Depan Monumen Mandala Kota Makassar, APGTI Tolak OPM Yang Ingin Lepas Dari NKRI

01 December 2019 22:58
Depan Monumen Mandala Kota Makassar, APGTI Tolak OPM Yang Ingin Lepas Dari NKRI
Aksi penolakan OPM yang ingin lepas dari NKRI digelar APGT di Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Sawerigading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulsel. (Bagus Adi P/Trans89.com)

MAKASSAR, TRANS89.COM – Aksi solidaritas panggung kreatif untuk Papua dari Aliansi Penjaga Gerbang Timur Indonesia (APGTI) dengan tema, ‘bersatu di bawah langit NKRI, jangan biarkan Indonesia pecah’, dalam rangka mengantisipasi peringatan Hari ulang tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM) 1 Desember yang menuntut kemerdekaan.

Aksi solidaritas APGTI diikuti sekitar 50 orang peserta aksi dipimpin M Zulkifli di Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Sawerigading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (1/12/2019).

Tokoh dan organisasi yang tergabung dalam APGTI yakni Brigade Muslim Indonesia (BMI), OKK Pemuda Pancasila Sulsel, Satuan Pemuda dan Mahasiswa Pemuda Pancasila, Laskar Merah Putih Kota Makassar, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Sulawesi Selatan, Forum Umat Islam Bersatu, Laskar Pemadam, Brigade Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia, Keluarga Besar Putra-Putri Polri, Patriot Nasional dan Kelompok Penyanyi Jalanan.

Tuntutan APGTI, menolak Papua merdeka dan lepas dari NKRI. Massa membawa spanduk bertuliskan, Indonesia itu indah dan damai, cinta tanah air itu keren, bangga kami sebagai anak bangsa yang rukun, Allah SWT menciptakan kita bersuku dan berbangsa untuk saling kenal mengenal.

Massa aksi lakukan pemasangan spanduk sepanjang 100 meter bertuliskan, kita bersaudara, kita bersatu, kita Indonesia, dan tandatangan diatas spanduk sebagai dukungan nasionalisme, NKRI harga mati, damailah Indonesia.

Memberikan apresiasi dan hadiah bagi pengunjung car free day (CFD) bagi yang hafal Pancasila dan teks Proklamasi serta menandatangani spanduk dukungan nasionalisme.

Orasi M Zulkifli mengatakan, hari ini kita berkampanye untuk menciptakan dan menumbuhkan jiwa-jiwa nasionalisme dan marilah kita saling mengenal sebangsa, setanah air untuk menciptakan bangsa Indonesia yang damai dan indah.

“Jangan biarkan bangsa Indonesia pecah dan di caplok oleh bangsa lain. Kita ciptakan kedamaian di Indonesia dengan saling menghormati dan menghargai. Disini di depan Monumen Mandala adalah bukti saat Irian atau Papua dibebaskan dari penjajahan oleh para Pahlawan Indonesia. Kami sebagai masyarakat wajib melestarikan dan menjaga kemerdekaan dari jasa para pahlawan Indonesia,” kata Zulkifli.

Kemudian Maulana Yusdianto menyampaikan, tidak boleh ada lagi perpecahan yang terjadi di Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang harus kita jaga bersama, agar anak cucu kita dapat merasakan bangsa Indonesia yang indah, Indonesia yang besar dan beraneka ragam.

“Kita harus menumbuhkan jiwa-jiwa cinta tanah air dan nasionalisme yang merupakan hal yang penting untuk melindungi Indonesia dari yang tidak baik dan jangan menggunakan politik gaduh yang menyebabkan perpecahan,” papar Maulana.

Selanjutnya Fadli menjelaskan, ini adalah gerakan untuk menyatukan suara-suara persatuan yang akan menggema di seluruh tanah air dan bisa dilanjutkan di seluruh provinsi di Indonesia, dan kami mengajak seluruh masyarakat Kota Makassar untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Ada pihak yang ingin merusak persatuan dan kesatuan Republik Indonesia (RI) dan hanya ada satu kata, lawan. Sejarah telah mencatat, bahwa pemuda dan mahasiswa selalu membuktikan eksistensinya di permukaan untuk menentukan arah bangsa Indonesia demi kerusuhan bangsa dan negara,” jelas Fadli.

Berikutnya Abdul Samad menyebutkan, demi menjaga persatuan bangsa Indonesia, kami rela berkorban harta bahkan nyawa. Sudah banyak pihak asing yang ingin memecah belah bangsa Indonesia, kepentingan asing tidak lepas dari OPM, mereka ingin Papua lepas dari NKRI dan mengeruk kekayaan Indonesia.

“Sudah cukup rakyat Indonesia yang menjadi korban OPM. Saya menantang Egianus Kogoya pimpinan OPM, tidak satu bahkan sepuluh Egianus Kogoya saya siap Lawan, akan saya persembahkan nyawa dan darah saya demi NKRI,” sebut Samad.

APGTI juga melaksanakan lomba akustik lagu nasional, lakukan pemasangan Bendera Merah putih raksasa berukuran 5X7 meter dengan tiang bambu setinggi 10 meter. (Adi/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya