Kisah Babinsa di Berau Menjaga Keberlangsungan Penyu di Pulau Derawan

07 July 2020 02:51
Kisah Babinsa di Berau Menjaga Keberlangsungan Penyu di Pulau Derawan
Babinsa Kodim 0902 Berau, Sertu Wisandy Yuliastriono Suwardi bersama pembudidaya penyu, Ading saat memantau penyu bertelur di Pulau Derawan Kabupaten Berau, Kaltim. (Penrem 091 Aji Surya Natakesuma)
.

BERAU, TRANS89.COM – Menegakkan kedaulatan negara dan mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah menjadi tugas pokok anggota TNI di manapun berada. Dan tugas itu dipegang teguh Sertu Wisandy Yuliastriono Suwardi seorang Babinsa Kodim 0902 Berau.

Tidak hanya menjaga keamanan di wilayah dia bertugas, pria yang akrab dipanggil Pak Babin oleh masyarakat setempat punya kesibukan lain.

Dia juga turut menjaga dan melestarikan satwa yang dilindungi. Salah satunya penyu yang merupakan salah satu ikon Kabupaten Berau. Pulau Derawan dengan pantai pasir putih memang menjadi salah satu tempat favorit penyu bertelur, yang merupakan kawasan penyu di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).

Untuk menjaga agar tidak terjadi perburuan telur penyu, setiap malam, Sertu Wisandy Yuliastriono Suwardi akrab disapa Sandy ini juga berkeliling pulau memastikan Pulau Derawan bebas dari pencurian telur penyu. Ia mengecek setiap titik yang menjadi tempat penyu bertelur.

“Ini sudah kewajiban. Penyu satwa yang dilindungi. Saya juga mencintai penyu tersebut. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang akan menjaga penyu tersebut,” ujar Sandy di Berau, Minggu (5/7/2020) malam.

Kecintaannya terhadap alam dan lingkungan terus ia buktikan. Dan terus menjaga dari tangan nakal penjarah telur penyu di Pulau Derawan. Warga pun sudah paham, jika pada malam hari, Pak Babin pasti akan berkeliling pulau untuk mengecek penyu-penyu yang bertelur di pasir pantai.

Ia mengaku tidak segan-segan menangkap oknum jika mengetahui ada yang berusaha mencuri telur penyu tersebut. Ia beranggapan, ini merupakan tugas menjaga dan melestarikan salah satu makhluk Tuhan.

“Kalau telur penyu terus menerus dicuri, bakal punah. Anak cucu kita nanti tidak tahu apa itu penyu,” kata Sandy.

Sandy menjadi seorang Babinsa di Pulau Derawan sejak Tahun 2014 lalu. Selama 6 tahun, ia bersama dengan warga menjaga telur penyu tersebut. Ia kerap berkonsultasi dengan salah seorang warga bernama Ading yang membudidayakan penyu.

“Bersama Ading, saya setiap malam berkeliling pulau mencari telur penyu yang kemudian dibudidayakan hingga menjadi tukik (anak penyu),”tutur Sandy.

Dirinya mengemukakan, telur penyu itu memiliki masa inkubasi selama 2 bulan. Setelah menjadi tukik, baru kita lepas liarkan. Itu suatu kebanggaan tersendiri buat saya.

Sandy beranggapan, penyu harus dilestarikan. Jika punah, Pulau Derawan akan kehilangan salah satu objek yang biasanya dinikmati wisatawan.

“Saya malu jika ditanya wisatawan. Kini wisatawan nyaris setiap hari bisa melihat penyu berenang,” ungkap Sandy pria kelahiran Seram Bagian Timur (SBT), Ambon ini.

Sebagai seorang TNI, Sandy merasa memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Baik itu tumbuhannya dan hewan. Sebelumnya, penyu kerap diburu, baik untuk karapas (cangkang) hingga telurnya. Ia mengaku sedih jika ada warga yang menjual karapas penyu yang dijadikan cendera mata.

“Saya kerap menegur warga jika ada yang jual cendera mata dari karapas penyu. Tetapi kini sudah tidak ada lagi yang jualan,” pungkasnya. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya