Seruan Bersama Tolak Aneksasi Tepi Barat, Palestina Dengan Tegas Menolak Pencaplokan

26 June 2020 23:00
Seruan Bersama Tolak Aneksasi Tepi Barat, Palestina Dengan Tegas Menolak Pencaplokan
Al-Aqsa Working Group gelar konferensi pers terkait seruan bersama tolak aneksasi Tepi Barat Palestina di Hotel Sofyan Jalan Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat. (Bagus Prasetyo/Trans89.com)
.

JAKARTA, TRANS89.COM – Al-Aqsa Working Group (AWG) gelar konferensi pers terkait seruan bersama tolak aneksasi Tepi Barat Palestina di Hotel Sofyan Jalan Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2020).

Hadir di giat tersebut Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun, Kepala LKBN Antara Biro New York berkedudukan di Markas Besar PBB New York Aat Surya Syafaat, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad.

Selaku moderator Kepala Desk Arab Kantor Berita Mina, Rifa Berliana Arifin mengatakan Aneksasi atau pencaplokan dengan paksa wilayah Tepi Barat mrupakan bagian dari mana perdamaian Timur Tengah atau deal of century (kesepakatan abad ini) yang diumumkan oleh Presiden Amefika Serikat (AS) Donald Trump pada 28 Januari lalu.

“Sebagai barter, atas pengakuan Palestina sebagai negara merdeka yang berdaulat. AS menawarkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang tidak terbagi,” kata Rifa.

Seiain itu, kata Rifa, dalam proposal Trump, Israel akan mencaplok 30%-40% tanah dari Tepi Barat, termasuk semua bagian Yerusalem Timur yang selama inl diimpikan Palestina sebagai ibu kota negara mereka saat nantinya merdeka.

“Sementara wilayah Palestina yang kian sempit dalam rancangan itu tinggal berupa noktah-noktah yang dihubungkan oleh jembatan dan terowongan,” kata Rifa.

Menurut dia, secara sepihak, Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu yang kembali memimpin pada akhir Mei lalu bertekad mewujudkan rencana AS tersebut.

“Netanyahu mengatakan, Israel tidak akan melewatkan peluang bersejarah untuk memperluas kedaulatannya di Tepi Barat. Beberapa bulan terakhir PM Netanyahu secara lebih dari satu kesempatan menegaskan untuk memulai aneksasi 30% wilayah Tepi Barat pada awal Juli mendatang,” tutur Rifa.

Terkait rencana pencaplokan dengan paksa atau aneksasi lsrael terhadap bagian yang lebih besar dari Tepi Barat Palestina muiai awal Juli 2020, Al Aqsa Working Group dengan tegas menolak rencana tersebut.

“Kami menyampaikan catatan bahwa pencaplokan tersebut bukan saja sebuah pelanggaran terhadap hak azasi manusia (HAM) yang berat, namun juga merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelecahan terhadap hukum internsional,” ujar ketua AWG, Agus Sudarmadji.

Ia meniali pendirian negara Israel secara ilegal di atas tanah Palestina merupakan kezaliman terbesar sepanjang sejarah peradaban modern.

“Praktek apartheid yang dilancarkan secara struktural oleh Israel sebagai negara legal tersebut nyata-nyata mengakibatkan penderitaan yang mengerikan bagi bangsa Palestina selama lebih dari tujuh dekade,” ujar Agus.

Menurut dia, dukungan Amerika Serikat terhadap rencana aneksasi tersebut menjadi penanda bahwa negara yang mengklaim dirinya sebagai penegak prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan HAM itu ternyata merusak reputasinya sendiri dan menempatkan dirinya sejajar dengan pelanggar HAM nomor satu di muka bumi saat ini.

“Kami menyerukan agar seluruh warga dunia bersatu padu menghentikan aksi brutal Israel yang mengancam perdamaian di Timur Tengah serta beresiko mengganggu kestabilan dunia,” tutu Agus.

Dirinya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah dan rakyat Palestina yang selama ini telah berjuang mempertahankan tanah airnya yang sah dan melindungi keselamatan Masjid Al Aqsha sebagai situs suci ke tiga Umat Islam sedunia.

“Sepatutnyalah upaya tersebut mendapat dukungan dan bantuan nyata dari komunitas internasional terutama dunia Islam,” papar Agus.

Ia menjelaskan, kami sangat menghargai sikap pemerintah Republik Indonesia (RI) yang tegas menolak rencana aneksasi tersebut, selanjutnya kami meminta kiranya Indonesia mendorong PBB dan komunitas internasional seperti OKI, gerakan non Blok dan lainnya untuk mengambil tindakan yang lebih efektif untuk segera menghentikan kejahatan Israel tersebut.

“Kami mengajak semua pribadi dan lembaga yang peduli terhadap nasib Palestina dan Masjid Al Aqsa untuk selalu bersikap positif, optimis, sabar dan tidak berfrustasi dalam memberikan dukungan nyata terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina dan Al Aqsa,” jelas Agus.

Sementara Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun menilai rencana pencaplokan tanah Palestina di Tepi Barat oleh Zionis-Israel adalah agenda yang sangat licik, dikarenakan tanah di bagian itu merupakan tanah yang sangat subur.

“Israel secara licik ingin mengambil 30% tanah di Tepi Barat dikarenakan setelah dipelajari tanah ini adalah tanah yang paling subur di Palestina,” ujar Zuhair.

Ia menyampaikan, selain subur, air di tanah itu bisa langsung diminum, sehingga sangat mendukung kegiatan wisata, dan ada dua hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah Palestina perihal agenda Zionis-Israel tersebut.

“Israel menginginkan wilayah Wadi Al-Huwar, bersebelahan dengan Laut Mati yang airnya mengandung mineral tinggi, zat untuk kosmetik, yang bisa memasok pasar Eropa. Kedua, Israel juga mengincar tanaman kurma yang berada di kota Jericho yang memiliki kualitas terbaik di negara itu,” papar Zuhair.

Zuhair mengungkapkan, Palestina dengan tegas menolak pencaplokan itu dan akan memperjuangkan tanah milik Palestina. Dan kalau sebetulnya negara-negara di dunia telah menolak agenda tersebut.

“Sesungguhnya negara-negara di dunia juga sudah menolak, maka seharusnya aneksasi yang diusung oleh Netanyahu dan Trump betul-betul ditolak. Bagi Palestina, Yarusalem adalah harga mati,” ungkapnya. (Bagus/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya