Pernyataan Sikap FPI dan PA 212 Karanganyar Terkait Aksi 27 Juli Depan Gedung DPR/MPR

31 July 2020 09:02
Pernyataan Sikap FPI dan PA 212 Karanganyar Terkait Aksi 27 Juli Depan Gedung DPR/MPR
Penyampian pernyataan sikap DPW FPI, PA 212 dan LBI Karanganyar, terkait aksi 27 Juli 2020 depan Gedung DPR/MPR di Mapolres Karanganyar Jalan Lawu, Padangan, Jungke, Kabupaten Karanganyar, Jateng. (Arif Faisal/Trans89.com)
.

KARANGANYAR, TRANS89.COM – Penyampian pernyataan sikap Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Front Pembela Islam (FPI), Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan Laskar Bela Islam (LBI) Karanganyar, terkait aksi 27 Juli 2020 depan Gedung DPR/MPR oleh kelompok Neo PKI yang menghinakan dan melecehkan Ulama Habib Muhammad Rizeiq Shihab (HRS) dipimpin Hendra Kiswara Putra di Mapolres Karanganyar Jalan Lawu, Padangan, Jungke, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (29/7/2020).

Orasi Ketua PA 212 Karanganyar, Ustad Fadlun Ali mengatakan, kami memang bukan orang suci, kami juga bukan santri apalagi Kyai, kami hanya seorang berandal yang cinta Nabi dan keturunannya yang suci.

“Jika ada yang berani menghina, memfitnah, mencaci, apalagi menyakiti cucu Nabi, maka kami akan siap mati demi kehormatan dzuriyah Nabi yang suci,” kata Fadlun.

Ia mengutuk keras atas pelecehan terhadap Ulama, Kyai, Habaib serta pembakaran foto Habib Rizieq Shihab oleh antek-antek neo komunis.

“Segera tangkap pelaku aksi 27 Juli 2020 di depan gedung DPR/MPR RI oleh kelompok Neo PKI yang menghinakan dan melecehkan Ulama sekliber Habib Muhammad Rizeiq Shihab,” tegas Fadlun.

Kemudian dilakukan peyerahan pernyataan sikap oleh perwakilan massa dipimpin Fadlun Ali dan diterima Kabag Ops Polres Karanganyar, Kompol I Wayan Suditha.

Hendra Kiswara menyebutkan, hati kami menangis, karena penegak hukum hanya berjajar seperti wayang, jangan sampai Karanganyar yang sudah tentram ini kita jadikan lahan jihad, dan kami sangat miris atas kebijakan-Kebijakan pemerintah yang selalu memojokan aktivis Islam.

“Kenapa cebong-cebong yang menyerukan Pancasila selalu dilindungi, namun aktivis Islam yang benar-benar membela Pancasila dan NKRI malah di sudutkan dan di anggap menebarkan khilafah dan di katakan radikal. Kami akan melakukan jihad apabila orang-orang yang menghinakan Imam Besar HRS tidak di tangkap, kita siap jihad,” sebt Hendra.

Ustadz Panji SB menyatakan keprihatinannya yang sangat mendalam, dan kita sebagai umat Islam sangat sedih sekali tatkala sesama anak bangsa saling berbenturan atau tidak harmonis, hal ini harus mendapat perhatian dari pihak kepolisian.

“Aksi 27 Juli 2020 depan gedung DPR/MPR oleh kelompok Neo PKI sangat melecehkan dan menghinakan Ulama kami. Kemudian apabila tidak di adili, maka jangan salahkan kami apabila kami bergerak,” ujar Panji.

Untuk itu, kata Panji, kami menohon kepada bapak-bapak penegak hukum untuk menangkap pelaku dan sampai vonisnya akan kami ikuti.

“Memohon agar pihak kepolisian di tingkat daerah ini menindaklanjuti dan meneruskan aspirasi kami ini kepada Polda hingga Kapolri, agar pelaku-pelaku di adili secara hukum yang berlaku,” kata Panji.

Pernyataan sikap dibacakan Fadlun Ali, menyampaikan sehubungan dengan kejadian yang sangat tidak bermoral pada aksi 27 Juli 2020 depan gedung DPR/MPR oleh kelompok Neo PKI yang menghinakan dan melecehkan Ulama sekliber Habib Muhammad Rizeiq Shihab dengan merusak dan menginjak-injk bahkan membakar poster Ulama Indonesia Imam Besar FPI, Al Habib Mihammad Rizieq Shihab, maka kami dengan tegas menyatakan sikap.

“Bersyukur kepada Allah SWT dengan mengucapkan Alhamdulillah atas tidak terbakarnya poster dengan foto Imam Besar (IB) HRS saat berupaya dibakar oleh gerombolan Neo PKI pada saat aksi, ini menunjukkan kebesaran Allah SWT dan karomah IB HRS,” papar Fadlun.

Menurut dia, IB HRS sebagai warga negara Indonesia (WNI) yang merdeka, mempunyai hak dan kebebasan untuk pulang ke tanah air Indonesia kapan saja tanpa tekanan atau ancaman maupun intimidasi dari pihak manapun.

“Kami mengecam dan mengutuk keras pelaku penghinaan dan pelecehan terhadap IB HRS depan gedung DPR MPR RI. FPI GNPF Ulama dan PA 212 akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa tersebut kepada kepolisian,” tutur Fadlun.

Dirinya mendesak penegak hukum segera memproses pelaku penghinaan dan pelecehan terhadap IB HRS dalam waktu yang secepat-cepatnya, menghimbau umat Islam untuk mengedepankan proses upaya-upaya hukum, baik hukum negara, agama ataupun hukum adat kepada pelaku penghinaan dan pelecehan Ulama/Habaib terutama IB HRS.

“Menginstruksikan kepada Laskar FPI dan mujahid 212 untuk bersiap siaga dalam menghadapi tantangan mereka komunis penghianat bangsa serta menjaga para ulama dan tokoh masyarakat dari ancaman gerombolan Neo PKI,” tegas Fadlun.

Ia mengemukakan, dikarenakan kebangkitan Neo PKI yang berteriak-teriak mendukung Pancasila padahal merusak Pancasila itu sendiri, maka kami menuntut dengan tegas agar inisiator RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) dan partai yang ingin merubah terhadap Pancasila diproses hukum, dan jika terbukti secara hukum, maka wajib di bubarkan.

“Jika makar ini tidak diproses secara hukum, maka netralitas dan nasionalisme Polri sebagai penegak hukum dan TNI sebagai penjaga kedaulatan NKRI dan Pancasila patut dipertanyakan,” ujar Fadlun. (Arif/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya