Tolak Omnibus Law, Massa SMRI dan LNMD Serta API Kembali Unjuk Rasa di Pintu Monas Barat Daya Patung Kuda

16 October 2020 17:44
Tolak Omnibus Law, Massa SMRI dan LNMD Serta API Kembali Unjuk Rasa di Pintu Monas Barat Daya Patung Kuda
Massa dari SRMI, LMND, dan API kembali unjuk rasa tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, berlagsung di pintu Monas Barat Daya Patung Kuda Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. (Bagus Prasetyo A/Trans89.com)
.

JAKARTA, TRANS89.COM – Ratusan massa dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), dan Aksi Perempuan Kartini (API) dipimpin Samsudin dan Saman unjuk rasa tolak Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja, berlagsung di pintu Monas Barat Daya Patung Kuda Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2020).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, LMND, API Kartini, dan Rakyat Miskin Indonesia tolak UU Cipta Kerja, mosi tidak percaya. Cabut Omnibus Law UU Cipta Kerja, #mosi tidak perlu percaya, cabut UU Ciptakerja #menangkap Pancasila, wujudkan kesejahteraan sosial #cabut Omnibus Law, dukun dari Banyuwangi, dukun dari Banten, dukun Gunung Kawi, dan dukun Santet Siao lawan Goib.

Orasi perwakilan SMRI, Haris, mengatakan sekarang menghadapi masa pandemi, setiap hari rakyat di suruh bayar denda jika tidak memakai masker dan lain sebagainya, dimana seharusnya pemerintah harus peka mengurus pandemi buka mengurus UU Omnibus Law, yang gila rakyatnya atau DPR-nya?

“Saat ini kaum perempuan harus paham hukum, paham regulasi, apalagi regulasi saat ini gila-gilaan, bahkan DPR tidak tau draf RUU Omnibus Law. Jika pemerintah membuat peraturan tanpa pemberitahuan pusat, maka bis dicabut oleh pusat,” kata Haris.

Menurut dia, kami mengambil draf dari website DPR RI, jika itu palsu berati yang kena prank (lelucon) itu rakyat miskin, kita terkena hoax.

“Kita sama-sama mempelajari hal tersebut, biar rakyat miskin kota mempelajari UU Omnibus Law yang ambyar (bercerai berai), kita pelajari bersama, kita tidak bikin hoax tapi pemerintah sendiri, karena membuat UU tidak transparansi kepada rakyatnya. Jika rakyat bertanya-tanya itu wajar, akan tetapi DPR disana tergesa-gesa membuat UU,” tutur Haris.

Ia menyebutkan, kami sudah tanya kepada kawan wartawan terhadap draf RUU Omnibus Law, tapi belum jelas, DPR terlalu menggebu-gebu membuat UU Omnibus Law.

“Jangan rakyat sampai tidak pernah tau apa itu isi Omnibus Law, UU ini dibuat bukan untuk kepentingan rakyat, ini adalah kepentingan kapitalis yang sengaja ingin masuk ke Indonesia,” sebut Haris.

Dirinya mengemukakan, kami melihat UU Cipta Kerja sampai saat ini sangat bertentangan dengan Pancasila.

“Kami meolak UU Cipta Kerja secara keseluruhan, dan sudah ada anggota LMND di tangkap di Maluku dan Palembang, keran-keran demokrasi telah ditutup oleh oknum aparat kepolisian. Kenapa kami menolak UU Cipta Kerja, karenta tidak memihak rakyat Indonesia,” ujar Haris.

Massa aksi melakukan teatrikal dukun yang membaca mantra untuk kesejahteraan Rakyat. Kemudian melakukan long march memutari Bundaran Indosat lalu kembali menuju Patung Kuda depan pintu Monas Barat Daya.

Selanjutnya massa aksi melakukan teatrikal pembakaran menyan dan penaburan bunga di atas replika keranda mayat. Dan massa aksi bergeser ke taman nasional Monas. (Bagus/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya