Solidaritas Mahasiswa Korban Rasis dan Tragedi Ekspo Berdarah Gelar Pembakaran 1.000 Lilin di Kota Jayapura

26 September 2020 17:59
Solidaritas Mahasiswa Korban Rasis dan Tragedi Ekspo Berdarah Gelar Pembakaran 1.000 Lilin di Kota Jayapura
Sejumlah mahasiswa mengatasnamakan dirinya solidaritas mahasiswa korban rasis dan tragedi ekspo berdarah dalam rangka memperingati 1 tahun para korban pelajar dan mahasiswa anti rasisme di ekspo Waena gelar aksi pembakaran 1.000 lilin di lapangan volly asrama Ninmin Nduga Jalan Biak, Kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua. (Hanung/Trans89.com)
.

JAYAPURA, TRANS89.COM – Sejumlah mahasiswa mengatasnamakan dirinya solidaritas mahasiswa korban rasis dan tragedi ekspo berdarah dalam rangka memperingati 1 tahun para korban pelajar dan mahasiswa anti rasisme di ekspo Waena 23 September 2019-23 September 2020 gelar aksi.

Aksi pembakaran 1.000 lilin itu dipimpin Ketua Posko Umum Eksodus Pelajar dan Mahasiswa Papua se-Indonesia, Yusni Iyowau berlangsung di lapangan volly asrama Ninmin Nduga Jalan Biak, Kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (23/9/2020) malam.

Massa aksi membentangkan spanduk bertuliskan, peringatan satu tahun peristiwa tolak rasisme ekspo berdarah 23 September 2019.

Selain itu, Yusni Iyowau juga menyampaikan tuntutan sesuai yang tertulis di spanduk, mengatakan kami menuntut Rektor Uncen segera bertanggungjawab atas kematian 4 mahasiswa Jayapura, Papua. Pangdam Dan Kapolda Papua segera bertanggungjawab atas penembakan 4 mahasiswa oleh TNI-Polri.

“Presiden Indonesia Joko Widodo segera usut tuntas kematian dari 4 mahasiswa dan segera bertanggungjawab. Rektor Uncen Jayapura segera cabut MoU dengan Polda Papua,” kata Yusni.

Ia menyebutkan, Presiden Indonesia, DPR RI Dan MA RI segera menghapuskan Undang-Undang (UU) pasal makar dan membuka ruang demokrasi bagi rakyat Papua serta segera bebaskan seluruh tahanan rasis di seluruh wilayah Papua yang sampai hari ini masih ditahan.

“Segera tarik militer organik maupun non organik di seluruh tanah Papua dan stop melakukan pengiriman militer secara besar-besaran. Solusi untuk hidup merdeka,” sebut Yusni.

Sementara orasi Yusni Iyowau menyampaikan, pembakaran lilin ini bertujuan untuk menimbulkan rasa solidaritas kita sesama mahasiswa terhadap tragedi ekspo berdarah yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari mahasiswa oleh oknum aparat keamanan Indonesia.

“Diharapkan kedepannya kita dapat lebih kompak dalam memerangi rasisme, karena itu merupakan pembunuhan karakter orang asli Papua (OAP),” papar Yusni.

Lanjut Ysuni, tragedi ekspo berdarah yang memakan korban jiwa dari mahasiswa sangat membekas dan akan tetap kita kenang setiap tahunnya sebagai hari duka nasional.

“Rakyat Papua yang menjadi korban atas ketidakadilan oleh negara Indonesia sehingga harus kita perjuangkan bersama-sama untuk masa depan lebih baik bagi orang Papua,” tambahnya.

Pukul 20.40 WIT, massa aksi selesai melaksanakan pembakaran lilin, selanjutnya membubarkan diri dengan tertib dan aman. (Hanung/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya