Bupati Pimpin Rapat Pembahasan Menyambut New Normal di Wilayah Majene

04 June 2020 04:28
Bupati Pimpin Rapat Pembahasan Menyambut New Normal di Wilayah Majene
Bupati Majene, Fahmi Massiara bersama Wakil Bupati Lukman rapat membahas kebijakan pemerintah pusat terkait new normal bersama Forkopimda berlangsung di ruang pola kantor bupati Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Majene, Sulbar. (Ibrahim/Trans89.com)
.

MAJENE, TRANS89.COM – Bupati Majene, Fahmi Massiara bersama Wakil Bupati Lukman rapat membahas kebijakan pemerintah pusat terkait new normal bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) berlangsung di ruang pola kantor bupati Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (2/6/2020) malam.

Hadir di giat tersebut, Ketua DPRD Majene Salmawati Djamado, Dandim 1401 Majene Letkol Inf Yudi Rombe, Kapolres Majene AKBP Irawan Banuaji, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Majene Adnan Nota, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majene.

Bupati Fahmi Massiara mengtaka, Pemkab Majene akan mencabut pos penjagaan di perbatasan Majene-Mamuju dan Majene-Pollewali Mandar (Polman).

“Alasannya, seluruh pasien yang teridentifikasi positif Covid-19 tidak dapat dideteksi di pos penjagaan perbatasan. Hal ini menunjukkan adanya pos penjagaan perbatasan tidak efektif,” kata Fahmi.

Menurut dia, kedepan, Pemkab Majene akan memperkuat pemantauan diaktifitas keramaian, seperti di pasar, dan bagi pengunjung di pusat keramaian diharuskan menggunakan masker dan menjaga jarak.

“Pemkab Majene akan melaksanakan pengembalian fungsi rumah ibadah. Namun pelaksanaan ibadah di Kabupaten Majene tetap sesuai dengan protokol kesehatan. Apabila ada masyarakat atau rumah ibadah yang belum memenuhi syarat sesuai protokol kesehatan, maka tidak boleh digunakan,” tutur Fahmi.

Direktur RSUD Majene, dr Yupie mengatakan, tidak ada masalah bagi masyarakat Majene untuk berkegiatan normal sepanjang sesuai protokol kesehatan.

“Pengurus Masjid harus memastikan adanya jaga jarak dan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum masuk Masjid. Di pasar juga wajib menerapkan protokol kesehatan. Terkait cafe bisa kembali dibuka dengan menerapkan pengaturan kursi. Misalkan cuci tangan, pembatasan kursi dan pembatasan jam buka,” katanya.

Juru BIcara Tim Gugus Tugas Covid-19 Majene, Sirajuddin menyampaikan, saat ini Majene termasuk dalam zona hijau dilihat dari jumlah transmisi penyebaran yang kecil.

“Semua pasien positif di Kabupaten Majene berasal dari wilayah zona merah dan sempat berbaur dengan keluarganya sebelum positif. Namun dengan adanya tracking (pelacakan), jumlah penyebaran dapat terdeteksi dan diketahui tidak ada transmisi dari pasien positif ke keluarganya atau ke tetangganya,” papar Sirajuddin.

Ia menjelaskan, masuknya Covid-19 berasal dari luar Kabupaten Majene, itu bagi masyarakat yang memasuki wilayah Majene telah dideteksi dengan baik, dan jumlah orang yang masuk ke Kabupaten Majene akhir-akhir ini mengalami penurunan.

“Kami mengusulkan agar pengecekan kesehatan dipindahkan ke tingkat Kepala Lingkungan atau Kepala Dusun untuk kemudian dilaporkan ke Puskesmas. Terkait pola hidup new normal, maka masyarakat Majene harus menerapkan protokol kesehatan, baik di pasar, tempat wisata, cafe dan rumah ibadah. Bagi tempat yang akan dibuka tersebut juga akan dilengkapi dengan surat keputusan (SK) Bupati Majene,” jelas Sirajuddin.

Ketua DPRD Majene, Salmawati Djamado mengusulkan bagi pelaku usaha yang melanggar protokol kesehatan akan diberikan sanksi.

“Kalau ada pelaku usaha yang melanggar protokol kesehata di berikan sanksi berupa penutupan ijin usaha selama masa Covid-19,” ujar Salmawati.

Kepala Kantor Kemenag Majene, Adnan Nota menyampaikan, terdapat total 266 jamaah haji asal Kabupaten Majene yang ditunda keberangkatannya hingga tahun 2021, yakni tahap pertama 243 orang, tahap kedua 23 orang, pemahraman 17 orang dan cadangan 6 orang.

“Bagi rumah ibadah yang memenuhi syarat melakukan kegiatan keagamaan akan diberikan stiker dari Pemkab Majene. Kemudian syarat Masjid atau Mushola dapat kembali dibuka pada masa new normal dengan ada petugas pengawas protokol kesehatan, ada pengukur suhu tubuh, ada tempat cuci tangan, dan bisa mengatur jarak. Jumlah maksimal tamu undangan pernikahan di Majene berjumlah maksimal 30 orang dengan 20% kapasitas maksimal gedung,” paparnya.

Sementara Kapolres Majene, AKBP Irawan Banuaji mengatakan, dengan ditutupnya perbatasan posko penjagaan menuju Kabupaten Majene, maka harus disertai dengan penguatan pengawasan di level desa atau kelurahan, dimana enerapan pola hidup new normal bukan berarti aktivitas masyarakat dapat dilaksanakan seperti semula.

“New normal dilaksanakan dengan normal disertai dengan protokol kesehatan Covid-19. Titik yang perlu diprioritaskan untuk pengawasan new normal yaitu pasar, cafe, tempat ibadah dan tempat wisata. Maka pengawasan di titik ini juga akan melibatkan personel TNI/Polri, agar masyarakat lebih disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” kata Kapolres Irawan.

Tingkat penularan wabah Covid-19 di Kabupaten Majene relatif rendah, sehingga Kabupaten Majene dapat disebut sebagai zona hijau Covid-19 dan dapat segera melaksanakan aktifitas new normal secara bertahap.

Penerapan aktivitas new normal di Kabupaten Majene adalah kembali dibukanya lokasi keramaian seperti pasar, tempat ibadah, cafe dan tempat wisata asalkan sesuai dengan protokol kesehatan dan dengan adanya penerapan jam malam hingga 22.00 WITA.

Penerapan aktivitas new normal di Kabupaten Majene disertai dengan dibukanya kembali posko perbatasan antara Majene-Mamuju dan Majene-Polman. Namun hal ini juga disertai dengan adanya peningkatan pengawasan di tingkat desa kelurahan. (Ibra/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya