Tabligh Akbar Peringati Maulid Nabi di Masjid Jami Al Falah Jakarta

05 January 2020 01:08
Tabligh Akbar Peringati Maulid Nabi di Masjid Jami Al Falah Jakarta
Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Jami Al Falah, Jalan Palmerah Timur, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Bagus Prasetyo/Trans89.com)
.

JAKARTA, TRANS89.COM – Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dihadiri sekitar 300 orang jamaah dan selaku panitia pelaksana KH Ahmad Fikri Amin di Masjid Jami Al Falah, Jalan Palmerah Timur, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (4/1/2020).

Hadir digiat tersebut, Habib Ali Bin Sahil, KH Maulana Kamal Yusuf dan KH Syafii Mustofa.

Acara diawali dengan yasinan, tahmid, tahlil dan shalawatan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, lalu pembacaan ayat suci Alquran oleh Ustadz Choirul Chodri.

Sambutan Ketua Panitia, KH Ahmad Fikri Amin mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan, dan Alhamdulillah kami pengurus Masjid mengucapkan terimakasih atas kehadiran bapak ibu sekalian, dan kepada para Habaib yang Insya Allah akan memberikan tausiahnya.

“Kami ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan panitia yang sudah mempersiapkan acara ini. Mudah mudahan kehadiran kita disini menambah kecintaan kita kepad Baginda Rasulullah Muhammad SAW,” kata KH Ahmad.

Tausyiah KH Syafii Mustofa menuturkan, dirinya sebenarnya hanya disuruh datang, tapi sekarang ini disuruh bicara, ini namanya menjebak.

“Kita datang di Masjid ini dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad, proklamator kebajikan di dunia ini. Apabila kita berkumpul ketika disebut nama Nabi, maka kita wajib menjawab atau menyambut agar kita mendapatkan safaatnya,” tutur KH Syafii.

Selanjutnya Tausyiah KH Fachrudin Al Batani menyampaikan, seorang sufi besar dari Mesir menyatakan, Nabi Muhammad ini beda dengan manusia biasa seperti Akhlakulkarimah, disini ada perbedaan antara insan.

“Kalau dikasih nikmat besar oleh Allah jauh dari Allah, tapi kalau lagi susah dan ada problem, maka Nabi hadir didunia ini sebagai Nur (cahaya). Si Insan mendapat Nur, maka dia akan naik kelasnya,” papar KH Fachruddin.

Ia menjelaskan, manusia dibimbing dan diatur oleh Nabi bagiimana Si Insan ini kudu naik kelas dibawah insan namanya mahluk, Rasul mendidik kita dari isnan supaya naik kelas, ini menunjukkan ada kekuatan besar kepada kita semuanya, ada pembimbing, ada ustadz supaya bisa diatur, supaya mengerti bisa berterimakasih kepada yang menciptakan kita yaitu Allah SWT.

“Maka kita, kita nurut kepda Allah. Dari insan harus naik kelas kepada basyar. Bagaimana kita berterimakasih kepada Allah. Setapak demi setapak kita ikuti ajaran Nabi Muhammad SAW,” jelas KH Fachruddin.

Kemudian Tausyiah Habib Muhammad Hanif Bin Abdurraman Al Athas mengucapkan terimakasih kepada panitia sehingga dapat terselenggaranya kegiatan dengan baik, semoga diberikan kemudahan dalam segala hal dan dilapangkan rejekinya.

“Kita kumpul dalam merayakan Maulid Nabi, tujuan adalah untuk mengagungkan syiar Allah yang kita rayakan ini bukan sosok biasa, tapi sosok yang luar biasa. Andaikan kita kumpulkan ranting-ranting tidak akan cukup dengan kemulian Rasulullah. Enggak ada ceritanya wali yang kurang ajar kepada Nabi, enggak ada orang soleh yang kurang ajar kepada Nabi. Kalau kita baca halal haram, tetapi kenapa Imam Malik tidak mau membaca hadis Nabi kalau tidak dalam keadaan suci, karena saking taklimnya kepada Rasulullah,” ucap Habib Muhammad.

Dirinya menyebutkan, adab ahlak kita kepada Rasulullah, KH Hasyim Ashari ulama Indonesia mengarang kitab maulid suci tapi dikotori dengan kemungkaran, campur aduk duduknya laki laki dan perempuan, siangnya maulid malamnya ngundang dangdut, ibarat wudhu dengan air kencing pingin suci malah najis, bukan dapat pahala malah dosa, ada sepuluh peringatan.

“Saya baca satu peringatan keras dan tegasnya lebih dari FPI. KH Hasyim tidak boleh melihat kemungkaran. Yang menyebabkan umat ini hancur karena hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Nabi Muhammad sudah mengingatkan kepada kita semua, kalau hukum sudah tajam keatas tapi tumpul kebawah. Seandainya putri saya mencuri, saya tidak akan tebang pilih, saya akan potong tangannya. KH Hasyim Asari patut dan seharusnya mengikuti adab kepada Nabi,” sebut Habib Muhammad.

Ia juga heran ada yang menghina Nabi tapi dibela habis-habisan, Nabi dihina kita harus bela segala-galanya, organisasi, jabatan, institusi tidak bakalan ketemu kalau kita tidak membela Nabi, fanatik buta kita harus kepada Nabi Muhammad dan Allah.

“Makanya jangan fanatik kepada organisasi. Bagaimana musibah tidak datang, tapi sekarang sudah terang-terangan ada hadroh di gereja, adzan di gereja. Toleransi itu bukan begitu caranya. Allah kasih peringatan tapi tidak sadar. Rasulullah sudah memperingatkan kepada kita. Oleh karena itu, mari kita instropeksi diri, tanyakan kepada para aparat, kalau kemungkaran sudah merajalela, maka musibah tidak akan berhenti. Kalau karena itu, mari kita bersatu melawan kemungkaran,” imbuh Habib Muhammad. (Bagus/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya