Mahasiswa Mesin UKIP Makassar Minta Pihak Kampus Tidak Diskriminasi, Ini Jawaban Rektor

02 December 2019 23:35
Mahasiswa Mesin UKIP Makassar Minta Pihak Kampus Tidak Diskriminasi, Ini Jawaban Rektor
HMM UKIP Makassar unjuk rasa terkait kepemimpinan yang diduga otoriter yang dilakukan oleh Rektor UKIP, berlangsung di pelataran Kampus UKIP, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 13, Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulsel. (Slamet Untung Imam Santoso/Trans89.com)

MAKASSAR, TRANS89.COM – Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar lakukan unjuk rasa terkait kepemimpinan yang diduga otoriter yang dilakukan oleh Rektor UKIP.

Aksi HMM UKIP Makassar diikuti sekitar 100 orang peserta aksi dipimpin Anto dan Andri berlangsung di pelataran Kampus UKIP, Jalan Perintis Kemerdekaan Kilometer (Km) 13, Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (2/12/2019).

Massa aksi membentangkan spanduk bertuliskan, stop pengambilan keputusan yang tidak jelas, save gondrong, tolak aturan kampus yang bersifat diskriminatif.

Tuntutan massa aksi, Anto menolak kepemimpinan Rektor yang diduga otoriter dan tolak aturan yang bersifat diskriminatif serta setarakan aturan kampus yang hanya menitikberatkan ke HMM.

“Tolak aturan Rektor Bab 4 Pasal 9 poin 4. Stop pengambilan keputusan tanpa landasan yang jelas serta meminta kejelasan jalur pertanggungjawaban organisasi mahasiswa (Ormawa) tingkat jurusan,” ujar Anto.

Pengunjuk rasa memaksa masuk ke dalam ruang Rektor namun Rektor sementara rapat dan dihalangi pihak keamanan kampus sehingga terjadi saling dorong mendorong mengakibatkan pintu kaca pecah.

Tidak lama kemudian, Rektor UKIP Agus Salim menemui massa aksi menyampaikan, aturan akan kami tegakkan, tidak ada aturan yang diskriminasi selama dirinya jadi Rektor dan tidak ada namanya anak emas atau apapun.

“Saya mulai diri dari Prodi, Wadik 3, kemudian di Bidang Kemahasiswaan akan mengkaji kembali aturan yang menjadi tuntutan terkait diskriminasi. Tidak ada yang mau seenaknya di kampus ini, semua berjalan dengan koridor,” papar Agus.

Ia menjelaskan, dirinya tidak pernah melarang untuk melaksanakan aksi, namun apabilah melanggar aturan atau merusak, maka akan diproses.

“Berkaitan dengan kebebasan berorganisasi, aturan itu sudah lama, jauh sebelum saya diangkat jadi Rektor. Bukan Rektor yang membuat itu aturan, namun sudah dijalankan sesuai koridor yang berjalan,” jelas Agus. (Santoso/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya