Tajuddin, Perantau Gesit Sukses di Kawasan Sawit

09 December 2019 15:30
Tajuddin, Perantau Gesit Sukses di Kawasan Sawit
Tajuddin di depan toko miliknya, ditemani Silmi Nathar, CDO PT Suryaraya Lestari. (Muhammad Husni (PIAR Astra Agro Lestari Group)
.

Oleh: Muhammad Husni (PIAR Astra Agro Lestari Group)

Mereka yang ingin sejahtera bisa meniru Tajuddin, perantau asal Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sukses di Desa Bulumario, Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar). Usaha dan perjuangannya tidak sia-sia. Toko bahan bangunan miliknya besar dan ramai dikunjungi banyak pelanggan.

“Awalnya karena ikut-ikut keluarga saja,” kata pria ramah berusia 48 tahun ini singkat ketika bercerita tentang alasannya hijrah pada tahun 2002 ke kawasan perkebunan kelapa sawit. “Kan dulu banyak yang bilang bahwa daerah ini bagus buat usaha,” katanya.

Niat Tajuddin memang satu, hendak berniaga di tempat baru. Ia membeli lahan untuk tempat tinggal, juga kebun untuk ditanami komoditas yang dinilai laku di pasaran. Seperti saudara lainnya, ia menanam jeruk dan menjual hasil panennya ke masyarakat.

Ia mulai merasakan peningkatan kesejahteraan. Usahanya tampak mendatangkan hasil. Tapi, menurutnya, lompatan besar terjadi ketika ia mengaitkan bisnisnya dengan perkebunan kelapa sawit.

Kabupaten Mamuju (awalnya masih bagian Sulawesi Selatan), sejak akhir 90-an memang dikenal sebagai kawasan yang tengah menggeliat. Masa itu ditandai dengan kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit. Salah satunya, grup Astra Agro yang pada 1990an mendirikan PT Suryaraya Lestari di Desa Sarudu, yang saat telah mekar menjadi beberapa desa termasuk desa tempat tinggal Tajuddin.

Melihat banyak peluang keuntungan yang lebih menggiurkan, tahun 2006 ia dengan gesit mulai mengganti jenis tanaman. Ia beralih menanam kelapa sawit, tanaman yang juga ditanam tetangga-tetangganya sesama petani. “Perawatannya mudah,” kata Tajuddin.

Lebih dari sekadar mudah, menurut pria lulusan sekolah dasar ini, ketertarikannya dengan kelapa sawit juga dipicu tawaran dan program Income Generating Activity (IGA) dari PT Suryaraya Lestari yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Perusahaan memberi pinjaman bibit, pelatihan dan dukungan agar para petani berhasil,” ujar Silmi Nathar, Community Development Officer (CDO) PT Suryaraya Lestari.

Saat panen, keberhasilan yang dirasakan teman-temannya ia alami juga. Tajuddin banyak mereguk untung.

Untung itu tak langsung membuatnya foya-foya. Jiwa bisnisnya menuntun ia memutar kembali keuntungan-keuntungan itu menjadi modal usaha. Misalnya, dengan membeli lahan sehingga luasan yang ia miliki terus bertambah. Tahun 2019 ini misalnya, luasan kebun sawit miliknya tak kurang dari 5 hektar.

Usahanya makin bersinar karena ia terus melihat potensi besar dari kelapa sawit. Setelah menjadi petani, ia membuka peluang lagi dengan perusahaan. Tajuddin mengajukan pinjaman ke Lembaga Keuangan Mikro Mitra Surya Sejahtera (LKM-MSS) yang didirikan PT Suryaraya Lestari. Lembaga ini dirancang agar masyarakat semakin terbantu dari sisi finansial.

“Saya mendaftar jadi anggota LKM dan pinjam uang untuk usaha ini,” ujar Tajuddin sambil menunjuk tokonya yang penuh berisi dagangan berupa bahan bangunan seperti besi-besi, kaca, kayu, dan lain-lain.

Tak cuma itu, yang menurutnya sangat laku adalah barang-barang yang dibutuhkan petani sawit untuk merawat dan melancarkan operasional kebun mereka, seperti obat anti hama, mesin pompa penyemprot, mesin pemotong rumput, alat-alat panen, dan sebagainya.

“Alhamdulillah, karena berkebun sawit tidak terlalu susah, bisa banyak waktu juga untuk jaga toko,” ujar pria yang sudah dikarunia 3 anak dan tengah menanti tahun keberangkatan pergi haji ke tanah suci ini. (*)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya