Emak-Emak Geruduk Balaikota Jakarta, Tuntut Pembatalan PPDP Zonasi

24 June 2020 16:36
Emak-Emak Geruduk Balaikota Jakarta, Tuntut Pembatalan PPDP Zonasi
Puluhan emak-emak yang tergabung dalam Gerakan Emak Papak Peduli Pendidikan dan Keadilan unjuk rasa depan Balaikota DKI Jakarta Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. (Bagus Prasetyo/Trans89.com)
.

JAKARTA, TRANS89.COM – Puluhan emak-emak yang tergabung dalam Gerakan Emak Papak Peduli Pendidikan dan Keadilan dipimpin Ratu Yunita Ayu unjuk rasa depan Balaikota DKI Jakarta Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2020).

Tuntutan emak-emak menggelar aksi memprotes aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020 yang disesuaikan berdasarkan usia untuk calon siswa baru jenjang SMP/SMA di Jakarta.

Selain itu, juga meminta dibatalkannya PPDP Zonasi 40%, pemberlakuan seleksi PPDB dengan jalur zonasi berdasarkan usia, bukan dengan jalur kompetensi anak, karena sangat memberatkan orangtua murid.

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, jangan paksa yang muda masuk swasta, usia 21 bukan daftar SMA tapi daftar KUA, tolak PPDB DKI jalur zonasi berdasarkan usia, cari kerja dicari yang paling muda tapi masuk sekolah dicari yang paling tua.

Setiap massa aksi diingatkan menjaga jarak, para peserta aksi memang merenggangkan barisan tetapi hanya sesaat untuk kemudian kembali berkerumun.

Meski tidak menerapkan social distancing, hampir semua peserta aksi mengenakan masker. Beberapa dinataranya bahkan beratribut lengkap mulai dari masker, penutup wajah atau face shield, hingga sarung tangan.

Peserta aksi mendatangi ke Balai Kota DKI karena resah dengan kriteria usia pada PPDB 2020. Mereka khawatir anaknya tak bisa masuk sekolah yang dituju karena kalah bersaing dengan siswa yang lebih tua.

Ratu Yunita Ayu datang dengan mengenakan masker dan face shield mengatakan, sudah mulai terbiasa, enggak seperti dulu, karena sudah kerja normal, jadi sudah biasa.

“Saya sudah tak begitu khawatir, namun tetap antisipasi dengan mengikuti protokol kesehatan yang diserukan pemerintah. Ini mulai dari memakai alat pelindung sampai menjaga jarak,” kata Ratu.

Ia mengaku ini pertama kalinya ia berunjuk rasa dan seeumur hidup tak pernah menyuarakan orasi dan menuntut kebijakan pemerintah.

“Ini dilakukan karena tak tega jika anak kami tak bisa masuk sekolah yang dituju. Anak saya berusia 15 tahun dan akan masuk jenjang SMA,” ujar Ratu.

Sementara Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Basri Baso menemui massa aksi dan melakukan orasi, menyampaikann ini hak bapak/ibu dan hak anak didik kita yang harus di perjuangkan sampai kapanpun, karena tidak ada yang ingin anaknya jadi Korban.

“Sekarang semua penilaian kerja, di lihat dari penilaian pendidikan, bukan umur. Ajak sebanyak-banyaknya rekan-rekan untuk menuntut hak secara bersama. Nanti akan di pertemukan dengan Ketua DPRD DKI Jakarta,” papar Basri. (Bagus/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya