Kunjungan Menkop UKM di Shelter Klasik Beans Bandung, Teten: Kopi Komoditi Unggulan Indonesia

22 June 2020 12:34
Kunjungan Menkop UKM di Shelter Klasik Beans Bandung, Teten: Kopi Komoditi Unggulan Indonesia
Menkop UKM RI, Teten Masduki tinjau Koperasi Klassik Beans yang mewadahi ratusan petani kopi di daerah Gunung Puntang Desa Campaka Mulia, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jabar. (Dani Setiawan/Trans89.com)
.

BANDUNG, TRANS89.COM – Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menegah (Menkop UKM) Republik Indonesia (RI), Teten Masduki tinjau Koperasi Klassik Beans yang mewadahi ratusan petani kopi di daerah Gunung Puntang Kabupaten Bandung.

Menkop UKM Teten Masduki disambut Bupati Bandung Dadang M Naser mengatakan, sektor pertanian dan perkebunan sudah bisa direlaksasi untuk diaktifkan kembali kegiatan usahanya di tengah pandemi Covid-19.

“Saya ingin melihat langsung dan memastikan reaktivasi kegiatan usaha KUKM bisa berjalan,” kata Teten di sela-sela kunjungan kerja ke shelter tempat pengolahan kopi Klasik Beans di daerah Gunung Puntang Desa Campaka Mulia, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar), Minggu (21/6/2020).

Menurut dia, produk kopi dari Klasik Beans merupakan salah satu yang terbaik di dunia dan sudah menembus pasar mancanegara.

“Saya meyakini dengan tingkat konsumsi kopi dalam negeri yang terus meningkat, produk kopi nasional bisa diserap pasar dalam negeri,” tutur Teten didampingi Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Prof Rully Indrawan, Dirut LPDB KUMKM Supomo.

Ia menjelaskan, dengan pasar yang amat luas dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, pendapatan nasional dari produk kopi tidak perlu lagi bergantung pada ekspor.

“Meski ekspor kopi tetap akan menjadi bagian penting, karena kopi akan terus menjadi komoditi unggulan Indonesia. Dunia usaha kembali dijalankan dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan,” jelas Teten.

Sementara Ketua Koperasi Klasik Beans, Deni Glen, mengemukakan koperasi yang berdiri pada tahun 2011 sudah memiliki binaan sekitar 3.000 petani kopi yang tergabung dalam Paguyuban Tani Sunda Hejo.

“Hasil panen kopi petani dibeli koperasi untuk diolah menjadi biji kopi mentah atau green beans,” ujar Glen.

Ia menyebutkan, Koperasi Klasik Beans memiliki banyak shelter kopi di Jabar, diantaranya di Garut ada tiga, Ciwidey ada dua, Gunung Puntang, Pangalengan, Ujungberung, Bandung Utara, dan Cianjur. Sedangkan di luar Jabar, shelter Klasik Beans ada di Kintamani Bali, Flores, Enrekang Sulsel, Lintong Medan, Sumut, dan Takengon (Aceh).

“Sebelum pandemi Covid-19, kami memiliki kapasitas produksi sebanyak 5-8 ton green beans perbulan, khusus untuk pasar nasional. Untuk pasar ekspor, per musim kita menghasilkan 60 ton, dimana dalam setahun ada satu kali musim,” sebut Glen.

Menuru dia, dengan brand produk Kopi Sunda Hejo, Klasik Beans mampu mengguyur pasar ekspor ke negara-negara seperti Prancis, Jepang, Australia, Swiss, dan sebagainya, dimana produk kopi kita juga salah satu yang dibeli Starbucks.

“Kami memiliki hari istimewa yang dinamakan Hari Petani. Di hari itu, seluruh petani binaan Klasik Beans mendapatkan premi dari koperasi. Itu uang yang kita sisihkan dari setiap kilogram kopi yang mereka jual ke koperasi, semacam produk tabungan yang akan dibagikan kembali ke petani sesuai kilogram kopi yang sudah dijualnya,” tutur Glen.

Hanya saja, kata Glen, selama pandemi Covid-19 berdampak besar pada usaha kopinya. Banyak kedai kopi yang tutup, termasuk yang untuk pasar dunia. Penghasilan kita drop hingga 95%”.

“Meski begitu, Klasik Beans tetap komitmen membeli hasil panen kopi dari para petani. Dengan sulitnya kopi terserap pasar, maka Klasik Beans pun mau tidak mau harus menambah gudang. Kita semua berharap pandemi Covid-19 segera berlalu, agar pasar kopi nasional dan dunia kembali bergairah,” demikian Glen. (Dani/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya