempat di kenal sebagai daerah Tikke Kabupaten Pasangkayu.

Sudah tentu sulit dibayangkan bagaimana tantangan yang harus di hadapi di awal tahun-tahun tersebut, kondisi alam yang masih perawan, banyak binatang buas berkeliaran, infrastruktur yang belum ada, dukungan sumber logistik yang terbatas dan sebagainya.

Darah ‘Bugis’ sebagai perantau dan pelaut ulung telah membawanya untuk terus berusaha mengatasi berbagai tantangan untuk di jadikan peluang masa depan yang lebih baik.

“Kondisi saat itu sangat memprihatinkan, semua dalam keterbatasan, belum lagi jika ada keluarga yang sakit, terpaksa mengandalkan obat-obat kampung,” kenang Ambe Hajja dikediamannya di Desa Tikke, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Kamis (19/11/2020).

Ambeh Hajja mulai membuka lahan di Tikke tepatnya di Dusun Maradde yang dikemudian hari di jadikan area perkebunan. Perjuangan Ambe Hajja bersama dengan keluarga besarnya dimulai.

Bertahun-tahun Ambe Hajja membuka dan mengolah lahan dengan berbagai jenis tanaman pangan sampai dengan kakao untuk menyambung hidup mereka. Hingga pada tahun 1988 mereka mendengar kabar ada sebuah perusahaan melakukan survey untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit di wilayah Tikke dan sekitarnya.

Perusahaan tersebut ialah PT Letawa sebagai salah satu anak usaha PT Astra Agro Lestari (AAL) yang mulai melakukan kegiatan operasionalnya tahun 1989.

Bersamaan dengan kegiatan yang di lakukan PT Letawa di Tikke, kegiatan serupa juga di lakukan PT Pasangkayu dan PT Mamuang di Pasangkayu dan PT Suryaraya Lestari I di Kecamatan Sarudu, kesemuanya merupakan anak usaha PT AAL.

Pada tahap awal, ide pembangunan perkebunan kelapa sawit saat itu di ragukan banyak pihak, bagaimana tidak, tantangan kondisi alamnya sangatlah berat dan penuh keterbatasan.

Akan tetapi keraguan tersebut perlahan-lahan sirna seiring dengan keseriusan pihak PT Letawa dengan mendatangkan alat berat berupa excavator, dozer, traktor, dumptruck, grader dan lain-lainnya untuk mendukungan semua kegiatannya.

Adalah Vence G Rattu (Alm), pria berdarah Manado, Sulawesi Utara (Sulut), orang yang memimpin pembukaan lahan untuk areal perkebunan di Tikke atau Kabupaten Pasangkayu saat ini.

Kerja kerasnya bersama tim yang dipimpinnya perlahan lahan membuktikan keyakinan bahwa lahan di Tikke memang tanah harapan yang layak untuk usaha budidaya perkebunan kepala sawit, hingga akhirnya Tikke dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa sawit di Sulawesi seperti saat ini.

Ambe Hajja yang terlebih dahulu membuka lahan di Tikke, dikemudian hari beliau (Ambe Hajja) intens menjalin komunikasi dengan pihak perusahaan untuk bersama-sama membangun Tikke.

Ambe Hajja berkepentingan atas akses jalan dan parit-parit induk untuk mengendalikan air agar lahan lebih layak untuk budidaya tanaman kelapa sawit. Sementara PT Letawa berkepentingan untuk mendapat informasi dan tenaga lokal yang siap di pekerjakan PT Letawa, sehingga hubungan yang saling menguntungkan.

Tidak lama setelah Ambe Hajja membangun komunikasi dengan pihak perusahaan, Ambe Hajja bersama dengan masyarakat yang lain berpartisipasi menjadi kontraktor pembukaan lahan hingga penanaman hingga perawatan kelapa sawit perusahaan.

Ambe Hajja mengisahkan, seiring dengan kemajuan pekerjaan di PT Letawa, maka PT Letawa mulai melakukan perekrutan karyawan secara besar-besaran.

“Mereka berasal dari Jawa Tengah (Jateng), masyarakat lokal, hingga Tanah Toraja dan Manado, asal Vence G Rattu,” cerita Ambe Hajja.

Kata Ambe Hajja, mereka tersebar di perumahan-perumahan yang disiapkan perusahaan terbagi pada bagian tanaman atau afdeling, bagian teknik hingga administrasi.

“Pada tahap tersebut beberapa tokoh masyarakat Tikke aktif terlibat dalam pembangunan sarana perumahan, kantor, gudang, mushola, gereja dan pendukung lainnya sebagai kontraktornya,” katanya.

Menurut dia, mushola dibangun hampir di setiap perumahan karyawan, sementara gereja di bangun disesuaikan dengan kebutuhan dengan gereja induk (Oukumene) satu buah, menyusul kemudian pembangunan sarana pendidikan untuk anak-anak sebagai bagian pelayanan perusahaan kepada karyawan dan keluarga.

“Untuk kegiatan peribadahan, perusahaan memberi tugas tambahan ke beberapa karyawan yang memiliki bekal ilmu agama sebagai pengurus masjid dan guru ngaji, sedang untuk pelayanan di gereja oukumene, PT Letawa melakukan perekrutan pendeta untuk melayani umat kristiani, mengingat masyarakat Tikke pada umumnya adalah masyarakat Kaili, Bugis, Mandar yang mayoritas muslim,” tutur Ambe Hajja.

Sekedar diketahui, Herman Rantetondok yang menjadi pendeta pertama di PT Letawa yang melayani umat kristiani mulai tahun 1993 sampai tahun 2015. Herman bukanlah asli Tikke, namun berasal dari Tanah Toraja. Herman juga memiliki anak, satu di antaranya adalah Frans alias Hemsi.

Ambe Hajja mengungkapkan, pada tahun 1990-an sampai tahun 2005-an, Tikke juga di kenal sebagai salah satu sentra penghasil kakao terbesar di Sulawesi.

Ambe Hajja, Barali Baco, M Issa, Umar P, Dahlan, Hababe adalah beberapa nama yang menguasai perkebunan kakao rakyat di Tikke saat itu.

“Puncak dari kejayaan petani kakao di Tikke adalah tahun 1997 sampai dengan tahun 2001, dimana harga kakao melonjak hingga 8 kali lipat sebagai dampak dari krisis moneter. Kakao merupakan komoditi yang menikmati lonjakan harga yang signifikan di tengah banyak komoditi lain mengalami kesulitan,” ungkap Ambe Hajja.

Ia menyatakan, pada tahun 2005, kondisi perkebunan kakao di Tikke mengalami kemunduran yang luar biasa karena berbagai serangan hama dan penyakit, dan yang lebih fatal adalah petani kakao tidak siap menghadapi ancaman serangan hama dan penyakit tersebut, terlebih dinas terkait juga tidak segera turun tangan membantu petani.

“Beruntung pada tahun 2002, perusahaan sudah mulai memperkenalkan sawit kepada masyarakat sebagai program income generating actifity (IGA), dimana salah satu peserta program IGA tersebut saya sendiri, sehingga sedikit banyak sudah familier dengan komodity kelapa sawit,” ujar Ambe Hajja.

Dirinya menyebutkan, pada tahun 2005, beberapa perwakilan masyarakat Tikke memohon kepada PT Letawa agar program IGA dapat di gulirkan kembali.

“Mereka (warga) melihat banyak yang di hasilkan dari program IGA sebelumnya. Program IGA itu sendiri pada tahun 2002 banyak mendapat penolakan karena masyarakat petani masih dalam masa keemasan kakao,” sebut Ambe Hajja.

Ambe Hajja mengutarakan, akhirnya dengan segala pertimbangan, maka program IGA bantuan bibit kelapa sawit di gulirkan kembali pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008.

“Saat ini bisa di katakan 75% masyarakat Tikke menggantungkan hidupnya dari budidaya komodity kelapa sawit. Tikke yang dulu di kenal sebagai daerah sentra penghasil kakao sekarang menjadi sentra penghasil kelapa sawit di Sulawesi,” terang Ammbe Hajja.

Saat ini di Tikke kata Ambe Hajja, sudah sulit di temukan budidaya kakao lagi, masyarakat sudah banyak yang mengkonversinya dengan kelapa sawit, baik melalui program IGA perusahaan, maupun secara swadaya atau mandiri.

“Tikke yang dulu hutan dan rawa-rawa saat ini sudah tumbuh menjadi daerah terbuka yang cukup pesat perkembangannya. Kondisi rumah masyarakat juga relatif lebih bagus dengan fasilitas listrik dari PLN sebagai penunjangnya, demikian juga dengan fasilitas pendidikan, kesehatan dan sarana ibadah jauh lebih maju,” katanya.

Lanjut Ambe Hajja, Tikke juga sudah melahirkan beberapa guru berprestasi yang tersebar bukan hanya di Sulawesi tetapi juga sampai di Kalimantan, demikian juga dengan tenaga medis, mulai dari perawat, bidan hingga dokter sudah lahir dari masyarakat Tikke.

“Saat ini 3 di antaranya adalah cucu dari saya sendiri. Pendek kata kehidupan masyarakat Tikke jauh mengalami peningkatan kesejahteraan melalui program IGA Astra Agro Grup di Kabupaten Pasangkayu,” tambahnya.

Sementara Camat Tikke Raya, Musmulyadi, menyampaikan kelapa sawit memang menjadi salah satu sektor penopang pertumbuhan ekonomi di Tikke Raya dan Kabupaten Pasangkayu umumnya di samping sektor perikanan.

“Tikke Raya yang memiliki luas wilayah mencapai 266,59 km dengan jumlah penduduk berjumlah 24.451 jiwa, lebih dari 75% penduduknya bermata pencaharian sebagai petani kelapa sawit dan pendukungnya,” paparnya.

Sambung Musmulyadi, pekerjaan rumah kita selanjutnya adalah bagaimana membangun system tata niaga yang lebih adil.

“Ini untuk membantu masyarakat petani mendapatkan bibit-bibit kelapa sawit yang berkualitas, mempersiapkan replanting (peremajaan) dan menguatkan kelembagaan kelompok tani demi masyarakat petani yang lebih sejahtera lagi,” sambungnya. (Sarwo/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya