Tim Gugus Tugas Majene Rapat Evaluasi Percepatan Penanganan Covid-19

02 May 2020 03:04
Tim Gugus Tugas Majene Rapat Evaluasi Percepatan Penanganan Covid-19
Bupati bersama Wakil Bupati serta Tim Gugus Tugas Percepatan Penanagan Covid-19 Kabupaten Majene, menggelar rapat evaluasi Covid-19, berlangsung di ruang pola kantor bupati, Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Majene, Sulbar. (Ibrahim/Trans89.com)
.

MAJENE, TRANS89.COM – Bupati bersama Wakil Bupati serta Tim Gugus Tugas Percepatan Penanagan Covid-19 Kabupaten Majene, menggelar rapat evaluasi Covid-19 serta yang akan dilaksanakan dalam penanganan penanggulangan pandemi Covid-19, berlangsung di ruang pola kantor bupati, Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), Kamis (30/4/2020).

Bupati Majene, Fahmi Massiara, mengatakan untuk menyikapi perkembangan wabah Covid-19 saat ini di wilayah Kabupaten Majene memasuki kondisi siaga.

“Kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan, karena jumlah kasus positif Covid-19 di wilayah Provinsi Sulbar meningkat,” kata Fahmi.

Ia menegaskan, perlu adanya peningkatan pemantauan arus masuk dan keluar di wilayah Kabupaten Majene, juga perlu ditingkatkan sosialisasi terkait wabah Covid-19, seperti larangan shalat berjamaah, Tarawih dan aktivitas berkerumun lainnya.

“Apabila masih ada Masjid yang mengadakan Tarawih, maka akan dilakukan tindakan represif melalui penutupan tempat ibadah oleh Polres maupun Kodim,” tegas Fahmi.

Dandim 1401 Majene, Letkol Inf Yudi Rombe, menyampaikan masih ada Masjid yang membandel melaksanakan shalat Tarawih berjamaah. Pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada pengurus Masjid agar shalat berjamaah untuk sementara tidak dilaksanakan.

“Dikarenakan wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman) sudah masuk zona merah. Kami menyarankan agar ada pelarangan bagi warga Kabupaten Polman untuk masuk ke Majene, kecuali bagi pekerja seperti aparatur sipil negara (ASN) yang terpaksa masuk ke Kabupaten Majene,” papar Yudi.

Kapolres Majene, AKBP Irawan Banuaji, menjelaskan saat ini sudah ada 42 orang kasus positif Covid-19 di Sulbar, termasuk adanya pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal dunia di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman yang berdekatan dengan Kabupaten Majene.

“Selain itu, banyak warga Kecamatan Tinambung yang sering keluar masuk di wilayah Kabupaten Majene untuk bekerja,” jelas Irawan.

Menurut dia, meskipun pasien positif Covid-19 asal Kabupaten Majene sudah sembuh dan tidak ada lagi kasus positif Covid-19 aktif di Kabupaten Majene, namun hal ini tidak boleh membuat terlena.

“Masyarakat Kabupaten Majene dapat dilihat dari masih adanya aktivitas shalat berjamaah di Masjid di wilayah Kabupaten Majene. Selama corona masih ada, maka aktivitas semacam ini perlu dihindari,” tutur Irawan.

Dirinya menyebutkan, pengawasan di perbatasan Majene perlu terus ditingkatkan dengan kerjasama dari berbagai pihak, baik jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Majene, Polres dan Kodim, dimana adanya masyarakat yang berbohong setelah berasal dari zona merah perlu terus ditingkatkan.

“Apabila ada yang memasuki wilayah Kabupaten Majene tanpa keperluan yang jelas, maka perlu dilarang untuk memasuki wilayah Majene,” sebut Irawan.

Di samping itu, kata Irawan, kondisi personel yang bertugas di lapangan khususnya perbatasan, perlu diperhatikan dengan terus menggunakan masker dan sarung tangan.

“Aktivitas yang melibatkan kerumunan masyarakat akan terus dipantau oleh jajaran Polres dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Majene melalui patroli gabungan. Nantinya tim gabungan akan membubarkan aktivitas yang melibatkan kerumunan massa tersebut,” kata Irawan.

Wakil Bupati Majene, Lukman, menuturkan wilayah Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman sudah menjadi wilayah rawan.

“Kecamatan Tinambung lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Majene, maka kinerja Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 perlu terus ditingkatkan,” tuturnya.

Direktur RSUD Majene, dr Yupie menyikapi kendaraan yang melintas di wilayah Kabupaten Majene, dan pihaknya menyarankan agar kendaraan tersebut harus melapor di setiap Polsek yang dilewati, sehingga setiap Polsek terlibat pemantauan.

“Semua sopir dibuatkan pass jalan untuk wilayah Kabupaten Majene. Bagi yang datang dari zona merah, wajib isolasi mandiri selama 14 hari, kemudian yang bersangkutan berhak melanjutkan perjalanannya. Hal ini dikarenakan sopir merupakan warga yang rawan terpapar Covid-19,” ujar Yopie.

Lanjut yopie, di setiap lokasi yang dapat menyebabkan antrian, diperlukan antisipasi terkait physical distancing atau jaga jarak.

“Polres perlu terus melakukan patroli untuk menghindari adanya aktivitas yang menimbulkan kerumunan massa,” tambahnya. (Boim/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya