Doa Bersama Warga Pesanggaran Tolak Tambang PT BSI di Area Bekas Tambak di Banyuwangi

12 January 2020 02:04
Doa Bersama Warga Pesanggaran Tolak Tambang PT BSI di Area Bekas Tambak di Banyuwangi
Doa bersama warga tolak tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI) di area bekas tambak tradisional di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jatim. (Fahmi/Trans89.com)

BANYUWANGI, TRANS89.COM – Doa bersama warga tolak tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI) diikuti sekitar 200 orang peserta dipimpin Zaenal Arifin alias Ari dengan penceramah Kyai Fa’at.

Kegiatan itu bertujuan agar kegiatan penelitian pihak perushaan penambang PT BSI di gunung Salakan dihentikan di area bekas tambak tradisional di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), Jumat (10/1/2020) malam.

Nampak hadir LSM Laskar Merah Putih (LMP) M Yunus Wahyudi, tokoh agama Pancer Syamsul, Kepala Desa (Kades) Sumberagung Vivin Agustin, Kepala Dusun (Kadus) Silirbaru Didik, Kadus Pancer Fitriyati.

Acara diawali dengan istiqhotsah dipimin Kyai Fa’at, dilanjutkan tausiyah Kyai Fa’at menyampaikan, sebagai umat Islam, kita diwajibkan untuk membaca Alqur’an, sedangkan didalam Al-Qur’an kita diajarkan untuk menjaga lingkungan, barang siapa yang merusak lingkungan, maka akan mendapatkan azab.

“Untuk itu, marilah kita yang disini untuk menjaga lingkungan, karena barang siapa yang bisa menjaga lingkungan, maka akan mendapatkan pahala yang besar,” papar Kyai Fa’at.

Menurutnya, bencana alam dan tsunami yang selalu melanda sebagian besar wilayah kita, karena kesalahan manusia yang serakah, yaitu merusak hutan.

“Sebagai umat Islam, apapun yang terjadi wajib hukumnya menjaga kelestarian lingkungan,” kata Kiyai Fa’at.

Sambutan Zaenal Arifin alias Ari menyebutkan, kita disini akan terus bersama-sama memperjuangkan apa yang menjadi tujuan kita, yaitu berjuang menutup pertambangan.

“Besok jangan lupa kita tetap berkumpul disini untuk menolak siapa saja yang berusaha masuk merusak lingkungan di area Gung Salakan,” sebut Ari.

Dirinya merasa ngeri sekali dengan adanya pertambangan, hanya karena gara-gara uang akhirnya pertambangan terjadi disini.

“Akan tetapi kita harus tetap kompak dan tanamkan dalam hati harus tetap menolak pertambangan demi anak cucu kita. Kalau gunung ditambang dan dirusak, maka tidak ada tempat kehidupan untuk anak cucu kita nanti,” ujar Ari.

LSM Laskar Merah Putih, M Yunus Wahyudi bercerita, beberapa tahun yang lalu dipenjara gara-gara menolak pertambangan, akan tetapi dirinya tetap semangat dan tidak akan pernah mundur, serta berharap kepada masyarakat Pesanggaran punya kemauan yang sama.

“Pada 2011, ada kurang lebih 650 orang ditahan di penjara oleh aparat kepolisian. pada waktu itu, saya tidak terima dan pernah mau membakar Polsek dan Polres Banyuwangi, demi ingin membebaskan teman-teman saya didalam penjara, maka jangan takut kalau berada dijalan benar,” cerita Yunus.

Dirinya mengungkapkan, apabila PT BSI mendatangkan massa dan pengamanan yang besar, maka dirinya juga akan mengeluarkan pasukan yang besar, dan dirinya paling anti dengan pertambangan, kalau perlu ia pertaruhkan nyawanya untuk menolak pertambangan dan membela masyarakat Banyuwangi.

“Kita harus tetap berjuang mempertahankan lingkungan kita dan menolak adanya pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. Kalau kita diam, nanti diwilayah kabupaten Banyuwangi seluruhnya akan ditambang, mulai dari Pesanggaran sampai dengan wilayah Glenmore,’ ungkap Yunus.

Yunus mengingatkan, pertambangan sangat kuat, untuk itu kita harus tetap kompak menolak pertambangan.

“Kita jangan sampai mau digembosi oleh siapapun, jangan sampai mau kalau kita diadu domba dengan teman-teman kita dan saudara kita sendiri,” pesan Yunus.

Warga Pancer, Sukam minta tolong kepada Yunus supaya aspirasi masyarakat tolak tambang dibawa dan disampaikan kepada pemerintah pusat, sehingga pertambangan di Desa Sumberagung bisa dihentikan.

“Kalau memang butuh data, silahkan disampaikan kepada masyarakat, biar disiapkan data yang bisa dijadikan bahan untuk diperjuangkan di pemerintahan pusat,” pinta Sukam.

Tanggapan Yunus kalau dirinya akan berjuang demi masyarakat Banyuwangi.

“Perlu diketahui, sebenernya yang salah adalah bupati kita, kalau saja bupati tidak mengijinkan pertambangan, maka tidak akan terjadi. Bupati sudah tergiur, karena mendapatkan kompensasi yang besar dari pertambangan. Barusan kita melaksanakan istiqhosah, mudah-mudahan doa kita terjawab, didengar oleh Allah SWT dan yang merasakan pertambangan akan mendapatkan azab dari Allah SWT,” imbuh Yunus. (Fahmi/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya