BP2L Bima Unjuk Rasa Depan Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Ini Tuntutannya

12 January 2020 16:01
BP2L Bima Unjuk Rasa Depan Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Ini Tuntutannya
Aksi Barisan Pemuda Peduli Lingkungan (BP2L) Bima di Jalan Lintas Sumbawa-Bima depan Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Desa Belo, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB. (Fajar Prasetyo/Trans89.com)
.

BIMA, TRANS89.COM – Unjuk rasa Barisan Pemuda Peduli Lingkungan (BP2L) Bima diikuti 15 orang peserta aksi dengan koordinator lapangan Korlap Samsudin.

Aksi tersebut terkait protes dugaan kerusakan hutan dan lingkungan di Kabupaten Bima dan Dompu, berlangsung di Jalan Lintas Sumbawa-Bima depan Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Desa Belo, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (11/1/2020).

Massa aksi mulai melakukan orasi depan pintu masuk Bandara Salahudin Bima, Samsudin mengatakan, Indonesia adalah merupakan negara yang menganut ideologi Pancasila yang dimana dalam salah satu poin yang terakhir sila kelima yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Oleh karena itu, kami melihat berdasarkan kondisi objektif, masyarakat Bima pada umumnya masih jauh dari yang namanya kesejahteraan. Bima sekarang hampir dari berbagai sektor dalam kondisi yang terpuruk. Baik itu di sektor pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan pertanian. Itu semua karena belum ada bentuk nyata perhatian dari pemerintah secara serius, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” kata Samsudin.

Menurutnya, maka dalam hal ini kami merangkum semua masalah serta tawaran solusi yang perlu di perhatikan oleh pemerintah.

“Kami menolak program Gubernur NTB di Bima terkait industrialisasi kayu putih, kemiri dan kelor, karena itu hanya kepentingan sesaat para elit, tawaran kami segera lakukan reboisasi hutan yang gundul dengan penanaman pohon yang bersifat permanen bukan untuk keperluan pendustrian,” tutur Samsudin.

Ia mendesak kepada Gubernur NTB untuk segera mencabut izin PT Jagat Mahaesa Karya (JMK) tambang pasir besi di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, dan mendesak kepada Gubernur NTB untuk segera memperbaiki jalan Propvinsi Lintas Tawali-Sape, jalan Provinsi Lintas Langgudu-Lambu.

“Meminta kepada pemerintah provinsi (pPemprov) dan daerah agar segera menetapkan mana kawasan hutan lindung dan yang bukan kawasan hutan lindung yang berada di Kabupaten Bima,” tegas Samsudin.

Dirinya menyebutkan, segera hadirkan pupuk subsidi sebanyaknya untuk memenuhi kebutuhan petani Bima dan Dompu serta perbaiki Infraksruktur jalan di Kecamatan Belo, segera bekukan proyek galian C legal di Kecamatan Belo.

“Kami meminta bebabskan 3 orang aktivis lingkungan yang di tahan oleh Polres Bima Kota, terkait dugaan pengerusakan Kantor Camat Wera pada saat unjuk rasa tolak tambang pasir besi di Kecamatan Wera, Kabupate Bima,” sebut Samsudin.

Massa aksi dibubar paksa oleh Satuan IntelKam Polres Kabupaten Bima, kerena massa aksi melakukan aksi unjuk rasa tidak mengantongi Surat Tanda Terima Pemberitahuan STTP dari pihak kepolisian.

Massa aksi dibawahke Pospol KP3 Bandara dan di berikan pemahaman untuk tidak melakukan unjuk rasa di area obyek vital (Obvit). (Fajar/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya