Aliansi Jember Menggugat Kembali Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law

24 October 2020 01:55
Aliansi Jember Menggugat Kembali Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law
Aliansi Jember Menggugat unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja dan mosi tidak percaya kepada pemerintah dan DPR RI, berlangsung di depan kantor DPRD Jalan Kalimantan, Sumbersari, Kabupaten Jember, Jatim. (Fahmi S/Trans89.com)
.

JEMBER, TRANS89.COM – Ratusan massa dari Aliansi Jember Menggugat (AJM) dipimpin Nurul Mahmuda unjuk rasa menolak Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja dan mosi tidak percaya kepada pemerintah dan DPR RI, berlangsung di depan kantor DPRD Jalan Kalimantan, Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), Kamis (22/10/2020).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, paramedis jalanan, Aliansi BEM se-Jember, sabda Gus Dur jadi kenyataan DPR taman kanak-kanak dan mosi tidak percaya, Jember tolak Omnibus Law, BEM SI, Aliansi BEM Seluruh Indonesia (SI) wilayah Jawa Timur, jangan sampai terulang suara-suara penolakan gaduh dunia maya direndahkan oleh siluman, #mositidakpercaya, ayo wes, DPR mulutmu berdosa sekali.

Orasi Nurul Mahmuda mengatakan, pemerintah dan DPR RI telah melanggar konstitusi dengan penghianatan terhadap rakyat.

“Dari seluruh kluster yang ada di UU Cipta Kerja, kesemuanya hanya untuk mengakomodir kepentingan pemodal,” kata Nurul.

Menurut dia, penindasan terhadap buruh dan rakyat kecil akan semakin kekal di bumi pertiwi Indonesia tercinta.

“Salah satu bentuk represif juga ditunjukkan lewat ancaman Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terhadap Rektor yang membiarkan mahasiswanya bergabung dalam aksi protes penolakan UU Cipta Kerja,” tutur Nurul.

Ia menyebutkan, atas pertimbangan itulah, kami Aliansi Jember Menggugat menyatakan menolak dan mengecam keputusan pemerintah dan DPR RI dalam mengesahkan UU Cipta Kerja, karena dinilai jauh dari nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

“Mosi tidak percaya kepada pemerintah dan DPR RI, serta mengecam keras tindakan represif oknum aparat dalam mengamankan aksi unjuk rasa karena menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi,” sebut Nurul.

Massa aksi berusaha merusak barigade kawat berduri, kemudian terjadi selisih paham antar massa aksi dan hampir terjadi perkelahian sesama masa aksi.

Tak lama kemudian situasi kembali memanas dan massa merusak kawat berduri serta melempari kantor DPRD dengan batu.

Pihak kepolisian mengimbau massa aksi untuk membuka jalan yang ditutup dan untuk membubarkan diri kembali ketempat masing- masing, akan tetapi massa aksi masih tetap bertahan sambil menyayikan lagu-lagu perjuangan.

Hingga pukul 20.20 WIB, massa aksi baru membubarkan diri kembali ketempat masing-masing. (Fahmi/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya