Martabat Pawai Bendera Tauhid di Surakarta

04 January 2020 00:37
Martabat Pawai Bendera Tauhid di Surakarta
Pawai Bendera Tauhid dalam rangka Syiar Islam Muslimin Jaga Kota Solo star dari barat stadion R Maladi Sriwedari dan finish di Masjid Jami MUI Kompleks Pasar Klitikan Notoharjo, Kota Surakarta, Jateng. (Afriyoga/Trans89.com)

SURAKARTA, TRANS89.COM – Pawai Bendera Tauhid dalam rangka Syiar Islam Muslimin Jaga Kota Solo dari penjajahan Aqidah dan Akhlak yang diselenggarakan oleh elemen Muslim Surakarta yang mengatas namakan Masyarakat Pecinta Bendera Tauhid (Martabat) diikuti sekitar 150 orang peserta dengan koordinator lapangan (Korlap) Ustadz Sarwanto.

Aksi pawai dimulai star dari barat stadion R Maladi Sriwedari Jalan Bhayangkara, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan dan finish di Masjid Jami MUI Kompleks Pasar Klitikan Notoharjo, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (3/1/2020).

Nampak hadir tokoh seperti Ahmad Sigit alias Sigit Gulo Divisi Advokasi dan Kelaskaran DSKS-Konas/Komunitas Nahi Munkar Surakarta, Dimas Arisandi Staff Humas DSKS, Agus Dwi Priyono alias Agus Boneng Komandan Laskar JAS-Kakak kandung Eks Napiter Joko Tri Priyanto alias Joko Jihad, Sulistiyanto Baiti Jannati, Rona Andrianto Divisi Dokumentasi DPP LUIS, Endro Sudarsono Divisi Humas dan Keormasan DSKS-Humas DPP LUIS, Abdul Haris aliad Joni Koordinator FJI Surakarta, Abdul Hamid Sekretaris DPW FPI Sukoharjo, Budi Santoso alias Budi Sorban Anggota JAS Mudiriyah Surakarta, Muh Aminudin Divisi Advokasi dan Kelaskaran DSKS-TARC Soloraya.

Rute yang dilalui, start depan Stadion R Maladi Sriwedari – Jalan Slamet Riyadi – Bundaran Gladak – Jalan Jenderal Sudirman – Balaikota Surakarta – Tugu Pamandengan Titik Nol Kilometer Kota Surakarta – Pasar Gede – Jalan Jenderal Urip Sumohardjo – Simpang Empat Panggung – Jalan Kolonel Sutarto – Simpang Empat Tugu Cembengan Thiong Ting Jebres – Jalan Ir Sutami – Jurug – Jalan Ir Juanda – Simpang Empat Jagalan – Jalan RE Martadinata – Simpang Empat Ketandan – Jalan Kapten Mulyadi – Simpang Empat Baturono – Jalan Kyai Mojo – Jalan Sungai Serang I – Finish Masjid MUI Surakarta kompleks Pasar Klitikan Notoharjo Kota Surakarta.

Selama perjalanan tidak ada orasi, hanya memutar lagu ‘wahai para pejuang agama bangkitlah, Singa-singa Allah, bangunlah, musuh sudah di depan mata lawanlah, kejayaan menanti kita, satukan hati satukan jiwa, kibarkan panji-panji Allah, maju ayo habisi pengkhianat bangsa, wahai para pembela Rasulullah, berjuanglah tanpa lelah walau harus melangkah dengan harta dan bergelimpangan darah, pantang mundur walau satu langkah, untuk agama dan bangsa kita kematian murah harganya dan meneriakkan yel-yel hbisi PKI jangan kasih tempat”

Orasi Ahmad Sigit alias Sigit Gulo mengucapkan syukur Alhamdulillah pada siang hari ini kita bersama-sama masyarakat pecinta Bendera Tauhid mengingatkan masyarakat Solo agar jangan sampai kemaksiatan merajalela.

“Kota ini (Solo) adalah kota kita, jangan sampai diselewengkan menjadi kota Komunis, atheis dan liberal. Maka umat Islam harus tampil untuk memulihkan ini semua, sehingga siang ini Martabat kembali pawai untuk menjaga aqidah Kota Solo, agar jangan diselewengkan menjadi kota atheis, komunis dan liberal dan tidak nyaman bagi anak cucu kita,” ucap Sigit.

Ia menyampaikan, anak cucu kita harus kita jaga, jangan sampai di sekitar kita ada prostitusi, perjudian dan kemaksiatan, maka dari Masjid MUI ini kita suarakan komitmen kita.

“Kita berkomitmen sampai peserta aksi ini menjadi 12 .000 orang, maka siapkah kalian besok Jumat (minggu depan) kita kembali pawai sampai 10.000 atau 12.000 pasukan,” papar Sigit.

Menurutnya, ini adalah kebebasan kita menyuarakan aspirasi dan pemerintah, TNI/Polri wajib menjaga untuk mengamankan aksi ini, kalau mereka tidak siap, maka kita siap mengamankan diri kita sendiri.

“Kita teriakkan bahwa Kota Solo adalah kota yang penuh PKI-nya, penuh premannya, tetapi sekarang banyak tempat pendidikan Alquran (TPQ) dan majelis taklim, bahkan saat ini di Silir ini yang notabene dahulu adalah tempat prostitusi berdiri Masjid besar yang menjadi kebanggaan masyarakat Surakarta yang harus kita syukuri,” tutur Sigit.

Dirinya menjelaskan, tidak boleh ada intervensi asing yang menguasai umat Islam, siang ini kita pawai Bendera Tauhid yang kita cintai, bukan benderanya, tetapi kalimat Tauhid yang harus kita cintai dunia akherat, karena dengan kalimat Tauhid itulah kelak di akhirat kita akan dihadapkan kepada Allah.

“Kalau ada pelaku miras, prostitusi, premanisme menjadi tanggungjawab Muslimin, tidak boleh berdiam diri jika melihat kemaksiatan. Juga menjadi tanggungjawab siapapun, baik itu rakyat atau pejabat, sipil atau TNIl/Polri untuk merubah kemungkaran, maka kita tidak perlu bersembunyi untuk melawan kemungkaran kalau melihat kemungkaran, maka kita datangi dan kita rubah dengan tangan dan lisan kita, itulah komitmen kita,” jelas Sigit.

Sigit juga mengajak untuk Jumat depan akan kembali aksi dengan mengajak saudara dan anak kita untuk menjaga Kota Surakarta agar layak kita tinggali. Syariat Islam tidak bisa digantikan dengan syariat lainnya, Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa menyamainya, itu adalah aqidah yang harus kita pegang erat. Umat Islam tidak perlu diajari toleransi, kita bertetangga dengan non muslim baik-baik saja selama mereka tidak mengganggu akidah dan syariat kita, itu syaratnya.

“Selama itu tidak dilakukan oleh mereka, maka kita haram mengganggu mereka dan kita wajib menjaga mereka. Ini adalah syariat kita. Kalau ada tetangga kita non Muslim yang meminta tolong kepada kita, maka wajib kita tolong, tetapi tolong menolong dalam urusan duniawi, bukan urusan aqidah. Jika umat Islam diberikan kekuasaan maka kaum minoritas akan terlindungi dengan baik, tetapi kita jangan diajari toleransi yang mencampuradukkan agama, ini namanya bukan toleransi, tetapi jadinya murtad dan kafir, maka kita harus menjaga aqidah kita,” ujar Sigit.

Lanjut Sigit, orang yang mau mengatakan ucapan selamat hari raya agama mereka dicap bertoleransi, sebaliknya jika tidak mau mengucapkan selamat hari raya agama lain dicap sebagai intoleran adalah pemahaman yang sesat, bodoh dan tidak waras. Sudah sejak lama kita bertoleransi dan mampu menunjukkan bahwa mayoritas bisa mengayomi minoritas, kalau tidak maka sudah habis minoritas.

“Mulai saat ini kalau ada kemaksiatan terang-terangan maka pegiat AMNM (Amar Makruf Nahi Munkar) harus lebih berani terang-terangan. Kita datangi dan kita tanyai mereka, apakah ada oknum aparat yang membekingi. Sudah saatnya rakyat Indonesia cerdas. Tidak usah diimingi kartu-kartu apapun itu, tetapi kita harus menjaga dan melindungi lingkungan sekitar kita dari kemaksiatan,” tambah Sigit.

Ditempat yang sama, Abdul Hamid menyampaikan, kita bersama-sama kembali mengibarkan Bendera Tauhid, Al Liwa dan Ar Rayah yang merupakan bendera Kebesaran Nabi Muhammad, jangan sampai kita terkecoh dengan framing yang mereka suarakan, jangan sampai ada larangan untuk mengibarkan bendera Tauhid.

“Kita semua umat Islam adalah saudara, Uighur, Suriah, Palestina, Rohingya adalah saudara. Umat Islam tidak dibatasi dengan batas tanah air, tetapi dibatasi dengan aqidah izzul Islam wal muslimin, yaitu yang meng-Esakan Allah dan mengakui Nabi Muhammad sebagai Rasulullah adalah saudara kita, baik itu di Uighur, Suriah, Palestina dan sebagainya,” papar Abdul.

Abdul menyampaikan, dari Surakarta kita gemakan bahwa umat Islam Indonesia peduli terhadap kezoliman yang menzolimi saudara kita, baik itu di Uighur, Suriah ataupun Palestina.

“Kita memberikan masukan kepada pemerintah kita untuk menjaga keadilan dan kedamaian di Indonesia dan seluruh dunia,” papar Abdul.

Aksi ditutup doa bersamadipimpin Ahmad Sigit. (Afriyoga/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya