Aksi Kamisan Kaltim Tuntut Pembebasan 7 Tapol Dugaan Makar

19 June 2020 08:49
Aksi Kamisan Kaltim Tuntut Pembebasan 7 Tapol Dugaan Makar
Massa Kamisan Kaltim aksi dengan tema 'Pasal Barbar Bernama Makar, Bebaskan Tapol Papua Tanpa Syarat' berlangsung depan dermaga Pemprov Kaltim Jalan Gajah Mada, Kota Samarinda. (Mas Ole/Trans89.com)
.

SAMARINDA, TRANS89.COM – Sejumlah massa Kamisan Kaltim dipimpin Kahar Al Bahri alias Ocha aksi Kamisan dengan tema ‘Pasal Barbar Bernama Makar, Bebaskan Tapol Papua Tanpa Syarat.

Unjuk rasa massa Kamisan Kaltim berlangsung depan dermaga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) Jalan Gajah Mada, Kota Samarinda, Kamis (18/6/2020).

Massa aksi membentangkan spanduk, payung hitam dan poster bertuliskan, bebaskan Tapol Papua, mosi tidak percaya, tolak hak angket KPK, #Bebaskan_7_Tapol_Papua, Aksi Kamisan Kaltim hapus tuntas impunitas.

Massa aksi juga menyanyikan Lagu Dara Juang, dan orasi Days Magay, mengatakan aksi Kamisan Kaltim Hari ini mereka mengantri divonis penjara, besok kita harus terus mengirimkan dukungan, mereka pantas bebas.

“Sejak Agustus 2019 lalu, perlawanan melawan rasisme membesar diseluruh Papua setelah peristiwa rasis yang dialami mahasiwa Papua di Surabaya,” kata Days.

Ia menyampaikan, gejolak ini kemudian di respon oleh negara dengan menangkap, memburu, dan memenjarakan rakyat Papua yang terlibat dalam aksi massa melawan rasisme di Surabaya dengan menggunakan pasal makar.

“Ada 7 orang Papua di tangkap di sidangkan di Balikpapan dan sampai sekarang belum di bebaskan,” papar Days.

Dirinya menyebutkan, hari Rabu tanggal 17 Juni 2020 tepat persidangan 7 Tapol (tahanan politik) Papua yang diadili di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, Kaltim dilaksanakan dengan agenda pembacaan tuntutan Jaksa.

“Ke 7 Tapol tersebut Ferry Kombo mantan Ketua BEM Uncen dituntut 10 tahun penjara, Alex Gobay Ketua BEM USTJ 10 tahun penjara, Hengky Hilapok mahasiswa USTJ 5 tahun penjara, Irwanus Urobmabin mahasiswa USTJ 5 Tahun penjara, Buchtar Tabuni aktivis ULMWP 17 tahun penjara, Steven Italay Ketua KNPB Timika 15 tahun penjara, dan Agus Kossay Ketua Umum KNPB Papua 15 tahun penjara,” sebut Days.

Menurut dia, tuntutan ini tentu mengada-ngada, karena mereka orang yang sedang memperjuangkan keadilan di tanah Papua.

“Mereka ditangkap setelah beberapa hari aksi usai. Mereka di penjara, jauh dari tempat asal dan keluarga. Bahkan beberapa diantara mereka adalah mahasiswa yang masih aktif kuliah,” tutur Days.

Days mengemukakan, mereka ditangkap dengan tuduhan dugaan kasus makar, padahal aksi demonstrasi di Papua tidak bisa langsung diartikan sebagai suatu kasus makar, perlu ada tarikan sebab akibat dan melihat situasi dan kondisi maupun rentetan kisah yang telah terjadi.

“Keadilan semakin jauh dari warga Papua, rasisme dan ancaman makar membelenggu kehidupan mereka, pemerintah dan investasi hanya memandang mereka sebagai sumber penghasil devisa, selebihnya mereka dipaksa melayani oligarki dan kapitalisme,” ungkap Days. (Ole/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya