Kunker Mentan di Sulbar, SYL Apresiasi Ekspor Turunan Kelapa Sawit

08 December 2019 23:09
Kunker Mentan di Sulbar, SYL Apresiasi Ekspor Turunan Kelapa Sawit
Mentan RI, Syahrul Yasin Limpo bersama Plant Manager PT TSL Eka Prasetyawan saat kunker di Mamuju, Sulbar. (Muhammad Tahir Pilo/Trans89.com)
.

MAMUJU, TRANS89.COM – Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo mengajak semua pihak untuk bekerja sama yang bertujuan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat (Sulbar) dapat mengekspor berbagai produk termasuk komoditas pertanian secara langgsung.

“Dengan cara ini, maka pemerintah daerah dan masyarakat dapat menerima keuntungan yang lebih besar,” kata pria yang akrab disapa SYL disela-sela kunjungan kerjanya (kunker) di Mamuju, Sulbar, Sabtu kemarin (7/12/2019).

Dirinya mengucapkan terimakasih karena sudah diundang untuk hadir pada acara pelepasan ekspor di Sulbar dan bangga dengan petani, pelaku usaha agribisnis dan dinas terkait semua yang telah mampu ekspor.

“Ini membuktikan pesan Bapak Presiden untuk ekspor dan investasi telah sampai. Kita kawal dan tingkatkan terus,” ucap SY saat melepas ekspor produk turunan sawit (RBD Palm Olein) dan pisang kepok masing-masing untuk tujuan Cina dan Malaysia di halaman SMK Kakao Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju.

Ia menjelaskan, berdasarkan data dari sistem automasi perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerja Karantina Pertanian Mamuju, komoditas unggulan ekspor dari Sulbar sendiri berasal dari Kabupaten Pasangkayu, Mamuju Tengah (Mateng) dan Mamuju yang didominasi turunan olahan sawit berupa RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin dan Palm Kernel Oil dengan tujuan ekspornya ke Cina dan Jepang.

“Dari data lalu lintas yang ada, Provinsi Sulbar sendiri memiliki beberapa potensi komoditas unggulan lain. Hal itu sangat disayangkan, karena selama ini hanya dilalu lintaskan ke daerah lain yang kemudian untuk diekspor kembali,” jelas SYL.

SYL juga mengajak agar kita bersyukur. Sebab komoditas pisang kepok dari petani di Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mateng juga ternyata memiliki potensi yang besar, meskipun saat ini ekspornya masih melalui pelabuhan lain.

“Ekspor sawit yang pernah mengalami kelesuan selama dua tahun karena diterpa isu negatif juga menjadi pembelajaran bersama. Agar giat peningkatan ekspor produk pertanian tersebut bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun harus dikerjakan bersama,” ajaknya.

Mentan menyebutkan, dibandingkan tahun 2018, ekspor produk turunan sawit dari Sulbar telah meningkat tajam yaitu menjadi 17,8 ton dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 24 ribu ton.

“Melepas ekspor produk turunan sawit sebanyak 12 ribu ton atau senilai Rp97,8 miliar,” sebut SYL.

Sementara Plant Manager PT Tanjung Sarana Lestari (TSL) yang merupakan anak perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk Group Area Celebes 1 (C1), Eka Prasetyawan mengungkapkan hal yang sama, ekspor produk turunan sawit dari Sulbar telah meningkat tajam yaitu menjadi 17,8 ton dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 24 ribu ton, melepas ekspor produk turunan sawit sebanyak 12 ribu ton, atau senilai Rp97,8 milyar.

“Minyak kelapa sawit biji kelapa sawit Crude kernel Oil dan Crude Palm Oil (CPO) yang berasal dari kelapa sawit. Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi menghasilkan,” ungkapnya.

Lanjut Eka, minyak kelapa sawit CPO merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia.

“Dengan usaha-usaha yang dilakukan, baik pemerintah maupun perusahaan swasta yang melakukan ekstensifikasi dan pengembangan pertanian serta pemanfaatan teknologi dalam proses pembibitan dan pengolahan sawit sehingga Indonesia menjadi negara penghasil CPO,” imbuh Eka. (Pilo/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya