Aksi Kamisan Solo ke 76 Tuntut Ungkap Kasus Pembunuhan Munir

12 September 2020 08:09
Aksi Kamisan Solo ke 76 Tuntut Ungkap Kasus Pembunuhan Munir
Aksi Kamisan Solo ke 76 dengan tema, '16 tahun pembunuhan Munir Said Thalib', dipimpin Muh Hisbun Payu di Bundaran Gladak Jalan Slamet Riyadi, Kota Surakarta, Jateng. (Arif Faisal/Trans89.com)
.

SURAKARTA, TRANS89.COM – Aksi Kamisan Solo ke 76 dengan tema, ’16 tahun pembunuhan Munir Said Thalib’, dipimpin Muh Hisbun Payu di Bundaran Gladak Jalan Slamet Riyadi, Kota Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (10/9/2020).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, reformasi masih dikorupsi, Aksi Kamisan Solo #lawanimpunitas #jangandiam #lawan. Munir dibunuh karena benar, 16 tahun tanpa keadilan, 16 tahun kami merawat ingatkan munir, apa kabar. #Indonesiadaruratkeadilan, #septemberhitam.

Orasi Muh Hisbun mengatakan, kita di sini ingin mengingatkan bahwa kematian Munir yang sudah 16 tahun berlalu tetapi tidak ada kejelasan hukum dari aparat keamanan terkait dengan terbunuhnya Munir.

“Lalu dimana fungsi hukum yang ada di negara ini, sampai saat ini pelaku yang sebenarnya belum tertangkap dan di adili sesuai dengan hukum yang berlaku. Untuk itu, kita sebagai penerus pejuang HAM jangan pernah jemu menyuarakan keadilan bagi aktivis yang telah dimusnahkan oleh sistem pemerintahan yang korup,” kata Hisbun.

Orasi Edo Johan menyebutkan, kita suarakan 16 tahun pembunuhan munir, kita juga perlu ingat kembali aksi reformasi kita 1 tahun lalu yang dirusak oleh aparat, sehingga banyak jatuh korban dari rekan-rekan kita.

“Saat kejadian Munir mungkin kita semua saat itu masih kecil, dimana Munir dibunuh dengan sengaja dan hingga sekarang pelakunya tidak pernah diketahui,” sebut Edo.

Menurut dia, saat itu aktor lapangan seperti Policarpus dijadikan kambing hitam oleh sistem, padahal kita tahu bahwa Policarpus merupakan anggota BIN.

“Lalu apakah mungkin anggota BIN sebagai pelakunya, dimana saat itu Policarpus bergerak tanpa ada instruksi dari atasan mereka yang sering disebut dengan instruksi komando, dan itu jelas adalah kemunafikan yang dijalankan sistem pada masa itu,” tutur Edo.

Ia menjelaskan, 16 tahun berlalu dan pelaku yang sebenarnya tidak pernah terungkap, beberapa saat lalu Presiden Jokowi berjanji akan ungkap pembunuhan munir dan dia kini ingkar janji.

“Lalu apakah Jokowi orang baik ? Jokowi sama busuknya dengan orde baru, karena apa yang dikatakan Jokowi adalah Presiden milik rakyat, nyatanya Jokowi ada dalam sistem. Kita sering dimiringkan oleh aparat, bahwa apa yang kita lakukan ini bertentangan dengan apa yang mereka pikirkan dan berlawanan dengan sistem mereka,” jelas Edo.

Dirinya mengemukakan, kita bukan orang bodoh yang tdlidak mengerti tentang hukum, kini kita telah dewasa dan kita sudah mengerti bagaimana sistem hukum yang sebenarnya. Dan aparat mempunyai segalanya, mulai dari sistem hingga alat untuk menculik dan membunuh aktivis.

“Polisi masa kini yang didengungkan sebagai polisi modern, kenyataannya polisi banyak membunuh warga tak berdosa dengan asas praduga tak bersalah, tidak ada TNI dan Polri pemangku HAM serta pemangku kewajiban negara. Bagaimana alat negara harus profesional, misalnya di Eropa, polisi megang tongkat, tapi di Indonesia hanya pegang senjata, itu artinya aparat tidak profesional,” ujar Edo.

Orasi Dimas Suro Aji, mengatakan hari ini telah berlalu genap 16 tahun lamanya kasus Munir tidak terselesaikan.

“Jika 2 tahun lagi kasus ini tidak juga terungkap, maka kita akan bergerak menuntut keadilan dengan seadil-adilnya hingga titik darah penghabisan kita pertaruhkan untuk menjaga kokohnya HAM di Indonesai,” kata Dimas. (Arif/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya