Sekda Mateng Pimpin Rakor Melalui Vicon Membahas Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Covid-19

25 April 2020 00:42
Sekda Mateng Pimpin Rakor Melalui Vicon Membahas Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Covid-19
Rakor Forkopimda dengan instansi terkait melalui vicon dipimpin Sekda Mateng dengan agenda evaluasi pelaksanaan kegiatan pencegahan dan penanganan Covid-19 di wilayah Kabupaten Mateng, Sulbar. (Damone/Trans89.com)
.

MAMUJU TENGAH, TRANS89.COM – Rapat koordinasi (Rakor) Forum Komunikaisi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dengan instansi terkait melalui video confrence (vicon) dengan agenda evaluasi pelaksanaan kegiatan pencegahan dan penanganan corona virus disease (Covid-19) di wilayah Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (24/4/2020).

Rakor melalui vicon tersebut dipimpin Sekda Kabupaten Mateng, Askary Anwar, mengatakan saat ini Kabupaten Mateng telah masuk pada zona merah. Dan upaya tracking (pelacakan) perlu dilakukan secara masif dengan melibatkan seluruh unsur, baik TNI/Polri maupun lintas sektor terkait.

“Perlunya antisipasi ruang karantina, mengingat tempat karantina yang dimiliki Kabupaten Mateng diprediksi ke depan akan penuh untuk menampung banyaknya pasien positif Covid-19 baru yang berjumlah 24 orang,” kata Askary.

Menurut dia, pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan, mengingat Mateng menjadi zona merah, maka petunjuk sesuai dengan yang dikeluarkan Kementerian Agama (Kemenag), pelaksanaan ibadah bisa dialihkan sementara di rumah, namun perlu diantisipasi, karena masih ada beberapa Masjid yang melaksanakan ibadah berjamaah, hal tersebut bisa diingatkan secara baik.

“Terkait ketersediaan pangan, khusus untuk beras dalam beberapa bulan ke depan stoknya masih surplus. Adanya kenaikan beberapa harga sembako seperti bawang dan gula juga perlu diantisipasi sejak dini, meski saat ini kenaikan belum signifikan,” tutur Askary.

Ia menjelaskan, pendataan pekerja informal oleh Dinas Sosial (Dinsos) segera dituntaskan dan secepatnya akan bisa dihimpun untuk keperluan penyaluran bantuan kepada masyarakat miskin.

“Meningkatnya jumlah kasus positif di Kabupaten Mateng yang menyentuh angka 27 kasus positif Covid-19 per-hari ini, tentu kita akan memerlukan alat pelindung diri (APD) yang mencukupi. APD yang dibutuhkan sangat banyak untuk melakukan tracking maupun merawat para pasien yang dikarantina atau diisolasi,” jelas Askary.

Ketua DPRD Mateng, Arsal Aras, menjelaskan mengenai rencana karantina atau isolasi terhadap semua warga Mateng yang positif berdasarkan hasil swab memang perlu diantisipasi.

“Selain itu, adanya orang tanpa gejala (OTG) juga perlu diperhatikan, sehingga tempat karantina harus disediakan per-kecamatan, agar dalam pelaksanaan tidak perlu memindah-mindahkan pasien,” jelas Arsal.

Dirinya menyebutkan, negara ini memang secara sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) sangat tidak siap dengan wabah Covid-19.

“Buktinya, untuk bisa memperoleh hasil tes swab masih memerlukan waktu 1 minggu untuk bisa dipastikan. Jika alatnya hanya seharga Rp2 sampai Rp3 miliar, harusnya pemerintah bisa membeli itu untuk Kabupaten Mateng. Namun kembali lagi kendalanya yakni tidak adanya SDM yang mampu memgoperasikan alat tersebut,” sebut Arsal.

Arsal meminta terkait pelaksanaan ibadah, peran semua tokoh agama dan tokoh masyarakat perlu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, agar tidak terjadi gesekan di tengah masyarakat.

“Ketahanan pangan yang bersumber dari dalam daerah untuk saat ini perlu dijaga dengan baik, dibatasi agar tidak dijual keluar semua, agar stok pangan mencukupi selama beberapa bulan ke depan,” pintanya.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Mamuju-Mateng, Ranu Indra menekankan kembali terkait penggunaan anggaran dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan anggaran.

“Selain itu, agar Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Mateng agar bisa segera menyerahkan SK-nya sebagai dasar pertanggungjawaban anggaran,” tegas Ranu.

Dandim 1418 Mamuju/Mateng, Kolonel Inf Suyitno, mengatakan sudah ada instruksi terkait penggunaan dana desa (DD) dalam penanganan Covid-19, agar seluruh desa bisa mulai melakukan pendataan untuk masyarakatnya yang benar-benar membutuhkan.

“Ketersediaan pangan perlu diantisipasi, salah satunya dengan menggerakkan masyarakat untuk mulai menanam tanaman pangan sendiri-sendiri dirumahnya,” katanya.

Kapolres Mateng, AKBP Muh Zakiy, menyampaikan penanganan tentang Covid-19 sejauh ini sudah berjalan baik, namun tetap perlu lebih banyak diperkuat untuk koordinasinya, agar kasus Covid-19 tidak sampai meluas lebih besar.

“Polres Mateng selalu siap dalam mendampingi Tim Gugus Tugas Covid-19 dalam melaksanakan tugasnya,” paparnya.

Kepala Kemenag Mateng, Mahmuddin, menjelaskan mengenai panduan pelaksanaan ibadah selama pandemi Covid-19 sesuai petunjuk Kemenag RI.

“Kami telah meneruskan tata cara atau ttuntunan shalat selama Ramadhan 1441 Hijriya kepada seluruh perangkat di tingkat desa hingga dusun dan Masjid,” jelasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mateng, Moh Khozin, menuturkan menghadapi wabah ini, kita sebagai manusia memang hanya wajib berikhtiar.

“MUI Mateng dalam hal ini sependapat dengan pemerintah terkait aturan shalat Jumat dan shalat selama Ramadhan. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan kondisi saat ini, agar tidak semakin meluas dampak covid-19,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mateng, Setya Bero, menjelaskan saat ini seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Mateng telah melakukan tracking untuk menekan penyebaran kasus positif Covid-19.

“Dalam perkembangannya, masalah Covid-19 ini telah ditetapkan lokus episentrum (pusat penyebaran wabah) Covid-19 di Kabupaten Mateng yakni di Desa Pontanakayyang, Kecamatan Budong-Budong. Ada 23 kasus positif baru di Mateng. Total sampai saat ini ada 27 kasus positif Covid. Ini akan menjadi perhatian semua pihak, mengingat gedung isolasi yang ada belum memadai,” jelas Setya.

Ia mengatakan, untuk kebutuhan APD masih belum mencukupi untuk menangani pasien sebanyak itu. Selain itu, kat dia, agar supply vitamin disiapkan di Posko Pontanakayyang untuk menunjang kondisi kesehatan anggota di Posko Terpadu Pengawasan Covid-19.

“Puskesmas Salugatta dijadikan lokus isolasi. Mudah-mudah lokus episentrum ini cukup di Pontanakayyang saja dan tidak merambah ke daerah lain,” kata Setya.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mateng, dr Patunrengi, menyampaikan ruang isolasi jika memang dipusatkan di Puskesmas Salugatta ataupun di masing-masing Puskesmas, maka perlu diperkuat tenaga medisnya, dalam hal ini dokter dan beserta sarananya juga harus siap, mengingat sarana dan prasarana juga perlu dipenuhi untuk tempat isolasi.

“Mengenai rencana pengadaan polymerase chain reaction (PCR-reaksi berantai polimerase), saat ini alat tersebut sudah tidak ada di Indonesia. Dan jika harus mendatangkan, maka diambilkan dari Jerman dengan estimasi 2 bulan sampai ke Indonesia. Ruang laboratorium di RSUD Mateng juga belum memadai, karena standar biosafety laboratorium (laboratorium keamanan hayati) untuk bisa dipakai PCR haruslah laboratorium dengan biosafety level 2, sedangkan di RSUD Mateng, biosafety-nya masih dibawah level 1,” paparnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mateng, Rahmat Syam, menuturkan untuk posko screening di utara dan selatan (perbatasan Mateng) selama bulan puasa akan tetap diperkuat.

“Terkait gedung isolasi di Puskesmas Salugatta, kendalanya saat ini masalah air bersih untuk para pasien, karena air bersih di gedung isolasi tersebut belum ada, harus menunggu kiriman dari truck tangki air,” tuturnya.

Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Mateng, Bahri Hamzah, menyampaikan pihak Disperindag Mateng telah membentuk tim pengawasan terpadu di seluruh kecamatan untuk mengantisipasi kelangkaan dan kenaikan harga sembako.

“Terkait kelangkaan LPG 3 kilogram (kg), hal tersebut terjadi di tingkat pengecer. Olehnya itu, Disperindag Mateng melibatkan seluruh pihak pangkalan yang ada di Kabupaten Mateng, apabila ditemukan ada pedagang pengecer yang menjual harga LPG 3 kg di atas harga eceran tertinggi (HET), maka supply LPG 3 kg dari pangkalan akan dihentikan,” paparnya.

Terakhir Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Mateng, Asmira Djamal, menyebutkan pihak Dinsos Mateng saat ini telah melakukan pendataan terkait masyarakat miskin yang berhak menerima bantuan dari dana desa.

“Harapannya, agar dalam penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) yang dicairkan di desa bisa tepat sasaran,” sebutnya. (Damone/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya