Astra Agro Telah Menanam Mangrove Ditiga Tempat Berbeda, Saat Ini Menjadi Potensi Wisata di Pasangkayu

23 October 2020 15:17
Astra Agro Telah Menanam Mangrove Ditiga Tempat Berbeda, Saat Ini Menjadi Potensi Wisata di Pasangkayu
Program Astra Mangrove Conservatioan yang direalisasikan PT Letawa berupa penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Jengeng Raya, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar. (Sarwo Kartika Roni/Trans89.com)
.

PASANGKAYU, TRANS89.COM – Kabupaten Pasangkayu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), wilayahnya terbentang dari Sarjo perbatasan Kabupaten Donggala hingga Benggaulu berbatasan Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), sehingga Pasangkayu dikenal sebagai kabupaten yang memiliki garis pantai yang cukup panjang.

Pasangkayu juga di kenal sebagai salah satu sentra penghasil minyak kelapa sawit, baik yang berasal perusahaan maupun kebun plasma masyarakat atau swadaya.

Dengan dukungan beberapa pabrik kelapa sawit (PKS), produksi tandan buah sawit (TBS) sampai saat ini dapat terkelola dengan baik menjadi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Demikian juga pemasaran produksi, dengan dukungan pelabuhan (dermaga) yang terletak di Tanjung Bakau Desa Ako dan Bone Manjing di Bamballoka sampai dengan saat ini tidak mengalami kendala yang berarti.

Di tahun 2009, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Pasangkayu, PT Letawa merupakan anak usaha PT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk Grup Area Celebes mencanangkan program Astra Mangrove Conservatioan (AMC) berupa penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Jengeng Raya, Desa Tikke dan Tanjung Bakau Desa Ako, dimana program tersebut merupakan respon atas kondisi pesisir pantai rusak akibat abrasi.

Staff konservasi PT Letawa, Rustam mengatakan sampai dengan saat ini telah menanam mangrove sekitar 292.000 pohon di tiga tempat tersebut dan sampai sekarang program tersebut masih berlangsung.

“Tahun 2014, kami di berikan anugrah dari pemerintah pusat berupa piala Kalpataru yang diserhakan langsung Wakil Presiden saat itu, Budiono,” kata Rustam menjelaskan beberapa prestasi yang pernah di raih PT Letawa.

Menakar Mangrove Sebagai Potensi Wisata

Setelah lebih 10 tahun berlalu, kondisi tanaman mangrove yang di tanam sejak tahun 2009 menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sangat menggembirakan. Berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, mudah di temukan karena hutan mangrove memang dikenal sebagai media yang bagus untuk berkembangbiaknya biota laut tersebut.

“Itu yang pertama, yang kedua keberadaan hutan mangrove juga telah menjadi benteng hijau yang kuat untuk menahan bahaya abrasi yang sering terjadi beberapa dekade lalu,” terang Rustam.

Terkait dengan potensi wisata, Kepala Desa (Kades) Tikke Thamrin S mengungkapkan dirinya sudah mendorong kawasan hutan mangrove di Desa Tikke dan Desa Jengeng Raya sebagai daerah yang berpotensi menjadi daerah tujuan wisata lokal.

“Dibeberapa kesempatan Musrembang tingkat Kabupaten Pasangkayu, saya sudah sampaikan ke forum tentang potensi wisata mangrove di Tikke dan Jengeng Raya,” ungkap Thamrin.

Ia menyebutkan, kami sudah siapkan anggaran melalui anggaran dana desa (DD) untuk memperbaiki dan menyiapkan infrastrukturnya, tetapi kami tidak punya anggaran untuk perbaikan akses jalan menuju lokasi tersebut.

“Jalan menuju hutan mangrove Desa Tikke masih ada beberapa titik yang rusak dan becek, dan kami berharap Dinas Pekerjaan Umum dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut,” sebut Thamrin.

Lanjut Thamrin, melihat potensi hutan mangrove sebagai wisata alam di Pasangkayu, sudah saatnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasangkayu bersama pemerintah Keamatan Tikke Raya dan Desa Tikke untuk bahu membahu mewujudkan mimpi bersama tersebut.

“Dengan terbentuknya daerah wisata mangrove, berarti kita juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru, di samping sebagai fungsi penahan abrasi dan penyedia media kembang biaknya biota laut,” tambahnya.

Sementara itu, Administratur (ADM) PT Letawa Tapianus Nainggolan melalui Community Development (CDO) PT Letawa, Hermanto Rudi, menyampaikan ini sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem, dimana beradaan ekosistem mangrove terbilang cukup penting khususnya bagi kawasan pesisir, baik sebagai benteng pertahanan terhadap resiko bencana maupun sebagai mata pencaharian alternatif melalui pengembangan industri pariwisata.

“Tanaman bakau berfungsi utama sebagai pencegah abrasi dan erosi di kawasan pantai. Ekosistem mangrove juga menjadi tempat hidup biota laut dan satwa serta menjadi temapt wisata,” papar Rudi di Pasangkayu, Jumat (23/10/2020).

Rudi mengungkapkan, tanaman mangrove juga dapat mencegah pemanasan global memang menjadi ancaman yang sangat serius untuk alam dan manusia, dan salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi dampak pemanasan global adalah dengan mengembangkan kawasan ekosistem mangrove.

“Tanaman mangrove juga memiliki nilai guna sebagai salah satu penopang pemanasan dari perairan laut. Pemanfaatan ekosistem pesisir untuk karbon biru sebagai bentuk upaya untuk mengurangi emisi karbondioksida yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan,” ungkapnya. (Sarwo/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya