Bupati Bersama Wabup Pimpin Rakor Penertiban Rumah Ibadah di Pasangkayu Agar Tidak Menggelar Shalat Berjamaah

30 April 2020 02:02
Bupati Bersama Wabup Pimpin Rakor Penertiban Rumah Ibadah di Pasangkayu Agar Tidak Menggelar Shalat Berjamaah
Bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa dan Wabup M Saal pimpin Rakor terkait penertiban rumah ibadah di tengah pandemi Covid-19 di wilayah Kabupaten Pasangkayu berlangsung di ruang kerja bupati Jalan Soekarno, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar. (Sarwo Kartia Roni/Trans89.com)
.

PASANGKAYU, TRANS89.COM – Bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa bersama Wakil Bupati (Wabup), Muhammad Saal pimpin rapat koordinasi (Rakor) terkait penertiban rumah ibadah di tengah pandemi Covid-19 di wilayah Kabupaten Pasangkayu berlangsung di ruang kerja bupati Jalan Soekarno, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (28/4/2020).

Bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa, mengatakan saat ini kasus positif Covid-19 di Kabupaten Pasangkayu berdasarkan hasil tes swab sudah ada 3 orang, sehingga tidak boleh dianggap remeh.

“Kalau kita tidak tegas, maka kita tidak akan bisa mengatasi masalah ini. Saya meminta masukan bagaimana caranya untuk mengatasi masyarakat yang masih sholat tarawih di Masjid,” kata Agus.

Menurut dia, Kita sudah memiliki kebijakan bahwa tidak ada shalat Jumat dan Tarawih berjamaah di Masjid, namun pada kenyataannya masih banyak yang melakukannya.

“Saat ini masih banyak masyarakat yang bandel, mereka merasa lebih dekat dengan Tuhan dan merasa imannya lebih bagus dari pada Ulama dan Kiai,” tutur Agus.

Ia menjelaskan, kita telah diberi pinjaman 10 unit rumah nelayan di Bambaira untuk tempat isolasi bagi pekerja dari luar negeri yang baru datang, namun dirinya berharap tidak ada tenaga kerja dari luar negeri.

“Ke depan, Dinas Kesehatan (Dinkes) harus memantau bagaimana kondisinya dan bagaimana persiapan kita,” jelas Agus.

Wabup Pasangkayu, Muhammad Saal, meyampaikan sudah jelas perintah bupati untuk memutus mata rantai Covid-19 adalah dengan tidak mengadakan shalat Jumat dan Tarawih di Masjid, namun hanya di rumah saja dan bagaimana langkah-langkah yang akan kita buat.

“Saya menegaskan, yang menjadi protap siapapun yang berstatus positif harus diisolasi dan harus dijemput dan disarankan jangan di rumahnya, karena tidak menjamin yang bersangkutan tidak bertemu atau bersentuhan terhadap keluarganya. Bagi Masyarakat yang dijemput untuk disolasi dan ada anak-anaknya yang di rumah, ini butuh perhatian dan penanganan atau jaminan yang baik, agar mentalnya tidak kacau,” papar Saal.

Kapolres Mamuju Utara (Matra), AKBP Leo H Siagian, menjelaskan berdasarkan catatan dari Polres Matra, di wilayah Kabupaten Pasangkayu terdapat sekitar 39 Masjid yang masih menyelenggarakan shalat Jumat dan Tarawih.

“Jumlah tersebut termasuk sangat banyak, sehingga perlu adanya tindakan tegas. Kita di Kabupaten Pasangkayu masih kurang serius dan jalan masing-masing, meskipun di beberapa desa ada yang sudah benar-benar serius melaksanakan agar tidak dilakukan shalat berjamaah di Masjid,” jelas Leo.

Menurut dia, alangkah baiknya setiap kecamatan dibentuk tim, sehingga jajaran pemerintahan di desa bisa bergerak.

“Kita dari aparat kepolisian dan mungkin dari TNI sifatnya adalah mengamankan kegiatan tersebut,” tutur Leo.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pasangkayu, Imam Makmur Saragih Sidabutar mendukung adanya bantuan 10 rumah nelayan untuk tempat isolasi karena jauh dari pemukiman penduduk, dan mereka yang terkena rapid test positif, disarankan untuk ditempatkan ke rumah nelayan sambil menunggu hasil tes swab dari Makassar.

“Agar yang shalat hanya pengurus saja dan ini yang punya kompetensi adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan perlu didata, siapa saja petugas atau pengurus Masjid di desa, kecamatan, kabupaten dan dikumpulkan untuk diberikan pemahaman dan petunjuk oleh Pemda,” ujar Imam.

Kasdim 1427 Pasangkayu, Mayor Inf Andi Ismail, menjelaskan harus ada pendataan siapa Imannya, Muazimnya dan pengurus lainnya, agar dapat diberikan petunjuk dan bertanggungjawab jika ada yang shalat Tarawih dan Jumat.

“Upaya sudah kita datangi di Masjid, namun tidak diindahkan, ini perlu ketegasan dari Pemda. Kita TNI/Polri siap membantu mendampingi pengurus terkait penertiban tempat ibadah jika ada masyarakat yang bandel untuk shalat Jumat atau Tarawih di Mesjid untuk dimbil tindakan tegas,” jelas Ismail.

Hasil dari rakor, mulai nanti malam Pemda Kabupaten Pasangkayu memutuskan untuk melarang kegiatan shalat Jumat dan Tarawih secara berjamaah di Masjid, dalam rangka mencegah penularan Covid-19. Dalam waktu dekat, Bupati Pasangkayu akan menentukan tim yang akan turun langsung ke Masjid-masjid untuk melarang masyarakat shalat Jumat dan Tarawih secara berjamaah. Pasien positif Covid-19 yang kondisinya tidak terlalu parah (ringan sampai sedang), akan menjalani karantina dirumahnya dengan pengawasan ketat dari Dinkes, sedangkan pasien positif yang kondisinya parah akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasangkayu. (Sarwo/Nis)

 

 

 

 

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya