Corong Rakyat Unjuk Rasa Depan Kejagung, Desak Usut Tuntas Dugaan Kasus Novel di Bengkulu

14 January 2020 22:33
Corong Rakyat Unjuk Rasa Depan Kejagung, Desak Usut Tuntas Dugaan Kasus Novel di Bengkulu
Aksi Corong Rakyat diikuti 20 orang peserta aksi dipimpin Ahmad depan kantor Kejagung RI, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Bagus Prasetyo/Trans89.com)

JAKARTA, TRANS89.COM – Unjuk rasa Corong Rakyat diikuti 20 orang peserta aksi dipimpin Ahmad depan kantor Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (14/1/2020).

Massa aksi membawa spanduk bertuliskan, Novel Baswedan bukan Tuhan, dia juga punya dosa yang harus dipertanggungjawabkan atas kasus penganiayaan warga yang tidak bersalah di Bengkulu Tahun 2004. Penjarakan Novel Baswedan atas kasus penganiayaan terhadap rakyat kecil di Bengkulu, semua sama di mata hukum termasuk Novel Baswedan.

Orasi Ahmad menyampaikan, kami dari Corong Rakyat yang sudah beberapa kali datang kesini untuk mengusut tuntas dugaan kasus Novel Baswedan yang terjadi di Bengkulu.

“Kawan-kawan bahkan ada salah satu korban yang tidak tahu tentang kasus ini, bahkan Novel Baswedan menodongkan pistol pada salah seorang untuk memberi tahu di mana tempat persembunyian orang yang polisi cari,” papar Ahmad.

Menurutnya, dalam hal ini jangan sampai ada yang menang dalam kasus Novel Baswedan, karena di sinyalir Kejagung bermain mata dalam kasus Novel Baswedan diman kasus ini diduga melanggar HAM yang dilakukan Novel Baswedan.

“Jangan sampai pihak Kejagung seperti wasit dalam pertandingan sepakbola dimana seorang wasit berat sebelah terhadap salah satu team, seharusnya sorang wasit bertindak adil dalam memimpim pertandingan, tapi apa yang terjadi dengan kasus Novel tidak adil, seolah-olah pihak Kejaksaan berat sebelah kepada korban pembunuhan di Bengkulu,” tutur Ahmad.

Ia menyebutkan, kalian yang ada disini untuk mempermainkan bola, ini ceritanya antara Kejagung dengan Kasus Novel Baswedan yang tidak ada yang menang, yang lepas kaos adalah Novel Baswedan, sedangkan yang memakai kaos dari Kejagung, permainan ini tidak ada yang menang.

“Dari Lantai 4 mereka turun bukan bareng-bareng tetapi korban di dorong, seperti anjing, yang seharusnya mereka memberikan pelayanan yang baik. Kalian pasti mendengar tadi saya memutar video,” sebut Ahmad.

Dirinya menyampaikan, Novel Baswedan diduga melakukan kasus HAM berat dan aktivis HAM tidak mau membantu keluarga korban.

“Kita datang dengan tuntutan yang sama, tetapi ada yang berbeda, kita membawa tim, dimana tim yang satunya dari Novel Baswedan dan wasitnya dari pihak Kejagung RI,” papar Ahmad.

Selanjutnya orasi Raja meminta kepada Kejagung untuk segera menuntaskan kasus Novel Baswedan karena sudah diduga melanggar HAM berat.

“Terindikasi pihak Kejagung dan Novel Baswedan diduga ada kongkalikong didalam kasus Novel Baswedan ini,” demikian Raja. (Bagus/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya