Pemkab Gayo Lues Peringati Hari Amal Bakti Kemenag

03 January 2020 16:32
Pemkab Gayo Lues Peringati Hari Amal Bakti Kemenag
Upacara Bendera dalam rangka peringati Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag Ke-74 Tahun 2020 dihalaman MTSN 1 Blangkejeren Jalan HM Abidin, Desa Bustanussalam, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Bayu A/Trans89.com)
.

GAYO LUES, TRANS89.COM – Upacara Bendera dalam rangka Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementrian Agama (Kemenag) Ke-74 Tahun 2020 dihalaman Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) 1 Blangkejeren Jalan HM Abidin, Desa Bustanussalam, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Jumat (3/2/2020).

Bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) Wakil Bupati (Wabup) Said Sani dan Kepala Sekolah MTSN Blangkejeren sebagai Komandan Upacara dihadiri sekitar 200 orang peserta upacara, dinataranya Kepala Makamah Syariah Blangkejeren Fakhrurrazi.

Amanat Menteri Agama (Menag) RI dibacakan Wabup Gayo Lues, Said Sani menyampaikan, hari ini kita memperingati tonggak peristiwa penting yang mempunyai arti khusus bagi bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kaidah dan nilai-nilai kehidupan beragama, yaitu HAB Kemenag.

“Peringatan HAB Kemenag merefleksikan rasa syukur kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, dan penghargaan terhadap jasa-jasa para perintis dan pendiri Kemenag. Kita semua bisa berdiri di tempat ini, tidak lepas dari perjuangan dan pengorbanan generasi terdahulu,” papar Said.

Menurutnya, Kemenag dibentuk pada 3 Januari 1946 dengan Menag pertama Mohammad Rasjidi. Kemenag lahir di tengah kancah revolusi fisik bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan. Sebagai bagian dari perangkat bernegara dan berpemerintahan, Kemenag hadir dalam rangka pelaksanaan pasal 29 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“UUD negara kita, pasal 29, menegaskan, negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing serta untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu,” tutur Said.

Ia menjelaskan, ketentuan tersebut mengandung pengertian dan makna dasar Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan fundamen moral yang harus melandasi penyelenggaraan negara, pemerintahan dan pembangunan serta menyinari seluruh ruang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Negara secara aktif melindungi hak dan kewajiban beragama dalam masyarakat serta kemerdekaan beribadat bagi setiap pemeluk agama.

“Dalam negara Pancasila, siapa pun dengan alasan apa pun tidak diperkenankan melakukan propaganda anti-agama, penistaan terhadap ajaran agama dan simbol-simbol keagamaan, menyiarkan agama dengan pemaksaan, ujaran kebencian dan kekerasan terhadap pemeluk agama yang berbeda. Demikian pula segala kebijakan pemerintah tidak boleh bertentangan dengan kaidah agama dan ideologi negara,” jelas Said.

Dirnya menegaskan, agama dan negara saling membutuhkan dan saling mengokohkan untuk kebahagiaan hidup manusia. Sejarah dunia sampai abad 20 hanya mengenal dua teori menyangkut hubungan agama dan negara, yaitu teori integrasi, penyatuan agama dengan negara dan teori sekularisasi, pemisahan agama dengan negara. Para founding fathers negara kita dengan bimbingan Allah Yang Maha Kuasa mengenalkan teori alternatif, yaitu teori akomodasi menyangkut hubungan agama dan negara yang belum dikenal saat itu di negara mana pun.

“Saya perlu menegaskan disini, bahwa penguatan identitas keagamaan dan penguatan identitas kebangsaan tidak boleh dipisahkan apalagi dipertentangkan, tetapi harus dalam satu kotak untuk melahirkan moderasi beragama dan bernegara. Penguatan identitas keagamaan bila dipisahkan dari spirit bernegara dapat melahirkan radikalisme beragama. Sebaliknya, penguatan identitas bernegara bila dipisahkan dari spirit beragama dapat memberi peluang berkembangnya sekularisme dan liberalisme,” tegas Said.

Said menyampaikan, kesalehan beragama dan loyalitas bernegara harus saling mendukung satu sama lain. Kita dapat menjadi umat beragama yang saleh sekaligus menjadi warga negara yang baik.

“Saya ingin mengutip pesan Pahlawan Nasional almarhum Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution yang sangat relevan dengan misi yang dijalankan oleh Kemenag, yakni sebagai negara baru kita tidaklah sekadar ingin mengejar ketertinggalan terhadap negara-negara maju, melainkan sebagai orang beriman kita ingin membangun kehidupan bermartabat spiritual dan material dengan ridha Allah,” paparnya.

Said menyebutkan, sejalan dengan tema HAB Kemenag tahun 2020 ialah umat rukun, Indonesia maju, mengajak seluruh jajaran Kemenag di pusat dan daerah, agar menjadi agen perubahan dalam memperkuat kerukunan antar umat beragama di tanah air. Kerukunan antar umat beragama merupakan modal kita bersama untuk membangun negara dan menjaga integrasi nasional. Kemenag hadir untuk melindungi kepentingan agama dan semua pemeluk agama.

“Untuk itu, seluruh jajaran Kemenag harus bisa mengawal dan mengembangkan peran strategis Kemenag secara kontekstual di tengah masyarakat. Dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya ditegaskan, bngunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Pembangunan jiwa disebut lebih dulu daripada pembangunan raga atau fisik. Tugas utama Kemenag adalah membangun jiwa manusia sebagai landasan terbentuknya mental bernegara yang baik. Meski pembangunan infrastruktur fisik juga dilakukan oleh Kemenag, namun itu dalam rangka menunjang pembangunan jiwa. Kemenag menyelenggarakan dua fungsi strategis, yaitu fungsi agama dan fungsi pendidikan,” sebut Said.

Said menyatakan, selama tujuh dekade perjalanan sejarah Kemenag, banyak perubahan dan kemajuan yang dicapai dalam spektrum tugas yang begitu luas, seperti dalam fungsi bimbingan masyarakat beragama, pelayanan nikah, pembinaan pengelolaan zakat dan wakaf serta dana sosial keagamaan lainnya, penyelenggaraan ibadah haji, pendidikan agama dan keagamaan di semua jenjang, penelitian dan pengembangan serta kediklatan, pembinaan kerukunan antar umat beragama, penyelenggaraan jaminan produk halal serta penguatan tata kelola manajemen dan organisasi sesuai dengan agenda reformasi birokrasi.

“Seiring dengan agenda reformasi birokrasi, restrukturisasi dan penyederhanaan birokrasi, kita semua dituntut untuk terus beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan percepatan pelayanan publik yang mengedepankan prinsip efisiensi, transparansi dan akuntabilitas serta bebas dari KKN. Dalam kesempatan memperingati HAB ke-74 Kemenag, secara khusus mengajak jajaran Kemenag di seluruh Indonesia untuk memperhatikan 6 hal.

“Pahami sejarah Kemenag serta regulasi, tugas dan fungsi kementerian ini dalam konteks relasi agama dan negara. Jaga idealisme, kejujuran, integritas dan budaya kerja Kemenag di tengah arus kehidupan yang serba materialistis, selaraskan antara kata dengan perbuatan, sesuaikan tindakan dengan sumpah jabatan. Tanamkan selalu bahwa bekerja adalah ibadah dan melayani masyarakat adalah sebuah kemuliaan. Perkuat ekosistem pembangunan bidang agama antar sektor dan antar pemangku kepentingan, baik sesama institusi pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan dan segenap elemen masyarakat. Rangkul semua golongan dan potensi umat dalam semangat kebersamaan, kerukunan, persatuan dan moderasi beragama sejalan dengan falsafah Pancasila yang mempersatukan anak bangsa walau berbeda ras, etnik, keyakinan agama dan golongan. Implementasikan visi dan misi pemerintah ke dalam program kerja Kemenag di semua unit kerja pusat, daerah dan Perguruan Tinggi (PT) keagamaan. (Bayu/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya