Tanpa Sentuhan Pemda, Kopi Mamasa Usaha Poky Tembus Pasar Nasional dan Wakili Sulbar Ikuti Pameran Kemendag

06 January 2020 14:47
Tanpa Sentuhan Pemda, Kopi Mamasa Usaha Poky Tembus Pasar Nasional dan Wakili Sulbar Ikuti Pameran Kemendag
Poky Bombong dengan usaha kopi Mamasa ikuti pameran mewakili Sulbar yang dilaksanakan Kemendag RI di Jakarta. (Andi Waris Tala/Trans89.com)

MAMASA, TRANS89.COM – Di awali dengan diskusi kecil dengan Lonard B Lotong di Bali untuk melahirkan ide kopi Mamasa agar bertambah dikenal luas masyarakat Indonesia.

Diskusi kecil itu muncul saat sedang menggagas rencana perayaan Natal anak Mamasa di Bali dibawah komunitas Kerukunan Keluarga Mamasa Bali (KKMB) pada tanggal 13 Desember 2010 silam.

Setelah perayaan Natal usai, diskusi KKMB berlanjut, kendati hanya berlangsung singkat, kesepakatanpun muncul untuk memperkenalkan Mamasa melalui kreasi membuka usaha kopi kecil-kecilan.

Hal itu diungkapkan pengusaha kopi Mamasa Poky Bombong mengatakan, kami bersama Leonard membuka usaha kecil-kecilan komi Mamas.

“Saya membukan usaha kedai kopi Mamasa, sedangkan Leonard memilih membuka usaha tenunan kain khas Mamasa,” kata Poky di Mamasa, Senin (6/1/2020).

Menurutnya, usaha kopi Mamasa yang kami dibuka berjalan degan baik, dan hingga saat itu Pemda Mamasa berniat mengikuti kegiatan pameran KTT di Bali, dimana dikegiatan pameran tersebut, stan Pemda Mamasa tertutup dengan alasan tidak ada barang yang bisa di pamerkan.

“Di kesempatan pameran KTT itulah kami manfaatkan untuk mengisi stan Pemda Mamasa dengan memperkenalkan kopi Mamasa kepada pengunjung, walau tidak ada perhatian dari Pemda Mamasa saat itu, akhirnya kami menggunakan dana pribadi untuk mencetak banner,” tutur Poky.

Ia menceritakan, di banner atau spanduk itu kami pasang gambar bupati (Ramlan) dan wakil bupati (almrhum Victor).

“Dari hasil di pameran itu, Pemda menganggap bahwa usaha kopi Mamasa berpeluang, maka Bupati Mamasa Ramlan mengajak saya untuk pulang ke Mamasa dengan iming-iming akan diberi bantuan usaha melalui Pemda. Rupanya kegiatan pameran di Bali saya kecolongan, sebab pemikiran saya, pameran KTT yang diikuti Pemda Mamasa tidak menyediakan anggaran, ternyata anggaran untuk kegiatan KTT cukup lumayan,” cerita Poky.

Dirinya mengungkapkan, ajakan Bupati untuk kembali ke Mamasa mengembangkan kopi Mamasa rupanya belum direspon saat itu, namun kami terus menjalankan usaha kopi Mamasa di Bali dan tetap bertahan di Pulau Dewata hingga kini.

“Persaingan usaha di Bali membuat saya hampir putus asa dan menyerah dengan banyaknya suara sumbang mengatakan mana mungkin ada kopi asli Mamasa bisa bersaing untuk diproduksi di Bali. Bahkan Sekelompok orang melempar tudingan pedas ke saya, bahwa usaha kopi Mamasa di Bali itu palsu,” ungkap Poky.

Poky menyebutkan, persaingan usaha makin kencang, kamipun tak cukup modal untuk bersaing di Bali. Akhirnya berbekal peralatan serba terbatas, dirinya memutuskan untuk pulang kampung ke Mamasa.

“Sekitar 3 tahun saya di Mamasa mulai tahun 2016-2020, kopi usaha saya mulai dikenal oleh masyarakat lokal Mamasa maupun masyarakat penikmat kopi luar Mamasa,” sebutnya.

Poky pulang kampung ke Mamasa untuk membuka usaha kopi tanpa memiliki modal dalam bentuk rupiah dan hanya bermodalkan alat sederhana berupa mesin penggiling serta alat sangrai kopi yang terbatas.

“Dengan keterbatasan peralatan ini saya memberanikan diri meminjam uang sebesar Rp500.000 kepada paman Jun. Selain meminjam uang, saya juga dibantu numpang di kios berukuran 3×5 meter tepat didepan kantor Bupati Mamasa milik Arnold Baltazar,” ujar Poky.

Awal membuka usaha kopi ini langsung di minati Polres Mamasa, melalui Bendahara Polres, kopi produksi kami di order sebanyak 1.000 bungkus dengan kemasan Rp20.000/bungkus atau senilai Rp20.000.000. Orderan kopi Polres tersebut dibawah ke Mamuju untuk dijadikan oleh-oleh kepada para tamu dalam rangka peresmian kantor Polda Sulbar dua tahun lalu.

“Setelah orderan Polres sebanyak 1.000 bungkus terlayani, berselang beberpa waktu kemudian, saya dapat kabar dari Akbar Adjo bahwa usaha kopi kami diundang oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI untuk mewakili Mamasa dan Pemprov Sulbar di pameran komoditi andalan kopi di Jakarta,” kata Poky.

Sebelum dirinya berangkat ikuti pameran, dirinya menghadap ke Bupati, Wakil Bupati, Kadis dan Ketua DPRD Mamasa, namun tidak satupun pejabat daerah yang merespon hal ini, namun pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar bersedia membantu dirinya untuk berangkat mengikuti kegiatan pameran yang dilaksanakan oleh Kementerian di Jakarta.

“Dari Kegiatan itu, saya mendapatkan 2 penghargaan sekaligus dari Kemendag RI, lagi-lagi bagi Pemda Mamasa itu bisa-biasa saja. Bahkan waktu saya mau minta rekomendasi untuk urus pinjaman dana bergulir di LPDB Lembaga Pengelola Dana Bergulir Jakarta, namun saya tidak diberikan rekomendasi oleh Pemda Mamasa,” ungkap Poky.

Poky menyampaikan, kalau usaha kopinya saat ini sudah berkembang pesat, pesanan kopi bubuk berbagai jenis kopi andalan Mamasa seperti robusta dan arabica sudah dipesan dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bali, Bandung, Yogyakarta dan dari berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Lanjut Poky, bahkan kopi produksi kami juga saat ini menjadi oleh-oleh khas Mamasa setiap ada tamu daerah ke Mamasa.

“Usaha kopi ini, kami mempekerjakan 6 orang karyawan tetap dan 150 karyawan tukang sortir kopi yang di gaji bulanan. Bukan hanya itu, usaha kopi saya ini juga aktif lakukan pembinaan 200 kelompok tani yang tersebar di kecamatan se-Kabupaten Mamasa seperti kelompok tani di Kecamatan Nosu, Sepang, Messawa dan Rantebulahan Timur,” demikian Poky. (AWT/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya