Masyarakat Puncak Jaya Tuntut Pengangkatan Sekda Orang Asli Papua

17 October 2020 02:13
Masyarakat Puncak Jaya Tuntut Pengangkatan Sekda Orang Asli Papua
Masyarakat menolak hasil keputusan pengangkatan Tumiran sebagai Sekda Kabupaten Puncak Jaya dan menginginkan mengangkat putra asli papua sebagai Sekda yakni Pilemon, berlangsung depan jantor bupati Jalan Drs Philipus Andreas Coem, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. (Hanung/Trans89.com)
.

PUNCAK JAYA, TRANS89.COM – Ratusan masyarakat menolak hasil keputusan pengangkatan Tumiran sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Puncak Jaya dan menginginkan mengangkat putra asli papua sebagai Sekda Kabupaten Puncak Jaya yakni Pilemon Tabuni S.

Aksi dipimpin Leo Wonda berlangsung depan kantor bupati Jalan Drs Philipus Andreas Coem, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Rabu (14/10/2020).

Massa aksi membawa pamflet bertuliskan, kami masyarakat Puncak Jaya sejutu dan sepakat Sekda Puncak Jaya Bapak Dr Pilemon Tabuni, dan kami tolak orang dari luar Puncak Jaya atau orang pendatang. Kami toko intelektual Kabupaten Puncak Jaya setuju dan sepakat Sekda Puncak Jaya orang asli Papua sesuai dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001, tidak boleh non Puncak Jaya.

Massa aksi disambut Kapolres Puncak Jaya, AKBP Mikael Suradal dan Asisten III Sekretaris Dearha (Setda) Kabupaten Puncak Jaya Mulyadi.

Mikael Suradal meyampaikan, apa yang kalian lakukan sudah salah mengingat waktu dan sudah malam.

“Bapak Bupati tidak berada di tempat, tetapi massa ingin menyampaikan aspirasinya,” papar Mikael.

Penyampaian aspirasi Falen Tabuni, mengatakan agar Pilemon Tabuni harus diberikan kursi Sebagai Sekda Kabupaten Puncak Jaya.

“Tulisan yang di pamflet harus di teruskan dan disetujui,” kata Falen.

Noki Telenggeng mengemukakan, kami tidak ada yang sekolah hanya Pilemon Tabuni.

“Jadi harus dia bapak Pilemon yang menjadi Sekda di Kabupaten Puncak Jaya,” Noki.

Otina Wonda menyebutkan, Pilemon Tabuni harus masuk di pemerintahan karna dia sudah bergelar doktor.

“Bapak Pilemon harus jadi Sekda karena hanya dia bergelar doktor orang Puncak Jaya,” sebut Otina.

Welio Wonda menegaskan kalau dirinya lahir dan besar di kota Pucak Jaya.

“Kami meminta agar orang asli papua (OAP) yang menjabat di kota kami sendiri,” tegasnya.

Selanjutnya Welio membacakan permohonan tertulis, mewakili seluruh organisasi dan intelektual, kami tolak dengan keras non papua yang menjadi Sekda Kabupaten Puncak Jaya.

“Klau bukan OAP yang menjadi Sekda, kami akan bikin aksi dengan massa yang lebih besar lagi,” ancam Welio.

Tanggapan Asisten III, Mulyadi, menyampaikan aspirasi kalian sudah kami dengar dan akan diteruskan ke Bupati Puncak Jaya.

“Saya dan juga Kapolres mengucapkan banyak terimakasih kepada adik-adik semuanya karena tetap menjaga keamanan dalam melakukan aksi,” paparnya.

Selanjutnya penyerahan tuntutan naskah tertulis oleh tokoh intelektual Kabupaten Puncak Jaya, Welio Wonda kepada Asisten III Setda Kabupaten Puncak Jaya, Mulyadi. (Hanung/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya