Gema Pembebasan dan APMI Unjuk Rasa di Kementerian BUMN, Ini Tuntutannya

08 February 2020 16:05
Gema Pembebasan dan APMI Unjuk Rasa di Kementerian BUMN, Ini Tuntutannya
Aksi Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan dan Aliansi Pemuda Mahasiswa Indonesia (APMI) depan Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. (Irvan Akmal/Trans89.com)

JAKARTA, TRANS89.COM – Unjuk rasa Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan dan Aliansi Pemuda Mahasiswa Indonesia (APMI) diikuti sekitar 50 orang peserata aksi dipimpin Farid Syahbana dan Tio Wibowo, depan Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (7/2/2020).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, Islam solusi tuntas masalah korupsi sistemik. Musuh negara bukan FPI, itu dan Khilafah tapi rezim korup antek asing. Perhatian jangan merapihkan skandal mega korupsi meroket. Skandal mega korupsi terkuak, revolusi mental gagal total. Nasib negeriku meroket skandal korupsinya.

Press release dibacakan, Farid Syahban mengatakan, telah nyata bahwa diera rezim Jokowi periode ke-2 telah terjadi mega skandal korupsi BUMN seperti Jiwasraya, Asabri, Pelindo dan BUMN lainnya termasuk KPU dalam jumlah yang sangat besar.

“Penyelesaian mega skandal yang berbelit-belit ini indikasi kuat bahwa KPK dan pihak aparat telah dilemahkan dan diduga menjadi pelindung rezim Jokowi,” kata Farid.

Menurut dia, rakyat dalam keadaan menderita, berbagai subsidi dicabut, harga kebutuhan pokok naik, mega korupsi terkuak, bukti 100 hari kerja rezim jokowi telah gagal.

“Oleh karena itu, mahasiswa akan berjuang terus untuk melakukan perubahan dengan memberikan solusi Islam berupa hukuman yang seberat-beratnya, dipotong tangan hingga hukuman mati dan seluruh hartanya disita. Kami menyeru kepada mahasiswa dan pemuda untuk bergerak berani maju terus. Dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi atas permasalahan negeri ini,” tutur Farid.

Sementara dalam orasinya, Farid menyampaikan, berdasarkan data Asian Development Bank (ABD), 22 juta orang kelaparan di era Jokowi ditambah kondisi rakyat makin tercekik karena dihadap-hadapkan dengan kado dan pil pahit pemerintah di tahun 2020, berupa wacana pencabutan subsidi gas melon 3 kilogram (kg) di kuartal II, naiknya iuran BPJS hingga dua kali lipat dan wacana pencabutan subsidi listrik 900 VA.

“Kita juga mendengar terungkapnya skandal korupsi di tubuh KPU dan mega korupsi yang melanda negeri ini, yakni skandal Jiwasraya dan Asabri, keduanya diketahui adalah perusahaan milik negara. Tidak tangung-tanggung kerugian negara yang diakibatkan oleh oknum para pejabat perampok uang negara di eranya pak Jokowi yakni senilai puluhan triliun rupiah,” papar Farid.

Ia menyebutkan, untuk skandal Jiwasraya, masalah ini mencuat ketika mereka gagal membayarkan data nasabah sampai dengan Rp12.4 triliun. Dana tersebut merupakan akumulasi kewajiban pencairan klaim polis yang gagal dibayar perusahaan sampai periode Oktober-Desember 2019.

“Asabri juga sedang berhembus kencang, yang menghembuskan isu ini tak lain adalah Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD. Ia bicara soal dugaan kasus korupsi fantastis di Asabri senilai Rp10 triliun rupiah.

“Mega korupsi yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari bacaan kerangka ideologis. Ideologi yang menancapkan hegemoninya secara faktual di negeri ini yakni kapitalisme demokrasi yang dibutuhkan bagi seorang elite atau pejabat untuk menjadi penguasa dimana tidaklah murah siapa yang nantinya berkuasa akan tunduk oleh kepentingan kaum kapitalis, karena sumber utama kekuasaan dalam ideologi ini adalah kekayaan. Dan hari ini kekayaan dimiliki oleh para pemilik kapital negara korporatokrasi pun terbentuk secara otomatis,” sebut Farid.

Dirinya mengungkapkan, maka di tengah kondisi sedemikian rupa, wajar apabila rakyat khususnya mahasiswa menjadikan skandal mega korupsi ini sebagai titik berangkat awal perjuangan mahasiswa di awal tahun 2020 dan yang patut untuk diingat, mahasiswa punya peran politis dan strategis dalam setiap arah perubahan sepanjang perjalanan sejarah negeri ini.

“Itu atas dasar kajian mendalam, atas fakta tersebut dan didorong oleh landasan Iman, maka kami gerakan mahasiswa menyerukan kepada rekan seperjuangan untuk kembali turun ke jalan membongkar makar jahat penguasa koruptor Jiwasraya, Asabri dan KPU, karena pada prinsipnya kezhaliman harus dicegah semaksimal mungkin dengan merancang kegiatan opini yang menggugah kendaraan ideologis mahasiswa,” ungkap Farid. (Irvan/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya