Rocky Gerung Menjadi Narasumber Seminar di Ternate

08 January 2020 21:25
Rocky Gerung Menjadi Narasumber Seminar di Ternate
Rocky Gerung Menjadi Narasumber Seminar di Ternate
.

TERNATE, TRANS89.COM – Seminar nasional dengan tema, dinamisasi gerakan sosial dan kampus dalam pembangunan NKRI’, dihadiri sekitar 1.000 orang peserta di Aula Banau, Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), Rabu (8/1/2020).

Hadir sebagai narasumber (Narsum) digiat tersebut, Rocky Gerung, Syahrir Ibnu, Nurdin I Muhammad, Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Ternate diwakili Wakil Rektor (Warek) III Syawal Abdulmajid, Ketua BEM Unkhair M Zulfahmi, sementara moderator Muhdi Abd Rahman

Sambutan Ketua BEM Unkhair Ternate, M Zulfahmi mengucapkan terima kasih kepada pihak panitia atas terselenggaranya kegiatan ini, karena merupakan ladang pemikiran kritis mahasiswa, dimana setiap gerakan harus ada optimisme untuk mewujudkan suatu kemajuan.

“Kampus sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia (SDM). Seminar nasional ini merupakan tanda bahwa dimana kita mampu membawa harapan tentang mahasiswa untuk membantu pembangunan di Malut,” ucap Zulfahmi.

Selanjutnya sambutan Rektor Unkhair Ternate diwakili Warek III, Syawal Abdulmajid sekaligus membuka seminar mengatakan, ini merupakan era baru kebangkitan mahasiswa untuk berprestasi, tentang bagaiman untuk membangun kreativitas untuk meraih kesuksesan.

“Saya yakin dan percaya, seluruh pimpinan Universitas akan mendukung kegiatan ini, karena hal-hal seperti ini diawali dari prestasi mahasiswa,” kata Syawal.

Menurutnya, setiap peradaban pasti ada awal dan akhirnya, dimana saat ini kita berada di peradaban besar setelah peradaban yang sebelumnya sudah punah.

“Penguatan SDM sangat penting dihadapkan dengan era milenial sekarang untuk membangun pada era saat ini dan menghadapi peradaban kedepannya,” tutur Syawal.

Acara sminar dilanjutkan dengan narasumber Rocky Gerung dan Nurdin I Muhammad diawali penyampaian oleh moderator Muhdi Abd Rahman mengatakan, kampus harus menjadi wadah dalam mencetak pemimpin yang berintegritas.

“Kampus sebagai tulang punggung dalam pembangunan bangsa dan negara serta menentukan kualitas dari SDM manusia khususnya para mahasiswa di Malut,” kata Muhdi.

Penyampaian narasumber, Nurdin I Muhammad menuturkan, kita sebagai mahasiswa harus mempunyai daya pikir kritis yang tinggi dan disini tempatnya.

“Kampus harus dijadikan wadah dalam membangun dan mendorong pola pikir kritis serta pola pikir yang membangun,” tutur Nurdin.

Selanjutnya narasumber Rocky Gerung menyampaikan, pembangunan itu adalah kebebasan untuk memiliki karakter tersendiri dalam melakukan suatu perubahan.

“Saya akan bahas spanduk yang menuliskan saya korban drop out (DO) sepihak. Apa artinya itu. Karena jika ada kesalahan narasi maka anda akan bisa kenakan sanksi. Berawal dari pengalaman saya yang di DO sebanyak empat kali dari kampus. Bukan kampus yang men-DO saya, tetapi justru saya yang men-DO kan Universitas, karna tidak masuk dalam kurikulum saya,” papar Rocky.

Ia menjelaskan, munculnya pikiran independen merupakan hal ditakuti oleh kampus. Jika anda tidak menerima keputusan DO dari Rektor, maka anda harus beradu gagasan dengan Rektor.

“Orang tidak boleh di DO karena menggunakan narkoba. Karena itu urusan hukum. Men-DO seorang mahasiswa itu wajib ketika dia gagal secara akademik,” jelas Rocky.

Dirinya menyebutkan, kampus merupakan bukan ruang untuk aturan, namun aturan di kampus yaitu argumentasi. Tidak ada orang yang di DO karena kasus narkoba, apalagi hanya karena kasus berbeda pendapat tentang Papua.

“Kemarahan banyak muncul di daerah karena munculnya keputusasaan di masyarakat. Terkait Omnibuslaw (UU ketenagakerjaan), buruh tidak dilibatkan dalam pembahasan mmnibuslaw. Sehingga wajar jika Buruh protes karena Buruh di DO dari pembahasan Omnibuslaw,” sebut Rocky.

Rocky juga berujar, Ternate didatangi investasi karena mendengar Keputusan Presiden (Kepres) dan Menteri agar tidak menghambat investor, termasuk tidak perlu memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), hal tersebut sama halnya dengan menyatakan kepada investor silahkan merusak lingkungan.

“Presiden Indonesia bisa di bilang gagal, karena mengeluarkan kebijakan dulu baru dilakukan riset yang seharusnya riset duluan,” ujar Rocy.

Rocky mengungkapkan, saat ini kita ditipu oleh kerjasama Kampus dengan industri. Demokrasi tidak membutuhkan persatuan, namun kemampuan mengelola perbedaan.

“Pemecatan seorang mahasiswa dapat membuat kegemparan nasional, seperti halnya seorang yang ditendang gerobaknya di Mesir, sehingga memicu Arab spring,” ungkapnya.

Lanjut Rocky, Rektor harus independen dalam mengambil kebijakan, karena merupakan ranah mimbar akademik tanpa intervensi dari polisi atau dari manapun.

“Terangkan pada polisi agar tidak masuk kampus kecuali ada maling. Dunia ini dapat merubah semua pembangunan dengan daya saing antar daerah atau negara, tetapi yang tidak bisa di ubah oleh dunia adalah ambisi politik. Kebebasan imajinasi dapat membuat manusia tumbuh dengan cerdas,” tambah Rocky.

Pada saat seminar berlangsung terjadi pembentangan spanduk dan pamflet yang bertuliskan, Rektor Unkhair harus segera mencabut surat keputusan drop out nomor 1860/UN 44/KP/2019 dan mengebalikan fungsi kampus sebagai ruang untuk kebebasan berpendapat dan berfikir. Saya korban DO sepihak. Tolak polisi masuk kampus. (Aripin/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya