Kemensos Tekankan Percepatan Adaptasi Inovasi Teknologi Sebagai Penunjang Program Kesejahteraan Sosial

24 January 2020 15:50
Kemensos Tekankan Percepatan Adaptasi Inovasi Teknologi Sebagai Penunjang Program Kesejahteraan Sosial
Mensos Juliari P Batubara kunker di tiga UPT Kemensos yakni BBPPKS, B2P3KS Yogyakarta, dan BBRSBD Prof Soeharso Surakarta. (Biro Humas Kemensos RI)

YOGYAKARTA, TRANS89.COM – Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara selama dua hari Rabu dan Kamis (22-23/1/2020) lakukan kunjungan kerja (kunker) di tiga unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Sosial (Kemensos) yakni Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Yogyakarta, dan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof Soeharso Surakarta.

Mensos Juliari menyatakan, pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan merupakan ‘otak’ Kemensos. Mensos mengingatkan, pekerjaan Kemensos tidaklah mudah, kendati anggaran Kemensos terbesar keenam dari seluruh Kementerian dan Lembaga (K/L), ini karena yang diurus Kemensos adalah manusia.

“Yang kita urus ini bukan barang, bukan bangunan dan jembatan. Yang kita urus dan yang kita bangun ini manusianya. Oleh karena itu, saya tekankan bahwa tugas Kemensos bukan hanya pada distribusi bantuan sosial (bansos), tapi juga bagaimana membenahi peradaban,” ujar Mensos di sela-sela kunkernya di Yogyakarta melalui pres rilis Biro Humas Kemensos diterima Redaksi, Jumat (24/1/2020)

Mensos Juliari menegaskan kepada jajarannya, agar hasil riset dan modul dari balai besar pendidikan dan pelatihan benar-benar adaptif terhadap perubahan jaman, termasuk cepatnya inovasi teknologi.

“Harapan itu ada pada pusat-pusat unggulan seperti balai penelitian yang dimiliki Kemensos bisa menjawab permasalahan terkini yang hadapi masyarakat,” tegas Menso.

Menurut dia, kalau kita lihat perubahan yang berlangsung saat ini sangat dipengaruhi teknologi. Seperti BBPPKS ini coba berpikir ke depan. Bagaimana mulai mengadaptasikan teknologi.

“Mungkin nanti mekanisme penyaluran program-program social welfare yang masih manual akan digantikan oleh aplikasi di handphone (HP),” tutur Mensos Juliari.

Mensos juga memaparkan pentingnya adaptasi teknologi dengan program kesejahteraan sosial juga membutuhkan sinergi dengan pihak lain.

“Oleh karena itu, UPT Kemensos seperti BBPPKS, B2P3KS, dan BBRSBD perlu dikenal dan bersinergi dengan para stakeholder, seperti perguruan tinggi, dan perusahaan teknologi,” papar Juliari.

Ia menjelaskan, pembangunan tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi, namun yang tak kalah penting adalah juga harus membangun peradabannya. Mensos mencontohkan, di sejumlah negara maju, pelayanan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial (PPKS), penyandang disabilitas, lansia yang tidak punya akses, atau anak-anak yang berkebutuhan khusus, dilakukan oleh kalangan swasta.

“Di negara maju, pemerintah sudah tidak terlalu ikut campur. Di Indonesia, negara termasuk Kemensos, bertanggungjawab dalam pelayanan terhadap PPKS. Oleh karena itu, segenap pegawai di Kemensos dituntut punya kemampuan mentransformasikan dengan dimulai dari perubahan cara berpikir para pegawai,” jelas Mensos.

Kemensos juga sudah mengantisipasi kelanjutan program prioritas nasional seperti PKH dan BPNT. Untuk itu, Kemensos sudah mempersiapkan payung hukum berupa Rancangan Undang-Undang (RUU).

“Kita sudah memasukkan RUU perlindungan dan bantuan sosial serta RUU penanggulangan bencana. Keduanya sudah masuk program legislasi nasional di DPR RI, artinya masuk ke daftar RUU yang diprioritaskan. Dengan adanya 2 RUU tersebut, BPNT dan PKH bisa lanjut terus,” demikian Mensos Juliarti. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya