Mahasiswa di Majene Refleksi 92 Tahun Hari Sumpah Pemuda

29 October 2020 17:18
Mahasiswa di Majene Refleksi 92 Tahun Hari Sumpah Pemuda
Gabungan organisasi mahasiswa dari KAMMI, BEM Stikes dan BEM Stikmar Majene gelar refleksi 92 tahun Hari Sumpah Pemuda di Monumen Perjuangan Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Majene, Sulbar. (Ibrahim/Trans89.com)
.

MAJENE, TRANS89.COM – Gabungan organisasi mahasiswa dari KAMMI, BEM Stikes dan BEM Stikmar Majene dipimpin Sapriadi gelar refleksi 92 tahun Hari Sumpah Pemuda di Monumen Perjuangan Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), Rabu (28/10/2020).

Massa aksi berkumpul di Jalan Andi Pangeran Pettarani kemudian berjalan kaki ke Monumen Perjuangan dengan membentangkan spanduk bertuliskan Aliansi 28 Oktober refleksi 28 Oktober Hari Sumpah Pemuda, mimbar pemuda.

Orasi Sapriadi menilai bahwa sejak dahulu gerakan pemuda selalu memberikan dampak yang positif bagi Indonesia.

“Dalam momentum ini, kita harus merefleksikan diri kita, bahwa hari ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Perlu adanya gerakan dari para pemuda untuk memperbaiki ini,” urai Sapriadi.

Menurut dia, kesadaran itulah yang menyebabkan mereka berusaha menggalang persatuan dalam sebuah kesadaran baru, dimana pada tahun 1926, diselenggarakan Kongres Indonesia Muda yang pertama (Kongres Pemuda I), bahkan di tahun itu pun kesadaran itu belum cukup untuk melahirkan sebuah sumpah pemuda.

“Hari ini kita turun kejalan sebagai rakyat Indonesia, 92 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, berlangsung Kongres Pemuda II yang menjadi pemicu lahirnya sumpah pemuda. Momentum sumpah pemuda menjadi salah satu titik balik perjalanan bangsa Indonesia menuju Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945,” tutur Sapriadi.

Orasi Rahmania menyampaikan, berbicara tentang sumpah pemuda belum lengkap jika kita belum membahas sejarah singkatnya dan senantiasa mengucapkan selamat sebagai refleksi perjuangan pemuda dalam kemerdekaan bangsa yang tak boleh dilupakan.

“Diawali dari kesusahan dan terkekangnya masyarakat karena penjajahan, membuat para pemuda berinisiatif bersatu membentuk suatu gerakan untuk merebut NKRI dan memperjuangkan kemerdekaannya, kemudian pemuda dari berbagai organisasi seluruh Indonesia bersatu,” papar Rahmania.

Lanjut Rahmania, sumpah pemuda merupakan momen penting yang setiap tahun selalu diperingati untuk mengingat telah menjadi bagian dalam sejarah besar perjalanan Indonesia merebut kemerdekaan.

“Para pemuda dengan ini bersumpah, kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia berbahasa persatuan, bahasa Indonesia,” tambahnya. (Ibra/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya