Ekspor dan Harga Sawit Semakin Membaik, Mukti: Ekspor Naik Signifikan 13,9%

12 August 2020 17:04
Ekspor dan Harga Sawit Semakin Membaik, Mukti: Ekspor Naik Signifikan 13,9%
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono. (Humas GAPKI)
.

JAKARTA, TRANS89.COM – Dibandingkan dengan bulan Mei 2020, produksi crude palm oil (CPO) pada bulan Juni adalah 4.096 ribu ton atau naik 13,5%.

“Konsumsi dalam negeri turun 3,5% menjadi 1.331 ribu ton, ekspor naik signifikan 13,9% menjadi 2.767 ribu ton, dan harga CPO masih menunjukkan kenaikan dari rata-rata USD 526 pada bulan Mei menjadi USD 602 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Juni. Nilai ekspor juga naik dari USD 1,474 milyar menjadi USD 1,624 milyar,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono melalui siaran persnya di Jakarta, Rabu (12/8/2020).

Menurut dia, apabila dibandingkan Januari-Juni 2019, produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) Januari-Juni 2020 sebesar 23.504 ribu ton adalah 9,2% lebih rendah, dimana konsumsi dalam negeri sebesar 8.665 ribu ton atau 2,9 % lebih tinggi, volume ekspor adalah 15.503 ribu ton atau 11,7% lebih rendah dan nilai ekspornya 6,4% lebih tinggi menjadi senilai USD 10.061 juta.

“Produksi bulan Juni yang lebih tinggi dari bulan Mei 2020 diduga selain karena carry over produksi bulan Mei yang terkendala karena lebaran juga sebagian provinsi telah masuk ke periode tren produksi naik,” tutur Mukti.

Ia menjelaskan, konsumsi dalam negeri bulan Juni yang masih lebih rendah dibandingkan dengan bulan Mei, diduga masih disebabkan oleh pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dan konsumsi untuk pangan turun 3,9% menjadi 638 ribu ton. Persentase penurunan konsumsi pangan lebih rendah dari rata-rata penurunan 3 bulan sebelumnya sebesar 5,4%.

“Untuk konsumsi biodiesel pada Juni turun sebesar 5,4% dari bulan Mei menjadi 551 ribu ton. Dibandingan dengan Januari-Juni 2019, konsumsi biodiesel 2020 adalah 25% lebih tinggi dikarenakan implementasi program B30. Konsumsi dalam negeri bulan Juni untuk oleokimia masih naik dengan 6,8% dibandingkan bulan Mei meskipun dengan laju yang lebih rendah,” jelas Mukti.

Dirinya menyebutkan, kenaikan ekspor cukup tinggi pada bulan Juni, setelah turun pada bulan sebelumnya. Kenaikan terjadi pada CPO (31%), refined palm oil (10,2%), minyak laurik (6%) dan juga adanya ekspor biodiesel.

“Sementara kenaikan terbesar untuk ekspor dengan tujuan India (52%) menjadi 583 ribu ton, Afrika (43,3%) menjadi 271 ribu ton, China (33%) menjadi 440 ribu ton, dan Pakistan (32%) menjadi 203 ribu ton,” sebut Mukti.

Lanjut Mukti, kenaikan ekspor CPO ke India mencapai 206 ribu ton dari total kenaikan sebesar 200 ribu ton, namun terjadi penurunan pada ekspor produk lain terutama refined palm oil. Dan kegiatan ekonomi China, India dan banyak negara lain mulai pulih, sehingga permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestiknya mulai naik.

“Sementara kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih, dimana kedepan permintaan minyak sawit untuk pangan diperkirakan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel. Kenaikan permintaan dan membaiknya harga minyak bumi diperkirakan akan menyebabkan harga minyak nabati naik,” tambahnya. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya